Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Palestina Kian Merana, Penguasa Menutup Mata

Wednesday, November 06, 2024 | Wednesday, November 06, 2024 WIB

Oleh Arini Faiza

Pegiat Literasi

Invasi Zionis ke Palestina kian brutal, pada Sabtu, 19 Oktober malam, serangan udara Israel di Beit Lahia, Gaza Utara mengakibatkan 87 orang syahid dan sejumlah besar luka-luka dan masih tertimbun reruntuhan. Keesokan harinya pada Minggu 20/10/2024, penjajah juga memborbardir kamp pengungsi Jabalia dan Maghazi, menyebabkan 44 orang meninggal dunia dan lebih dari 80 lainnya terluka.

Penjajah telah menginvasi Gaza Utara secara terus menerus sejak 6 Oktober 2024 yang mengakibatkan 600 orang syahid dan puluhan ribu mengungsi. Israel beralasan bahwa serangan ini dilakukan untuk mencegah pejuang Hamas kembali berkumpul. Wilayah tersebut mengalami kerusakan parah akibat perang dan telah dikepung oleh Zionis. Korban meninggal dunia sejak 7 Oktober 2023 mencapai 42.603 orang, 99.795 luka-luka dan lebih dari seribu orang syahid terkubur di reruntuhan bangunan. Sementara, warga yang masih hidup menghadapi ancaman keamanan dan kelaparan di pengungsian. (tempo.co, 21/10/2024)

Di tengah kehancuran wilayah Gaza yang kian parah, dunia hanya diam, PBB pun tidak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa mendesak Israel untuk mengikuti perintah pengadilan tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa agar menghentikan genosida. Bahkan negara-negara Arab dan umat muslim lainnya pun bungkam. Hal ini menjadikan Zionis semakin besar kepala dan terus-menerus melakukan pembantaian terhadap warga Palestina. Akibat sekat nasionalisme para penguasa muslim telah buta, tuli dan bisu sehingga tidak mampu berbuat banyak untuk menolong anak-anak Gaza yang terluka, kelaparan, dan kehilangan keluarganya.

Nasionalisme tidak hanya menjangkiti para pemimpin namun juga mengubah persepsi, standar dan ketundukan umat Islam, sehingga sebagian dari mereka tidak peduli terhadap penderitaan yang dialami saudara sesama muslim. Ketidakpedulian ini nampak dari digelarnya konser musik Tamer Hosny yang diselenggarakan beberapa waktu lalu di Alexandria, Mesir yang dihadiri ratusan ribu muslim, padahal tak jauh dari tempat itu ada warga Palestina yang yang meregang nyawa karena kebrutalan Zionis.

Selain Nasionalisme, kenyataan bahwa para pemimpin di negeri-negeri muslim tersandera oleh berbagai kepentingan barat, juga menjadi penyebab kebungkaman mereka. Barat telah membantu kekuasaan mereka sekaligus berhasil menancapkan hegemoninya sehingga umat Islam terpecah belah. Kecintaan terhadap kekuasaan membuat penguasa itu seolah mati rasa terhadap penderitaan rakyat Palestina.

Sejatinya, nasionalisme sangat bertentangan dengan Islam. Oleh karenanya umat harus mampu melepaskan diri dari ide ini, dan mulai memandang bahwa problem Palestina merupakan persoalan bersama seluruh kaum muslimin. Karenanya, menggantungkan harapan pembebasan Palestina pada para penguasa bak jauh panggang dari api sebab pembelaan mereka hanya sebatas retorika berupa kecaman tanpa disertai aksi nyata seperti pengiriman pasukan. Bahkan sampai saat ini mereka juga tidak mampu memboikot hubungan dagang dengan Zionis. Begitu juga dengan organisasi negara muslim, seperti OKI dan Liga arab yang juga tidak mampu menyeru dunia Islam untuk melakukan jihad.

Sejatinya solusi tercepat untuk menyelesaikan krisis Palestina adalah dengan cara mengirimkan bantuan pasukan oleh penguasa negeri-negeri muslim yang terdekat untuk mengusir zionis penjajah dan merebut kembali wilayah milik kaum muslimin tersebut. Hanya saja sekat nasionalisme dan perjanjian internasional menjadi penghalang.

Maka, tidak ada cara lain untuk membebaskan rakyat Palestina dan negeri-negeri muslim lainnya dari penjajahan kecuali dengan solusi Islam. Umat Islam sebenarnya tidak membutuhkan lembaga-lembaga internasional, karena lembaga tersebut dibentuk bukan untuk kepentingan umat Islam. Permasalahan Palestina bukan hanya problem lokal, tetapi menjadi urusan umat Islam sedunia karena kaum muslimin itu bersaudara. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam hal mencintai, menyayangi, dan mengasihi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Maka tinggal satu harapan, yaitu terlaksananya jihad di bawah satu komando kepemimpinan Islam. Namun, tegaknya institusi ini bukanlah hadiah dari Allah, tetapi harus diperjuangkan. Oleh karenanya, keberadaan kelompok dakwah yang berideologi Islam yang berperan besar dalam mencerdaskan umat sehingga terbentuk kesadaran dan opini umum di tengah mereka, mutlak diperlukan. Kekuatan pemikiran akan mampu mengantarkan negara untuk mewujudkan kehidupan yang Islami ketika telah meresap ke dalam hati sanubari, merasuk ke dalam jiwa, dan menyatu dengan tubuh kaum muslim.

Maka sudah saatnya umat menyadari, urgensi berdirinya pemerintahan yang menerapkan aturan Islam secara sempurna, yang akan mampu menegakkan keadilan dan memberantas penjajahan terhadap kaum muslim. Sebab, menggantungkan harapan terkait pembebasan Palestina pada para pemimpin negeri-negeri Islam yang mengadopsi demokrasi saat ini bagaikan mimpi di siang bolong.

Wallahu ‘alam bi ash shawab.

 

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update