Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Selamatkan Generasi Indonesia dari Tindakan Kriminal

Friday, October 25, 2024 | Friday, October 25, 2024 WIB

Oleh Ria Utami (Ummu Ikhram)

Komunitas Ibu Peduli Generasi

 

Indonesia negeri mayoritas muslim, yang secara umum sebagai bangsa yang beragama bukan bangsa ateis. Ikon religion state tersemat sejak negeri ini ada. Maka negeri dengan nilai-nilai agama yang melekat, tidak boleh dirusak oleh ideologi yang lain. Yang katanya anti Pancasila, bukan berarti dia itu anti agama. Justru sebaliknya, kerusakan yang terjadi pada generasi datang dari ideologi yang anti agama adalah kapitalis sekuler dan komunis yang ateis.

Sebagai bangsa yang beragama, lantas mengapa masih banyak terjadi tindak kriminal?

Menurut data Dirjen pemasyarakatan Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia, menunjukkan peningkatan kejahatan anak mulai dari 2020 hingga 2023 tercatat 2000 anak berkonflik dengan Hukum per Agustus 2023.sejumlah 1,467 anak di antaranya berstatus tahanan dan 526 menjadi narapidana (kompas.com 19/9/2024)

Sebuah data yang sangat memprihatinkan, karena bertolak belakang dengan ikon bangsa ini. Mirisnya, jumlah data bisa saja berbeda dilapangan, sebab akhir-akhir ini tindak kriminal yang dilakukan remaja/pelajar seperti, terlibat pembunuhan, pemerkosaan, pencurian sudah banyak terjadi di seantero jagat raya.

Meningkatnya tindak kriminal, yang secara khusus menimpa remaja dan pelajar. Karena adanya penerapan sistem pendidikan sekuler di negeri ini. Sebuah pembuktian nyata, telah gagal melahirkan generasi yang beriman dan bertakwa. Serta gagal total dalam menjalankan misi mencerdaskan bangsa dan mewujudkan generasi yang beradab.

Sistem sekuler yang memisahkan agama dari negara menjadi sebab atas kerusakan ini. Agama hanya sebatas ritual ibadah saja. Sedangkan syariat-Nya tidak mau digunakan untuk mengatur tata kehidupan yang lebih luas. Termasuk didalamnya yang berhubungan dengan aspek pendidikan. Sistem ini mengabaikan fungsi agama yang mengakibatkan pelajar dan remaja dijauhkan dari fitrah nya.

Hidup senang, bebas tanpa aturan, semua dikemas dengan satu istilah yaitu lifestyle yang menjadi kiblatnya pemuda saat ini. Inilah budaya Barat yang mempengaruhi cara pandang pemuda malas berpikiran pendek, emosional, dan pemuda sad boy. Pemuda yang memiliki pemikiran emosional tidak mampu berpikir positif, jalan instant yang ditempuh menjadi solusi setiap masalah yang menimpanya. Penampakan pemuda seperti ini, jika perasaannya tersinggung, dibalas dengan adu kekuatan secara keroyokan.

Kurikulum merdeka belajar mengakibatkan, seorang pelajar anak remaja tidak bisa melihat potensi yang mereka miliki. Menjauhkan dari fitrahnya sebagai pemegang tonggak peradaban. Benar sekali sabda Rasulullah Saw. yang artinya. “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanya lah yang menjadikan dirinya Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR Al Bukhari dan Muslim). Orangtua bukan berarti mereka yang harus disalahkan, tetapi peran negara dan sistemnya yang menjadi sumber dari segala kerusakan pada generasi saat ini.

Dalam hadits ini mengajarkan bahwa, setiap manusia sejak kelahirannya memiliki kecenderungan pada agama yang sahih. Akan tetapi di dalam sistem sekuler lingkungannya, rumahnya, sekolah, maupun masyarakatnya telah mematikan fitrahnya sebagai manusia. Dalam sistem pendidikan sekuler, menihilkan peran agama, sehingga mengabaikan kehidupan ukhrawi, mengabaikan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan. Alhasil, menjadi malapetaka bagi remaja dan pelajar karena sangat rentan menjadi generasi yang amoral dan kriminal.

Berbeda dengan sistem pendidikan Islam, yang bertujuan untuk membentuk kepribadian islami. Remaja dan pelajar memiliki dua karakter utama yakni, pola sikap islami dan pola pikir Islam. Dengan tetap memperhatikan ilmu pengetahuan umum (sains) seperti Rasulullah saw. Pernah mengizinkan dua orang sahabat, beliau pergi ke Yaman untuk mempelajari teknik membuat senjata yang disebut dabbabah.

Rasulullah saw., menganjurkan kepada para wanita untuk belajar ilmu tenun, menulis, dan merawat orang sakit. Begitu juga para orang tua diperintahkan agar mengajarkan anak-anak nya untuk memanah, berenang, dan menunggang kuda. Indahnya sistem pendidikan Islam yang dipelopori oleh Rasulullah saw., saat itu. Estafet kepemimpinan Beliau, kokoh selama 13 abad lamanya, sebelum runtuh pada tahun 1924. Generasi emas yang berkualitas, baik dari segi intelektual dan spiritual nya InsyaaAllah akan terjaga.

Sistem pendidikan Islam di dalam negara khilafah akan mengintegrasikan antara ilmu agama (seperti akidah ,fikih, tasawuf/akhlak dll) dengan ilmu dunia seperti sains dan teknologi.tujuannya adalah untuk melahirkan generasi yang cerdas dalam urusan dunia akan tetapi memiliki pemahaman yang mendalam tentang agama dan mampu menerapkan nilai-nilai Islam dalam setiap aspek kehidupan. Maka, selamatkan lah generasi Indonesia dari tindakan kriminal. Sehingga pepatah para ulama akan terealisasi. “Pemuda hari ini, adalah pemimpin di masa yang akan datang.”

Wallahualam bissawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update