Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kriminalitas di Kalangan Pemuda Berulang dan Makin Mengerikan

Wednesday, October 02, 2024 | Wednesday, October 02, 2024 WIB

Oleh; Asti Leka

Mahasiswi UIN Alaudin Makasar

Kriminalitas yang terjadi di kalangan anak muda sekarang makin marak terjadi dan sangat mengerikan. Di Cianjur pada hari Ahad (22/9/2024) sekitar pukul 00.15 WIB di Jalan Raya Cibuntu Desa Cisalak kecamatan Cidaun Kabupaten Cianjur, 15 pemuda kelompok geng motor yang melakukan tawuran hingga membuat resah warga setempat, di Semarang terjadi hal yang sama seorang mahasiswa Udinus yang bernama Tirza Nugroho Hermawan (21) meninggal akibat salah sasaran. Aksi dari semua itu bermula dari saling tantang menantang di sosial media, satu persatu dari mereka telah terpancing emosinya dan di bawah pengaruh alkohol maka terjadilah aksi tawuran tersebut. Banyak anggota kriminalitas tersebut kebanyakan masih di bawah umur.

Tawuran juga terjadi di Jalan Durung, kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Maralen salah satu remaja yang masih di bawah umur ditangkap polisi karena hendak melakukan tawuran, pemuda tersebut membawa barang tajam yakni satu buah celuri, satu parang yang berbentuk gergaji dan dua buah parang panjang. Di boyolali pun demikian sebuah video yang diduga aksi tawuran beredar viral di media sosial para pelaku tawuran terlihat membawa senjata tajam jenis klewang.

Maraknya tawuran yang terjadi di kalangan para pemuda ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya, lemahnya kontrol diri. Zaman sekarang pemuda tidak lagi peduli terhadap halal-haram, mereka terjebak dengan sistem sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Sehingga, ketika mereka ingin melakukan sesuatu yang haram mereka enteng sekali melakukannya, tak peduli bila harus melukai orang dengan benda tajam, mereka tidak memikirkan dampaknya akan seperti apa.

Mirisnya lagi, apabila mereka tidak mempunyai lawan untuk tawuran, mereka mencari cara untuk bisa mendapatkan lawan dengan cara melakukan provokasi di media sosial, mereka sangat gampang sekali tersulut emosi sehingga ejekan yang didapat di medsos
bisa menjadi pemicu terjadinya tawuran.

Hal ini juga diperkuat dengan disfungsi keluarga dan tekanan ekonomi/hidup. Banyak orang tua hari ini seakan abai dengan anak-anaknya sehingga para anak tidak mendapatkan pengawasan dan pendidikan dari orang tua mereka. Saking sibuknya orang tua dengan pekerjaan, anak-anak tidak lagi mendapat didikan dari orang tua untuk menjadi orang yang bertaqwa. Bahkan banyak dari orang tua hari ini jarang sekali memastikan kondisi anak-anaknya. Orangtua lebih sibuk bekerja untuk mengumpulkan materi, seakan-akan materi yang banyak cukup memenuhi kebutuhan anak. Efeknya anak-anak memiliki orang tua tetapi seperti tidak punya orang tua, sebab masing-masing sibuk dengan urusannya sendiri. Pemberian nasehat orang tua kepada anaknya sebagai bekal mereka dalam mengarungi kehidupan ini sangat jarang diberikan.

Demikianlah faktanya, sebab ini adalah buah penerapan sistem sekuler kapitalis. Negara abai terhadap tugasnya membentuk generasi berperadaban mulia, malah menyia-nyiakan potensi besar pemudanya, yang pada akhirnya bukan sumbangsih yang pemuda berikan melainkan tumpukan masalah. Pemuda juga bukan menjadi generasi problem solver tapi malah jadi problem maker.

Hal ini tentu sangat berbeda dengan sistem islam. Islam memiliki sistem pendidikan yang akan menghasilkan generasi berkepribadian mulia, yang akan mampu mencegahnya menjadi pelaku kriminalitas. Islam juga memberikan lingkungan yang kondusif, baik dalam keluarga, masyarakat maupun kebijakan negara, yang akan menumbuhsuburkan ketakwaan dan mendorong produktivitas pemuda.

Islam adalah solusi yang paling mampu untuk tawuran pemuda, karena sistem pendidikan islam akan menghasilkan anak-anak atau generasi yang berkepribadian mulia. Fondasi yang akan menjadi sistem pendidikan ini adalah akidah islam sehingga semua pelajaran akan berlandaskan islam. Hal ini akan menghasilkan sosok pemuda yang beriman dan bertakwa. Generasi akan paham arah tujuan hidup mereka hanya untuk meraih ridho Allah Swt. Sehingga perilaku yang mereka lakukan selalu terikat dengan syariat.

Maka dengan sistem pendidikan inilah, pemuda menjadi sosok yang paling taat dengan syariat, mereka menjaga diri mereka agar tidak berbuat maksiat, apalagi tindakan kriminal. Bahkan ketika memenuhi gharizah baqa’ mereka juga pasti memenuhinya sesuai dengan syariat. Misalnya dengan belajar yang rajin hingga bisa menguasai beberapa ilmu pengetahuan, gemar melakukan penelitian yang bermanfaat untuk umat, dan aktivitas produktif lainnya.

Terkait tawuran, Islam lagi-lagi punya solusi sistematis. Solusinya bukan hanya pada sistem pendidikan islam, tetapi juga dukungan sistem yang lain seperti sistem ekonomi, pergaulan, media massa, sanksi, dan lain sebagainya. Dengan adanya sistem islam ini maka akan lahir generasi hebat yang mengarahkan potensinya untuk berkarya dalam kebaikan. Pemuda dalam sistem islam akan senantiasa rajin untuk mengkaji islam, mendakwahkannya, serta turut aktif dalam perjuangan islam.

Khilafah juga menerapkan sistem sanksi terhadap pelaku yang melakukan kriminalitas sehingga menimbulkan efek jera. Dan apabila pelaku kriminalitas telah baligh, ia akan dihukum sebagaimana orang dewas. Misalnya jika ia membunuh orang lain, akan berlaku hukum kisas, hal ini sebagaimana tercantum dalam (Q.S Al-Baqarah [2]; 178) sebagaimana firman Allah ta’ala, “wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepadamu (melaksanakan) kisas berkenan dengan orang-orang yang dibunuh.

Begitu juga jika ia melukai orang lain. Allah taala berfirman, “kami telah menetapakan bagi mereka (Bani Israil) di dalamnya (taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dibalas mata, mata dibalas hidung, telinga dibalas telinga, gigi dibalas gigi, dan luka-luka (pun) ada kisasnya (balasan yang sama).” (Q.S Al- Maidah [5]: 45).

Demikianlah islam memberi solusi atas setiap permasalahan, tapi hal ini hanya bisa didapati ketika Islam diterapkan dalam kehidupan bernegara.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update