Oleh Sukaesih
Aktivis Muslimah
Dikutip dari laman Indonesia Baik, Ditjen IKP Kemenkominfo, Generasi emas adalah generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten, dan berdaya saing tinggi. Generasi emas diwacanakan akan terbentuk pada tahun 2045. Namun fakta hari ini, generasi muda kondisinya mengkhawatirkan. Makin banyak pemuda bahkan anak-anak terlibat kejahatan. Tentu kejahatan tidak termasuk kriteria perilaku generasi emas bukan?
Dirjen Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia memberikan data terjadinya peningkatan kejahatan anak sejak tahun 2020-2023. Terdeteksi sampai Agustus 2023, ada 2000 anak berkonflik dengan hukum. Diantara mereka, 1467 anak berstatus tahanan dan 526 anak lainnya menjalani kehidupan sebagai narapidana (Kompas.id 19/9/2024).
Peningkatan tindak kriminal yang dilakukan oleh remaja/anak menunjukkan bahwa sistem pendidikan yang diterapkan di negeri ini telah gagal menjalankan misinya. Sistem pendidikan saat ini berasaskan sekularisme, meniadakan peran agama dalam pendidikan sehingga gagal melahirkan generasi yang cerdas, beriman dan bertakwa.
Banyaknya anak yang menjadi korban dalam berbagai bentuk kejahatan juga menunjukkan negara telah gagal melindungi anak dan remaja. Dulu kita kenal anak itu polos, lugu, innocent. Mirisnya sekarang berita mengabarkan anak-anak menjadi korban dan pelaku tindak kriminal. Mereka menjadi korban dan pelaku bullying, pemerkosaan, pencurian, tawuran bahkan pembunuhan.
Semua itu terjadi karena dalam negara dengan sistem sekuler, agama hanya ada dalam urusan ritual ibadah kepada Tuhan. Agama hanya berperan di ranah individu khusus saat beribadah. Pengaturan urusan warga dan interaksi antar manusia tidak menerapkan syariat Islam, termasuk urusan pendidikan.
Fitrah manusia sejak lahir adalah Islam, punya kecenderungan pada agama yang benar, yaitu Islam. Sesuai sabda Rasulullah saw. dalam HR Bukhari dan Muslim, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, kedua orang tuanyalah yang menjadikan dirinya yahudi, nasrani atau majusi.”
Sistem pendidikan sekuler yang menjauhkan anak dan remaja dari agama. Hal ini membuat naluri anak sulit dikendalikan karena lingkungan yang liberal terus memberikan pengaruh negatif. Anak dan remaja tidak terpupuk iman dan takwanya. Mereka tidak kenal Allah Swt. sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pembalas perbuatan manusia. Paham kebebasan telah merasuki jiwa mereka sehingga tidak kenal halal haram dan dosa. Orientasi hidup hanya duniawi.
Derasnya arus sekularisme dalam pendidikan melahirkan generasi amoral. Bagaimana tidak, lingkungan masyarakat rusak oleh judi dan kemaksiatan, tontonan di tangan penuh aksi kekerasan dan pornografi lalu di sekolah, agama dijauhkan. Maka sempurnakanlah pengrusakan generasi oleh sistem sekuler ini.
Lain dengan sistem Islam. Pendidikan adalah hal yang utama, bahkan Rasulullah saw. bersabda bahwa menuntut ilmu itu kewajiban bagi setiap muslim. Ilmu yang wajib dipelajari adalah ilmu Islam yang akan menjadi bekal bagi manusia dalam mengarungi hidup di dunia.
Tujuan pendidikan Islam adalah membentuk kepribadian Islam paserta didik yang dicirikan oleh pola pikir islami dan pola sikap islami. Pendidikan Islam dimulai dengan mengajarkan hukum-hukum Islam kepada semua lapisan masyarakat. Tidak dibedakan antara laki-laki dan perempuan, anak-anak dan dewasa. Al Qur’an dan As Sunnah diajarkan di semua lapisan masyarakat, karena Islam mudah dipahami dan mudah diterima akal. Pemahaman tentang hukum-hukum Islam akan membentuk pola pikir islami.
Dari pemahaman tentang hukum-hukum Islam, selanjutnya peserta didik didorong untuk menerapkan ajaran Islam dalam seluruh aspek kehidupan sehingga terbentuklah pola sikap islami. Ilmu tentang Islam bukan sekadar pengetahuan, tapi harus diterapkan dalam hidup sehari-hari. Karena Allah Swt. telah menyiapkan aturan dalam segala bidang untuk manusia. Tinggal manusia nya, mau tidak menggunakan aturan-aturan itu.
Fungsi pendidikan Islam tidak hanya bertumpu pada guru-guru di sekolah, tapi melibatkan pula orang tua di rumah, masyarakat yang peduli serta negara yang menjalankan aturan-aturan Allah Swt. Bersatunya peran orang tua, guru, masyarakat dan negara dalam pendidikan, akan menghasilkan generasi emas di masa yang akan datang.
Wallahualam bisshawab.
No comments:
Post a Comment