Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rusaknya Bangunan Keluarga Akibat Sistem Kapitalisme Sekuler

Thursday, September 05, 2024 | Thursday, September 05, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:47Z

Oleh Ummu Syifa
Aktivis Muslimah

Sungguh pilu, kekerasan kepada anak kembali terjadi. Baru-baru ini, seorang anak di Pontianak ditemukan tewas di dalam karung hari Kamis, 22 Agustus 2024 diduga mendapat kekerasan dan dibunuh oleh ibu tirinya. Sebelum kejadian itu, anak tersebut dikabarkan hilang selama sepekan. Motif pembunuhan itu adalah karena ibu tiri merasa cemburu terhadap ayah korban karena tidak perhatian kepadanya saat hamil. (Sindonews.com, 24/8/2024).

Kejadian di atas, adalah satu di antara sekian kekerasan terhadap anak yang terungkap. Di negara yang berasaskan kapitalisme sekuler, kasus seperti ini sangat marak terjadi terutama disebabkan karena rusaknya bangunan keluarga. Keluarga yang dibangun bukan atas dasar keimanan dan ketakwaan akan ringkih dan lemah di dalam menghadapi persoalan kehidupan yang terjadi, baik masalah ekonomi, psikologis, sosial, dan lain-lain.

Kesulitan materi, kurangnya kasih sayang atau perhatian, dan tidak ada kerjasama yang baik dalam keluarga bisa menjadi pemicu seseorang untuk emosi dan stres. Ketika itu terjadi disertai kelemahan iman dalam jiwa mengakibatkan seseorang mudah terpancing untuk melakukan tindakan kekerasan kepada seseorang yang dianggap lemah, dan anak-anak sering menjadi pelampiasan emosi dan perasaan orang tuanya.

Kejahatan terhadap anak adalah salah satu bentuk kegagalan di dalam mewujudkan keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Anak yang seharusnya dipandang sebagai anugerah dan amanah dari Allah Swt. yang harus dijaga, dirawat dan dididik untuk taat kepada Allah Swt. dan menjadi pahala bagi orang tuanya. Kini dalam kapitalisme dipandang sebagai beban materi yang membuat sulit dan menjauhkan dari kebahagiaan. Maka tidak heran, banyak rumah tangga yang tidak menginginkan memiliki anak (free child), bahkan kalaupun punya anak diusahakan seminimal mungkin jumlahnya.

Itulah akibatnya jika segala sesuatu diukur dari materi. Jika pola pikir seperti ini dibiarkan bangunan keluarga muslim akan hancur dan rusak. Sudah saatnya kita campakkan kapitalisme sekularisme ini yang telah terbukti menghancurkan keluarga muslim.

Berbeda dengan Islam. Islam memandang bahwa negara berkewajiban menjaga keluarga muslim agar tetap menjadi benteng yang kuat dan kokoh di dalam hal keimanan dan ketakwaan individu. Oleh karena itu, negara menerapkan sistem pendidikan, ekonomi, pemerintahan, sosial, dan lain-lain berdasarkan syariat Islam untuk mengurus rakyat agar rakyat bisa terakomodasi kebutuhan dan kepentingannya secara menyeluruh. Jadi tidak akan terjadi di dalam sistem Islam individu kesulitan ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan lain-lain karena negara menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi setiap individu rakyatnya.

Adapun kebutuhan psikologis yang sehat akan selalu terjaga dengan cara negara akan menciptakan iklim dan dorongan idrak sillah billah (kesadaran hubungan dengan Allah) di manapun, di samping penerapan sanksi dan hukum Islam yang tegas akan mencegah kemaksiatan terjadi dan menjadi pembelajaran bagi semua orang agar tidak melakukan kejahatan dan pelanggaran terhadap hukum syara.

Sudah saatnya kita kembali kepada Islam. Hanya Islam yang mampu menjaga bangunan keluarga muslim tetap kokoh dan mampu menghapuskan segala bentuk kekerasan, terutama kekerasan kepada anak sehingga generasi muda penerus kita akan terjaga dari kerusakan dan terwujud generasi yang cemerlang.

Wallahu a’lam bishshawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update