Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rusaknya Bangunan Keluarga Akibat Penerapan Sistem Sekulerisme-Kapitalisme

Monday, September 02, 2024 | Monday, September 02, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:39:01Z

Oleh: Eka Susanti

“Ketika agama semakin dijauhkan dari kehidupan manusia, maka kemanusiaan itu juga akan semakin hilang dari akal sehatnya.”

Hampir setiap harinya kita selalu disuguhi informasi tentang kematian dan pembunuhan, tidak cukup dengan informasi keadaan Palestina hingga detik ini. Pembunuhan yang dilakukan oleh keluarga atau kerabat dekat saat ini seakan tidak lagi menjadi hal yang tabu kita temukan di setiap laman berita. Fenomena seperti anak yang tega membunuh ayah ibunya, atau sebaliknya orang tua yang tega membunuh anaknya, kakak menyiksa adiknya dan masih banyak lagi lainnya. Seperti halnya yang kembali terjadi beberapa waktu yang lalu seorang Ibu Haji dibunuh oleh anak kandungnya sendiri, kejadian ini terjadi pada hari jumat tanggal 23 Agustus 2024 sekitar pukul 21:13 WITA di kecamatan Balikpapan Barat. Seorang Ibu Haji Berinisial RK meninggal dengan tragis di rumahnya karena dibunuh oleh anak kandungnya sendiri yang diduga mengalami gangguan jiwa (Prokal.co 24/08/24). Lalu ada pula kasus pembunuhan yang terjadi pada seorang anak berumur 6 tahun bernama Nizam Ahmad Alfahri yang dibunuh oleh ibu tirinya sendiri, jasadnya ditemukan sangat mengenaskan di sebuah rumah kawasan Pontianak pada kamis malam tanggal 22 agustus 2024 dalam kondisi terbungkus karung. Sebelumnya semasa hidup Nizam dikabarkan memang sering mengalami penyiksaan dan kekerasan dari ibu tirinya tersebut (SindoNews.com, 24/08/24). Kemudian peristiwa penganiayaan yang berujung pada pembunuhan yang dilakukan oleh seorang anak kepada adik dan ayahnya. Tidak diketahui sebab apa pelaku menganiaya adiknya. Karena tidak terima sang adik pun melaporkan perbuatan kakaknya tersebut kepada sang ayah, namun usaha sang ayah untuk menengahi kedua anaknya justru berbuah tragis, sang kakak bukannya mendengarkan dan mematuhi ayahnya malah dengan berani menusuk ayahnya dengan pisau dapur hingga meninggal. (Metrotvnews.com, 24/08/24).

Sungguh miris memang jika melihat informasi berita seperti ini, seperti menu hidangan yang biasa tersaji di meja makan. Kita seakan kehilangan sebuah standar hidup yang manusiawi. Apa sebenarnya yang menjadi masalah kita saat ini? Apa sebenarnya yang hilang dari sebuah keluarga? Bukankah terciptanya sebuah keluarga itu adalah agar menambah kehidupan yang harmoni? Beginilah realitanya ketika landasan berpikir kita hanya menuruti ego dan hawa nafsu materi, atau biasa disebut dengan sekulerisme kapitalisme.

Sekularisme telah banyak meracuni setiap jiwa manusia, ketika pemahaman agama dijauhkan dari kehidupan, dimana sejatinya hanya agama yang akan mengajarkan agar manusia bisa memanusiakan manusia, entah itu dari mulai adap, perilaku, akhlak, akal serta sikap manusia yang diatur supaya tidak keluar dari fitrahnya. Namun ketika itu semua dijauhkan dan dipisahkan, maka tidaklah heran kerusakan dan kebobrokan dalam hati dan jiwa manusia akan muncul bahkan seakan mengalahkan sifat-sifat binatang. Ditambah dengan sistem Kapitalisme yang dipegang oleh para penguasa kita hari ini, dimana standar baik dan buruk hanya berdasarkan pada asas materi dan manfaat saja, tidak peduli bagaimana kelakuan rakyatnya, selama itu tidak menguntungkan baginya, maka tidak akan menjadi urusannya pula. Justru sudah menjadi fenomena lama saat jajaran penguasa semakin memperkaya dirinya dengan memeras uang rakyatnya (korupsi dimana-mana), apakah wajar bila mereka bisa menjadi pelindung rakyatnya? Sadar atau tidak sebenarnya pemahaman ini juga telah menjangkit disetiap lini kehidupan masyarakat kita, dimana orang-orang yang seharusnya bisa diandalkan dapat melindungi, justru sebaliknya malah menjadi pelaku dari kejahatan yang tidak terbayangkan. Seorang anak yang seharusnya berbakti pada orang tua yang telah membesarkannya malah membunuh ayahnya. Seorang Ibu yang seharusnya diharapkan bisa memberikan perhatian dan kasih sayangnya, justru menjadi mimpi buruk bagi seorang anak dan bahkan sampai kehilangan nyawanya. Seorang kakak yang seharusnya bisa mendukung adiknya malah tega melukai adiknya.

Harusnya kita pahami bahwa naluri melindungi, kasih sayang, melestarikan keturunan (gharizah nau’) telah Allah ciptakan pada diri manusia sejak lahir. Bahkan terkadang pada hewan pun juga bisa kita temukan pada mereka. Apalagi jika itu manusia yang Allah lebihkan dengan kemampuan otak dan akalnya untuk berpikir, maka seharusnya manusia bisa terus menjaga eksistensinya sesuai syara’ dan tuntunan Allah Swt. Terlebih apabila situasi ini seringkali terjadi dan dihadapi oleh keluarga muslim. Bagaimanapun juga, jangan sampai keluarga muslim terbawa arus dan tipu daya pemahaman sekulerisme dan kapitalisme ini, dimana saat ini mereka seolah menjadi ide yang paling modern dan maju, padahal di dalamnya mengandung racun yang bisa menjerumuskan manusia. Sadarlah bahwa ide ini muncul dari para Kafir Barat yang mengagungkan kebebasan berpikir serta nafsu, dan menjadikan materi sebagai standar kehidupan mereka. Perlu adanya kewarasan dalam setiap keluarga muslim untuk bisa menyikapi dan menghadapi berbagai jebakan sistem ini agar tidak terpengaruh dan menjadi korban yang berujung merugikan kehidupan kita, baik di dunia maupun akhirat.

Apa yang menjadi pembeda pada kehidupan seorang muslim dan kafir adalah akhirat, jika kita percaya dengan adanya akhirat sebagai tempat berpulang dan kehidupan yang sebenarnya, maka tidak sepantasnya kita menyikapi dunia sebagai tujuan utamanya. Ketika orang lain hanya mengutamakan dunia, maka tidak dengan kita yang mengimbanginya dan menjadikannya sebagai ladang menuai pahala dan ridho-Nya. Seorang muslim haruslah paham akan tujuan hidupnya di dunia ini, bahkan diibaratkan seperti seorang musafir. Rasulullah Saw pernah bersabda: “Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir (dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur yang pasti akan mati)” (HR. Bukhari: 6416).

Beberapa upaya yang dapat dilakukan agar setiap keluarga muslim bisa terhindar dari paham sekulerisme kapitalisme ini dan tetap berada di jalan yang benar. Walau hal ini bukanlah perkara yang mudah, namun kita sebagai seorang muslim tetap dianjurkan agar ‘jangan berputus asa dari Rahmat Allah’. Kuatkan keluarga dengan Akidah Islam, dengan menjauhi keluarga dari budaya dan gaya hidup yang kufur dan rusak merusak, pahami bahwa Allah adalah Al-Khalik sang Maha Pencipta dan pengatur kehidupan alam semesta yang patut disembah. Ajak setiap anggota keluarga agar memahami tujuan hidupnya yaitu untuk beribadah kepada Allah Swt. Menciptakan lingkungan yang Takwa, dimana semua permasalahan hidup kita kembalikan dan serahkan pada Allah Swt. Ketakwaan menjadi benteng untuk melindungi keluarga dari jebakan sistem kapitalisme yang merusak, dimana solusi kehidupan diambil dari ketentuan Islam. Terikat dengan hukum syari’at, dimana halal haram yang Allah tetapkan sebagai standar berbuat dan menilai sesuatu, bukan karena fungsi dan segala alasan nafsu manusia. Disinilah ridho dan keberkahan Allah akan terasa. Memahami Islam secara Kaffah, tidak hanya dari segi tata cara ibadah, namun juga ide dan gagasan yang Islam ajarkan, karena hanya agama Islam saja yang mengatur kehidupan manusia dari mulai bangun tidur hingga bangun negara. Lalu menjadikan dakwah sebagai bagian terpenting bagi kehidupan keluarga, yakni saling mengingatkan dan mengkondisikan agar setiap anggota keluarga baik ayah, ibu, anak, kakak dan adik agar senantiasa mengajak dan melakukan kebaikan dan mencegah kejahatan. Kemudian peduli dengan permasalahan umat, tidak bisa kita pungkiri segala permasalahan kompleks yang terjadi di negeri ini dan dihadapi oleh keluarga muslim kini adalah akibat dari penerapan sitem sekuler dan kapitalis. Kita dijauhkan dari pemahaman Islami dan seakan asing dengan aturan-aturan Allah karena negara juga telah menganut ide Sekulerisme Kapitalme, dimana aturan dibuat dengan sesuka hati oleh para penguasa kita yang hanya tertuju pada materi. Islam hanya dianggap sebagai ibadah ritual semata. Padalah jika masyarakat cerdas dan jeli, Islam tidak hanya memberikan tata cara sholat saja, tapi disegala aspek kehidupanmanusia terutama negara. Allah juga pasti memberikan ketentuan yang sesuai dengan petunjuk-Nya.

Aturan kehidupan masyarakat yang Islami hanya akan bisa terwujud jika berada dalam sistem Negara Islam (Khilafah) pula, bukan dalam sistem saat ini. Dimana kewarasan kehidupan setiap keluarga juga terjamin dan dipantau oleh negara. Faktanya saat ini tragedi ketidakharmonisan keluarga muslim banyak terjadi, hal ini dikarenakan tidak adanya pengingat, pelindung dan pengaturan oleh negara Islam. Sekali lagi, lihatlah semua para penguasa negara hari ini hanya sibuk dengan aturan-aturan dan keuntungan pribadinya. Maka dari itu, keluarga muslim saat ini pun harus dapat saling bergandengan tangan, bersatu untuk saling memahamkan tentang sistem Islam ini pula. Bukan saatnya bagi kita untuk ikut-ikutan menyalahkan saudara-saudari muslim kita yang berusaha untuk memperbaiki keadaan umat. Seperti halnya yang Rasul dan para sahabat jalankan untuk memperbaiki kehidupan umat manusia yakni dengan menjalankan misi kehidupan di dalam bingkai negara Islam (Khilafah) yang telah terbukti selama belasan abad lamanya mampu menjaga umat. Tidak hanya muslim saja, tetapi juga seluruh umat manusia, kesejahteraan dan keberkahan pasti akan terwujud dan kita juga akan terhindar dari azab dan malapetaka. Wallahualam bissawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update