Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Generasi Celaka Imbas Ibu Mati Rasa

Monday, September 16, 2024 | Monday, September 16, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:38:15Z

Oleh: Umul Bariyah

(Aktivis Muslimah)

 

Nasib pilu dialami seorang remaja perempuan di Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep. Dia dicabuli kepala sekolahnya berinisial J (41) yang juga seorang PNS. Mirisnya, pencabulan ini disetujui dan diketahui ibu kandungnya yang juga seorang PNS berinisial E.

 

Kasi Humas Polres Sumenep, AKP Widiarti, mengatakan kepala sekolah dan ibu korban telah diamankan polisi. Kasus ini pertama kali dilaporkan ke polisi pada 26 Agustus lalu.

 

Widiarti menuturkan, kasus ini terungkap saat ayah korban mendapat informasi bahwa anaknya diantarkan ibunya ke rumah kepala sekolah. Di sana korban dicabuli kepala sekolah.

 

Dia menambahkan, ibu korban menyetujui pencabulan itu dengan alasan untuk ritual penyucian diri. Tak dijelaskan ritual apa yang mereka jalani.

 

Di dalam sistem kapitalis sekuler seperti saat ini, banyak cara untuk melakukan apa saja demi kepentingan pribadi yang berorientasi untuk memuaskan nafsu duniawi. Entah itu berupa uang, kekuasaan, jabatan bahkan hanya untuk kesenangan semata.

 

Sistem kapitalis sekuler juga memaksa seorang ibu untuk menjadi tulang punggung. Banyak sekali kasus ibu saat ini yang menggantikan tugas seorang ayah mencari nafkah karena berbagai alasan. Maka tak heran, kalau perhatian kepada anak sangat berkurang.

 

Sosok seorang ibu yang jauh dari syariat, jauh dari pandangan Islam, maka mati pula nuraninya. Ibu yang seharusnya menjadi pendidik utama dan pertama justru melakukan kekejian yang luar biasa. Bahkan tidak ada rasa bersalah atau takut dosa, walau yang dikorbankan adalah darah dagingnya sendiri, putrinya sendiri.

 

Begini kalau seorang ibu tanpa bekal agama. Tak mengenal Islam secara menyeluruh bagi yang muslim. Tak mengenal standart halal haram. Tak berpedoman tujuan hidup untuk mencari ridha Allah. Beliau bisa saja tanpa sadar melakukan hal hal negatif yang justru menjerumuskan anaknya.

 

Lihatlah hari ini betapa banyak seorang ibu mendadani putrinya yang kecil agar menarik dengan pakaian sexi ala orang dewasa, melenggak lenggok layaknya peragawati, berharap anaknya mempunyai talent seorang model. Tak membiasakan putrinya berhijab bagi seorang muslim. Kemudian dengan rasa bangga meng-uploudnya di media sosial hingga memperoleh like dari jutaan followersnya.

 

Betapa banyak sosok ibu yang memotivasi anaknya terutama anak gadis untuk mencari laki laki kaya dan mapan. Bahkan untuk pacaran pun diperbolehkan agar anak gadisnya tidak mendapat julukan anak tidak laku. Bagi mereka memperoleh pacar atau calon mantu dengan kedudukan sosial yang tinggi adalah sesuatu yang membanggakan. Sedikit sekali yang menyarankan agar mendapat calon suami yang sholih.

 

Betapa banyak sosok ibu yang tak mengenalkan agama sejak dini pada putra putrinya, hingga mereka dewasa tak bisa tata cara sholat dan membaca Alquran. Bahkan ada seorang ibu dengan dalih kasihan atau tidak tega untuk membangunkan sholat saat subuh meskipun mereka sudah baligh tanpa berfikir bagaimana nasib anaknya kelak di neraka.

 

Betapa banyak sosok ibu yang membujuk suaminya untuk menuruti anak anak membelikan gadget dengan dalih supaya tak ketinggalan informasi dan mengikuti perkembangan jaman. Nyatanya benda benda tersebutlah yang menjadi jalan anaknya mengenal pornografi, kecanduan game, kesalahan dalam memilih teman (terlibat komunitas LGBT) hingga terlilit judol dan pinjol. Naudzubillah.

 

Fenomena ini menunjukkan adanya persoalan sistematis dan bukti kegagalan sistem yang diterapkan, khususnya sistem pendidikan juga sistem sanksi yang menambah panjang deretan potret buram rusaknya pribadi ibu dan rusaknya masyarakat.

 

Wahai ibu, kembalilah kepada fitrahmu. Kembalilah menjadi madrasah al ula (pendidik pertama) bagi anak anakmu. Tidakkah engkau sayangkan mengandung 9 bulan penuh perjuangan dan kesakitan, namun engkau rela anakmu umbar auratnya. Engkau biarkan putrimu dizinahi pacarnya berkali kali. Engkau biarkan anakmu melakukan maksiat dan dosa.

 

Wahai ibu, cegahlah anakmu di jalan yang salah, sebelum semua terlambat dan kau menyesalinya di dunia dan akhirat. Bekali dirimu ilmu agama yang benar. Jangan malas datang ke kajian ilmu, jadikan Quran dan hadits sebagai pedoman hidupmu dan amalkan dalam mendidik putra putrimu.

 

Ketahuilah ibu, bahwa anak anakmu itu adalah amanah dari Allah. Setiap jengkal pendidikan yang kau berikan, setiap makanan halal/ haram yang kau berikan, semua ada pertanggung jawabannya. Didiklah putra putrimu menjadi pribadi yang sholih sholihah yang tak bersandar pada nafsu dunia.

 

Maka, di dalam Islam kedudukan seorang perempuan amatlah istimewa dan berharga. Bagaimana tidak, ketika menjadi anak bisa menjadi pintu surga buat kedua orang tuanya. Ketika menjadi istri bisa menjadi pembuka rejeki bagi suaminya. Dan ketika menjadi ibu, surga di telapak kakinya. Tapi tentu saja untuk memperoleh predikat itu harus belajar dan memahami agama Islam dengan benar.

 

Di dalam sistem Islam, Islam menyediakan adanya supporting sistem di dalam kehidupan. Kesempurnaan sistem Islam tampak dari sistem pendidikan yang membentuk kepribadian Islam, sistem sanksi dan juga sistem lain yang mampu menjaga setiap individu dalam kebaikan, ketaatan dan keberkahan Allah. Islam juga mewajibkan negara agar mampu menjaga fitrah ibu, anak dan juga manusia semuanya. Wallahua’lam bi shawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update