Oleh Narti Hs
Ibu Rumah Tangga dan Pegiat Dakwah
“Muslim itu adalah orang yang menjadikan muslim yang lain selamat dari lisan dan tangan. Orang yang berhijrah itu adalah orang yang meninggalkan apa saja yang telah Allah larang.” (HR. Bukhari, Abu Dawud, An-Nasa’i, Ahmad)
Tahun baru Islam 1446 H masih hangat di benak kaum muslim. Sebagian umat di berbagai wilayah ketika itu mereka mengadakan perayaannya dengan pawai obor, lomba-lomba keislaman di masjid, dll. Sukacita tersebut dilakukan demi menunjukkan cintanya pada bulan Muharam.
Seperti halnya di Desa Cileunyi Wetan yang diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor bekerjasama dengan pemerintah Desa. Mereka telah mengadakan gebyar Muharam jilid III tahun 2024. Acara ini diisi dengan berbagai lomba Musabaqah yang melibatkan Majelis Taklim, DTA, TPQ, DKM, serta perwakilan RW dan RT. Selain perlombaan, kegiatan sosial seperti santunan untuk 23 anak yatim dan layanan cukur rambut bayar seikhlasnya juga turut memeriahkan acara. Kerja sama dengan Komunitas Cukur Desa Cileunyi Wetan membuat hasil dari layanan cukur ini didonasikan kepada anak yatim. (Jabar.nu.or.id, 24/7/2024)
Penyelenggaraan gebyar Muharam tersebut memang boleh diapresiasi. Namun tidak ada perubahan istimewa dalam menyambut kedatangannya. Kegiatan agama yang diselenggarakan pun hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Antusiasme kaum muslim dalam merayakannya hanya fokus pada penyelenggaraan pengajian-pengajian umum. Materi kajian yang disampaikan pun sebatas keistimewaan dan besarnya pahala ketika beramal pada bulan Muharam.
Tahun baru Hijriyah diperingati dengan gebyar, tetapi sekedar ceremonial tahunan yang tidak berdampak terhadap perubahan yang menjadi tujuan utama hijrah. Sebuah perayaan, tanpa ada perubahan kondisi masyarakat yang lebih baik. Yang ada, fakta hari ini, umat Islam semakin terpuruk. Muslim Palestina yang sedang dalam genosida zionis. Belum lagi, di belahan bumi lain seperti India, Uighur, Rohingya, dan lainnya. Mereka berjuang sendiri untuk mempertahankan akidahnya.
Belum lagi, situasi di dalam negeri sendiri. Meskipun masih bisa beribadah dengan tenang, menutup aurat, menunjukkan keislamannya, tetapi secara mayoritas sedang dilanda kesulitan ekonomi yang teramat sangat. Sulitnya memperoleh pekerjaan, dan harga kebutuhan pokok melambung tinggi. Sementara kekayaan alam melimpah ruah, malah dikeruk oleh korporat dan asing. Rakyat justru dibuat pusing.
Semua kesulitan hidup yang dialami masyarakat ini, tak lain disebabkan oleh penerapan sistem sekuler kapitalisme. Dimana agama dipisahkan dari kehidupan. Sebuah aturan yang mengizinkan sekelompok orang atau korporasi, bahkan asing untuk menguasai sumber daya alam, yang seharusnya dinikmati rakyat secara keseluruhan.
Karena negeri ini merupakan negara pengekor Amerika, maka tidak akan mampu menolak penjajahan ekonomi melalui jebakan utang yang kian menumpuk. Belum lagi beban bunga yang semakin bertambah besar.
Begitu pula penderitaan muslim Palestina dan di berbagai negeri, jelas disebabkan oleh dukungan AS terhadap Israel. Akibatnya, kejahatan Internasional terus dibiarkan. Para penguasa negeri muslim pun ‘diam seribu bahasa’. Yang ada malah bergandengan tangan dengan negara penjajah tersebut.
Inilah bukti bahwa muslim saat ini tidak memiliki perisai yang melindunginya. Umat Islam harus bersatu di bawah satu kepemimpinan untuk menerapkan syariat dalam kehidupannya. Sehingga di bulan Muharam yang mulia ini, tidak cukup dengan perayaan semu semata. Diperlukan hijrah hakiki secara menyeluruh. Dari aturan rusak, menuju terwujudnya khayru ummah. Bersatu, lalu berupaya menegakkan kembali satu kepemimpinan yang menerapkan seluruh aturan syariat sebagaimana Rasulullah saw. dahulu di Madinah.
Semoga perjalanan hijrah Rasulullah saw. yang diikuti oleh para sahabatnya mampu menjadi inspirasi terbaik bagi umat muslim untuk segera bergerak dan berjuang demi meraih kembali kejayaan Islam.
Wallahu a’lam bish-Shawwab.
No comments:
Post a Comment