Oleh: Yauma Bunga Yusyananda
(Member Ksatria Aksara Kota Bandung)
Beasiswa luar negeri sering kali dianggap sebagai jembatan menuju kesuksesan akademis dan profesional. Baru-baru ini, empat guru Sekolah Dasar dari Kota Bandung—Ayundha Nabilah, Dini Rahmawati, Sri Wulandari, dan Asih Kuswandari—berhasil lolos dalam seleksi beasiswa untuk mengikuti program Microcredential Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Edukasi di BuckLER Center, The Ohio State University, Amerika Serikat. Program ini, yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Ditjen GPK) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) Tahun 2024, bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru di seluruh Indonesia. Ini adalah contoh positif bagaimana beasiswa luar negeri dapat memperkaya pengalaman dan pengetahuan profesional (bandung[dot]go[dot]id, 08/07/2024).
Namun, tidak semua beasiswa luar negeri dapat dianggap sebagai kesempatan positif tanpa tantangan. Contohnya adalah beasiswa yang diperoleh Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Nasaruddin Umar, untuk mengikuti program belajar di Amerika Serikat yang diselenggarakan oleh American Jewish Committee (AJC). Meskipun tampaknya berfokus pada dialog antaragama dan pertemuan pejabat pemerintah, komite ini diduga mendukung agenda politik yang kontroversial terkait Yahudi dan Israel (tvonenews 25/07/2024). Hal ini dapat memicu konflik. karena mereka masih menjajah Palestina. Dan kita tidak pantas bekerjasama apapun dengan negara yang menjajah kaum muslim seperti mereka.
Salah satu kekhawatiran utama adalah pengaruh terhadap identitas diri, terutama dalam mempertahankan prinsip-prinsip agama. Ketika belajar di luar negeri, individu mungkin terpapar pada budaya dan ideologi yang berbeda, yang dapat mempengaruhi praktik keagamaan dan identitas pribadi. Mengelola waktu antara tuntutan akademis dan kewajiban agama memerlukan perencanaan yang matang untuk menjaga keseimbangan.
Risiko keterlibatan dengan agenda politik juga harus diperhatikan. Beberapa program beasiswa mungkin memiliki kerjasama politik atau agenda tertentu yang dapat mempengaruhi perspektif peserta. Oleh karena itu, penting untuk melakukan riset mendalam tentang lembaga penyelenggara untuk menghindari konflik kepentingan.
Maka dalam memilih beasiswa, baik di dalam negeri maupun luar negeri, penting untuk memahami latar belakang lembaga penyelenggara dan tujuan dari beasiswa tersebut. Apakah fokusnya pada kepemimpinan, pengembangan akademis, atau agenda lainnya? Pendidikan seharusnya tidak hanya mengukur nilai akademis tetapi juga sikap dan solusi yang diberikan dalam menghadapi berbagai tantangan.
Kita juga harus ingat dengan adanya fenomena brain drain, atau hengkangnya cendekiawan dari negaranya sendiri, menjadi isu yang signifikan. Banyak mahasiswa Indonesia memilih untuk menetap di luar negeri setelah studi mereka selesai. Suryopratomo, Duta Besar Indonesia di Singapura, menekankan perlunya Indonesia menawarkan kehidupan yang lebih baik dan peluang yang lebih menarik untuk mengatasi masalah ini. Negara perlu menyediakan lingkungan yang kondusif dan pendidikan berkualitas untuk mempertahankan generasi unggul di tanah air.
Di negara-negara yang menerapkan sistem demokrasi kapitalistik, seperti Indonesia, sering kali terdapat kesenjangan sosial dan orientasi pasar yang mengabaikan nilai-nilai moral dan agama. Pendidikan yang berfokus pada pasar dapat membuat pelajar dan tenaga ahli merasa lebih dihargai di luar negeri. Dalam konteks ini, negara yang memiliki visi seperti Khilafah yang menerapkan Islam secara menyeluruh sudah memiliki bukti bagaimana kegimilangannya pada masa Abbasiyyah untuk memunculkan para penemu hebat sehingga orang-orang dari Spanyol saja ingin belajar di masa Khilafah. Sehingga terbukti secara historis dan keyakinan, bahwa dalam sistem Islam memberikan pengajaran yang komprehensif yang mendukung pendidikan yang berkualitas sambil memelihara prinsip agama.
Dengan memahami kelebihan dan tantangan dari beasiswa luar negeri, maka kita akan lebih bijaksana sambil tetap menjaga prinsip-prinsip agama kita di dunia ini. Keseimbangan antara kesempatan dan tantangan menjadi kunci untuk meraih manfaat namun keberkahan dalam menjaga identitas diri juga adalah hal penting yang senantiasa harus kita jaga dan perkuat, karena ilmu sejatinya menjaga kita sehingga kita senantiasa takut dan taat hanya pada Allah semata bukan manusia. Semoga kita semua tetap bisa menjadi muslim yang mampu berkarya untuk ummat dan diakui secara dunia dan akhirat dalam sistem kepemimpinan yang diridhoi oleh Allah subhanahu wa ta’alaa.
“Jika ilmu disertai dengan rasa takut kepada Allah SWT maka ia akan menjadi kebaikan bagi kamu. Sedangkan ilmu yang tidak disertai rasa takut kepada¬-Nya maka ia akan menjadi bencana bagi kamu,” ( Syekh Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam kitab Al-Hikam )
“Dan Katakanlah: ‘Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.'” ( Terjemah Qur’an Surat Al Baqoroh 147 )
Wallohu’alam bi ash showab