Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kasus Bunuh Diri kian Meningkat : Buah Penerapan Kapitalisme Sekuler

Saturday, August 31, 2024 | Saturday, August 31, 2024 WIB

Oleh : Fira

mahasiswa telkom

Baru-baru ini terdapat kasus bunuh diri seorang mahasiswi kedokteran Anestesi dari PPDS UNDIP kota semarang yang bernama Aulia Risma Lestari dengan cara menyuntikkan obat bius jenis Roculax ke dalam tubuhnya, mahasiswi tersebut melakukannya di kamar kos dengan kondisi kamar terkunci. Ia baru ditemukan oleh teman dekatnya yang tinggal satu kos pada hari senin sekitar pukul 21.30.

Melalui dugaan tersebut, mahasiswi ini melakukan bunuh diri lantaran ia tak kuat untuk menahan perundungan yang dilakukan oleh seniornya, Didapatkan juga melalui bukti catatan harian (buku diary) yang diduga menjadi saksi atas penderitaan mahasiswi tersebut. Di dalam catatannya tertulis bagaimana mahasiswi tersebut merasa tersiksa dengan perundungan yang dilakukan oleh seniornya.

Ternyata kasus bunuh diri ini tidak terjadi kepada mahasiswa UNDIP saja, beberapa mahasiswa lainnya juga ada khususnya di kota semarang. Persoalan yang disebabkan antara lain karena perundungan, masalah asmara/ percintaan, ekonomi, kesehatan mental dan lain sebagainya.

Meningkatnya kasus bunuh diri di lingkungan kampus memang harus mendapat perhatian serius. Fenomena sosial yang tragis lagi miris ini dipengaruhi banyak faktor. Sistem kehidupan sekuler telah mereduksi pandangan hakiki manusia sebagai hamba Allah SWT, di antaranya dari mana ia berasal, untuk apa ia diciptakan, dan akan ke mana setelah kematian.

Dalam pandangan kapitalisme sekuler, tujuan hidup manusia yaitu untuk meraih sebanyak-banyaknya materi dan kesenangan dunia sehingga ketika hal itu tidak tercapai, ia merasa gagal dan mudah menyerah dalam hidup. Dari hal tersebut munculnya gangguan cemas, stres, depresi, dan sejenisnya yang memicu seseorang berniat untuk melakukan bunuh diri.

Sistem pendidikan sekuler juga menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak manusiawi. Semisal bullying atau rasa superioritas senior terhadap junior akan tetap menjadi borok dalam pendidikan sekuler. Pasalnya, sistem sekuler kapitalisme membentuk kesenjangan nyata yang memicu aksi bullying. Yang kaya menindas yang miskin. Yang pintar menghina yang lambat menerima pelajaran atau pengetahuan. Di sisi lain, tujuan pendidikan hanya berkutat pada target menjadi lulusan berprestasi yang sifatnya materi dan mengejar kesenangan duniawi. Bukan untuk menuntut ilmu dan menjadi manusia beradab serta berakhlak mulia.

Kondisi ini jauh berbeda tatkala sistem Islam diterapkan. Penerapan sistem Islam kafah mewujudkan generasi berkepribadian Islam, cendekiawan yang cerdas, dan berperadaban mulia.
Pendidikan dalam islam yang dibentuk sudah terstruktur dan sistematis serta memiliki misi untuk menciptakan manusia sebagai abdullah (hamba Allah) dan khalifah Allah di muka bumi yang berarsaskan akidah Islam. Asas tersebut yang menjadikan dasar dalam penyusunan kurikulum pendidikan, sistem belajar mengajar, kualifikasi guru, perkembangan budaya, dan interaksi semua komponen penyelenggara pendidikan.

Waktu masa khilafah islam, banyak melahirkan generasi yang unggul dan tidak hanya berfokus kepada ilmu pembelajaran seperti saintek tetapi sukses menjadi ulama yang fakih fiddin. Pada keseimbangan ilmu inilah yang terjadi, sebab Islam telah menjadikan asas dan sistem yang dapat mengatur dunia pendidikan.

Di dalam Sejarah peradaban Islam, pendidikan Islam mengalami kejayaan dan kegemilangan yang diakui dunia internasional. Lembaga pendidikan tumbuh subur dan majelis-majelis ilmu di selasar masjid yang membahas berbagai ilmu pengetahuan pun bertaburan. Semua berjalan dengan baik karena peran besar negara yang telah mengatur aspek kehidupan berbasis akidah islam serta disesuaikan dalam asas pendidikan.

Dikutip melalui media muslimah news Ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan oleh negara untuk melakukakn kebijakan pendidikan yang berbasis syariat islam, antara lain sebagai berikut.

Pertama, menerapkan politik ekonomi Islam. Untuk mewujudkan sistem pendidikan Islam yang baik tentu membutuhkan anggaran pendidikan yang besar, seperti membangun sarana dan fasilitas pendidikan yang merata di seluruh wilayah dan memberi gaji para guru serta tenaga pendidik secara layak.

Kedua, negara menetapkan kebijakan pendidikan gratis untuk semua peserta didik. Dengan kebijakan ini, beban dan masalah seputar biaya pendidikan tidak akan terjadi sehingga tidak akan ditemukan kasus bunuh diri mahasiswa atau pelajar karena masalah ekonomi.

Ketiga, negara melakukan pembinaan Islam secara komunal. Suasana iman akan lebih terasa dalam kehidupan masyarakat karena negara membangun sistem pergaulan yang berlandaskan Islam. Pintu-pintu maksiat akan ditutup rapat. Negara menerapkan sanksi yang membuat jera para pelaku maksiat.

Dengan penerapan sistem Islam yang menyeluruh, generasi muda akan terselamatkan dari sekularisme yang merusak sendi-sendi kehidupan.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update