Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ballerina Farm, Gorengan Misoginis dan Seksis dalam Hidangan Kapitalis

Monday, August 05, 2024 | August 05, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:40:50Z

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

Hannah ‘Ballerina Farm’, seorang influencer terkenal dengan julukan ‘tradwife’, menjadi subjek kontroversi setelah beberapa artikel menunjukkan kemungkinan adanya pengaruh misoginis dalam kehidupannya. Hannah Neeleman dan suaminya, Daniel Neeleman, memiliki 328 hektar lahan pertanian di Utah. Mereka memiliki delapan anak dan menjalani kehidupan yang kental dengan tradisi tradwife. Konten Hannah yang menampilkan kehidupan sehari-hari, seperti memasak, merawat anak, dan mengelola hewan ternak, telah menarik perhatian lebih dari 9,3 juta pengikut di Instagram dan 8,9 juta di TikTok. Kontroversi muncul ketika The Times menulis bahwa Hannah mungkin telah mengorbankan impian dan pendidikannya untuk menikah dengan Daniel. (Liputan6.com, 30-07-2024).

Berbagai dugaan ditimpakan pada kehidupan Hannah. Beberapa berita terkait keluarga ini, terutama yang dikaitkan dengan nasib Hannah yang dianggap objek penderita, berlalu lalang hingga memunculkan berbagai persepsi tentang hidup Hannah. Hannah yang menderita, Hannah yang melarat, Hannah yang kehilangan mimpi, bahkan sampai pada Hannah korban seksis sampai misoginis, menjadi gorengan yang tak henti dijajakan di tengah publik.

Hal yang paling mengerikan adalah terkait misoginis sebagai kelanjutan dari seksis. Menurut terapis pernikahan dan keluarga dari Houston, Roma Williams,”Misogini adalah ketidaksukaan, penghinaan, atau prasangka terhadap wanita. Sementara seksisme adalah diskriminasi atau prasangka terhadap orang yang berjenis kelamin lawan.” Spesifikasinya, kalau seksisme bisa diterapkan kepada siapa saja yang mendiskriminasi lawan jenis mereka, sedangkan misogini secara khusus merujuk sampai pada adanya kebencian dan diskriminasi terhadap wanita.

Jika sudah begini, publik siap menyantap gorengan tersebut dan menyampaikan pandangan-pandangannya terkait ini. Cara pandang tertentu akan sangat mempengaruhi pendapat orang per orang sampai pada mempengaruhi gaya hidup. Bisa mengikuti, menyalahkan, bahkan sampai pada mendiskreditkan cara pandang agama serta adanya pendapat terkait ketidakadilan dan kesetaraan gender.

*Gorengan Misoginis dan Seksis dalam Hidangan Kapitalis*

Untuk mengurai sejauh mana gorengan ini laris manis mengerucutkan sebuah pandangan yang mengarahkan pada ketidakadilan gender, maka butuh untuk membawa pikiran pada arah yang tidak hanya menenggelamkan pada masalah perasaan semata. Menilai secara dangkal yang akhirnya jatuh pada misleading opini.

Mengutip dari FYPmedia.id 01-08-2024, tentang aspek Seksisme dan Misoginis dalam kasus Ballerina Farm, ada 3 kontroversi Ballerina Farm yang mencerminkan beberapa isu seksisme dan misoginis dengan lebih luas:

1. Ekspektasi Gender Tradisional

Di poin ini, dijabarkan bahwa ada seksisme dalam “Trad Wife”: Konsep “Trad Wife” mengandung unsur seksisme dengan menekankan peran perempuan sebagai pengurus rumah tangga, mengesampingkan aspirasi profesional atau individu mereka. Meskipun beberapa perempuan memilih peran ini secara sukarela, adanya tekanan sosial untuk mematuhi norma-norma gender tradisional dapat membatasi kebebasan pilihan mereka.

Dari poin pertama yang menyoroti konsep “Trad Wife” yang dinilai mengandung seksisme, yang pada faktanya digambarkan karena ada pilihan perempuan sebagai pengurus rumah tangga dalam kasus Ballerina Farm, sejatinya penjabaran di atas terlalu mengecilkan peran sebagai pengurus rumah tangga. Peran ini seolah dipilih perempuan sukarela atau tidak, keduanya merelasikan adanya tekanan norma. Seolah pilihan ini tak bernilai apa-apa, hanya sekadar perempuan biasa yang urusannya dapur sumur kasur.

Sungguh jika cara pandang kapitalis menuntun cara berpikir, memang pada akhirnya peran pengurus rumah tangga tampak tak membahagiakan. Bayangkan, hidup di pedesaan, mengurus delapan anak, mengurusi segalanya tanpa profit materi, bagi pandangan kapitalis ini adalah hidup rumit yang menyempitkan area kebebasan perempuan. Kebahagiaan materi tak dirasakan. Walhasil gorengan seksis pun laku di kalangan perempuan diperkuat oleh berbagai pandangan para pejuang feminis.

2. Penggambaran Tidak Realistis

Di poin ini dijabarkan tentang misoginis dalam penyampaian citra. Dalam kasus Ballerina Farm, penggambaran kehidupan tradisional dan sederhana sementara memiliki latar belakang kaya raya bisa dianggap misoginis karena menciptakan standar yang tidak realistis bagi perempuan lain. Dikatakan hal ini bisa memicu rasa rendah diri dan ketidakpuasan di kalangan perempuan yang tidak dapat memenuhi standar ideal yang ditampilkan.

Cara pandang kapitalis pada penjabaran ini pun tampak jelas. Mengarahkan pada pandangan bahwa jika kaya raya itu tidak perlu hidup bersahaja. Seakan tidak menikmati hidup, bahkan memicu rendah diri dan tidak puas terkait hidup yang dijalani. Fakta Ballerina Farm akhirnya diselaraskan dengan misoginis yang menimpa Hannah, hingga muncul penilaian bahwa hidup Hannah tidak realistis karena harusnya Hannah bisa mendapat kehidupan yang layak tanpa repot-repot ngurus anak dan segalanya terkait hidupnya. Walhasil gorengan misoginis pun turut laris dihidangkan dengan sudut pandang kapitalis yang juga didukung kuat para pejuang feminis yang menganggap hidup Hannah menjadi tidak realistis dengan hidup yang dipilihnya.

3. Peran Dominan Laki-Laki
Di poin ketiga ini digambarkan tentang seksisme dalam kontrol narasi. Menurut laporan dari jurnalis The Times of London menyebutkan bahwa Hannah Neeleman sering disela atau dikoreksi oleh suami atau anaknya saat memberikan jawaban. Hal ini mencerminkan dominasi laki-laki dalam mengontrol narasi, yang bisa diartikan sebagai seksisme, dengan mengurangi suara perempuan dalam bercerita atau berbagi pengalaman.

Di penggambaran poin ketiga ini pun, kontrol narasi yang disudutkan pada suami Hannah yang sering menyela Hannah hingga setiap narasi Hannah seakan dibatasi sang suami, diakhiri dengan penisbatan adanya dominasi laki-laki yang membatasi peran perempuan untuk berbicara. Tentunya pembatasan suami ini pun tidak disukai kapitalis. Walhasil dengan menginisiasi suami Hannah sebagai pelaku pembatas narasi, seolah dominasi laki-laki sungguh terjadi dan misoginis diduga terjadi. Feminis garang terkait ini.

Sungguh, jika cara pandang kapitalis terus digunakan untuk menggoreng menu misoginis dan seksis dalam hidangan yang ditawarkan, misleading opini akan terus terjadi sampai pada titik memonsterisasi berbagai peran mulia perempuan dalam kehidupan. Terlepas dari cerita Hannah itu benar atau tidak, sesuai dengan kenyataan atau tidak.

*Hakikat Reposisi Peran Perempuan dalam Islam*

Saat ini pada hakikatnya, prinsip kapitalisme telah menipu perempuan dengan sejumlah slogan-slogan palsu, seperti kebebasan perempuan, pemberdayaan ekonomi, aktualisasi diri, pendidikan adalah senjata perempuan, kesetaraan gender, dan slogan lainnya yang semuanya menjadikan perempuan mengukur perannya sesuai dengan bagaimana sistem saat ini memandang sesuatu.

Perbincangan tentang Hannah pun menyeret kaum perempuan untuk larut dalam logika berpikir kapitalis sekuler Terutama kaum feminis. Bagaimana mereka menempatkan Hannah sebagai sosok korban yang tak mampu mengaktualisasi diri, padahal Hannah sebelumnya punya cita-cita menjadi pebalet handal. Hidup Hannah yang memilih menjadi ibu yang secara domestik mengurus suami, anak dan runahnya dinilai seakan tidak memiliki kebebasan untuk dirinya sendiri di ranah publik.
Namun hal tersebut menjadi suatu kewajaran. Saat logika berpikir selalu diukur pada nilai materi dan maju secara ekonomi, semua ukuran-ukuran disandarkan pada nilai dunia saja. Perempuan dianggap bahagia jika setara gender dengan kaum laki-laki, bebas tanpa pengekangan apa pun, serta tidak dinomorduakan. Maka reposisi peran perempuan tidak mengarah pada peran fitrahnya sebagai perempuan yang juga saatnya akan berada pada fungsi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

Berbeda dengan Islam. Islam menetapkan tugas dan peran strategis perempuan pada fungsi keibuannya. Saat perempuan mengabdikan dirinya untuk merawat, membesarkan, dan mendidik anak-anaknya dengan baik, maka dari mereka lahir insan-insan hebat yang mampu menggenggam dunia dengan segenap keunggulannya. Ulama-ulama dan pemimpin hebat, seperti Asy-Syafi’i, Muhammad al-Fatih, dan lain-lain adalah insan unggul yang dihasilkan dari adanya peran perempuan hebat yang melahirkannya.

Menjalankan fungsi ibu, tidak membuat perempuan tertekan, terhambat serta miskin. Dengan keberadaannya sebagai ibu, bangsa tidak menjadi bangsa yang mundur sebagaimana fitnah feminisme yang menganggap peran domestik memiskinkan dan merendahkan perempuan.

Dalam Islam, hukum Islam menetapkan bahwa kebutuhan hidup perempuan dan anak-anaknya wajib dicukupi oleh walinya. Oleh karena itu, Islam mewajibkan laki-laki sebagai wali perempuan untuk bekerja, bukan perempuan yang harus terjun ke ranah publik untuk menanggung beban ekonomi keluarganya.

Demikian pula negara. Negara dalam Islam bertanggung jawab untuk menciptakan kesempatan kerja bagi laki-laki dengan upah yang cukup untuk menghidupi mereka dan keluarganya dengan layak sehingga perempuan tidak terpaksa pergi bekerja untuk menghidupi keluarga atau untuk membantu suami. Bagi perempuan yang tidak mempunyai wali atau kerabat, maka negara Islam telah menyiapkan dana untuk kebutuhan hidup mereka.
Islam tidak mencegah perempuan untuk bekerja selama pekerjaannya bukan yang diharamkan dan tidak mengabaikan peran dan tugas strategisnya di keluarga.

Perempuan pun punya hak mengelola keuangannya sendiri dan tidak ada seorang pun yang diizinkan untuk mengontrol uangnya, mengambilnya, kecuali ia memberikannya dengan sukarela dan ia berhak membelanjakan uangnya sesuai keinginannya. Bahkan, kontribusi perempuan yang bekerja di bidang kesehatan, pendidikan, bisnis dan sebagainya, dipandang sebagai sumbangsih yang berarti dalam kemajuan peradaban Islam.

Bayangkan, jika saja Hannah berada dalam ranah sistem Islam dan dia menjalankan posisinya di Ballerina Farm sesuai konsep Islam, sekalipun nantinya ada yang menerima sikap hidup yang dijalaninya atau ada juga yang menolaknya, maka sikap ideologies mampu Hannah tonjolkan di dalam konten-kontennya.

Hanya saja, Hannah tidak berada di tataran sudut pandang ideologi Islam. Hannah berada pada sistem yang mendiskreditkan pilihannya sebagai ibu rumah tangga biasa yang menjalani hidupnya secara bersahaja di tanah yang luas milik suaminya yang kaya raya. Sehingga keributan publik dalam menanggapi gaya hidupnya penuh dengan berbagai praduga. Seksis dan misoginis menjadi gorengan yang laku di tengah publik sebagai hidangan kapitalis yang mengarahkan pada misleading peran ibu rumah tangga yang harusnya tidak dipilih karena mengekang kebebasan perempuan.

Sistem kapitalis sekuler tidak mengerti nilai surga dan kemuliaan dari peran sebagai ibu. Sistem ini tidak mengerti bahwa peran perempuan begitu dimuliakan tanpa harus membebaskan diri sesuka hati.

Betapa Islam telah memuliakan peran ibu. Banyak nash terkait itu.
Abu Hurairah RA berkata,

“Ada seseorang datang menemui Nabi dan bertanya, “Wahai Rasulullah kepada siapakah aku selayaknya berbuat baik? Beliau menjawab, ‘Kepada Ibumu!’ Orang tadi bertanya kembali, ‘Lalu kepada siapa lagi?’ Rasulullah menjawab, ‘Ibumu’, kemudian ia mengulangi pertanyaan, dan Rasulullah tetap menjawab, ‘Kepada Ibumu!’ ia bertanya kembali, ‘Setelah itu kepada siapa lagi?’ Beliau menjawab, ‘Kepada ibumu!’.” (HR Bukhari)

Islam pun memberikan hak yang agung bagi istri yang harus dilaksanakan oleh suami, sebagaimana suami juga memiliki hak yang agung. Salah satu ayat yang menyebutkan hak istri termaktub dalam potongan surah An Nisa ayat 19,

… وَعَاشِرُوْهُنَّ بِالْمَعْرُوْفِ …
Artinya: “… Pergaulilah mereka dengan cara yang patut…”

Memuliakan anak perempuan sebagai penghantar masuk surga sebagaimana sabda Rasulullah saw.,

“Barangsiapa yang mempunyai tiga orang anak wanita, dia melindungi, mencukupi dan menyayanginya, maka wajib baginya surga. Ada yang bertanya, ‘Bagaimana kalau dua orang anak wanita wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Dua anak wanita juga termasuk’.” (HR Bukhari).
Banyak nash yang begitu memuliakan posisi perempuan jika berada pada ranah ketha’atan.

Demikianlah Islam dan hukum-hukum yang menyertainya. Sekarang pilihan ada di tangan perempuan. Apakah ingin menjadi korban produk kapitalisme. Mengambil segala pandangan sesuai pandangannya yang pada akhirnya semakin mempersulit hidup, atau menjadi ratu yang ditempatkan pada posisi terhormat di rumahnya di lingkungan masyarakatnya dan juga dikayakkannya surga baginya.

Wallaahu a’laam bisshawaab.

×
Berita Terbaru Update