Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Terjerat Prostitusi Online, Dimana Perlindungan Negara?

Saturday, August 31, 2024 | Saturday, August 31, 2024 WIB

Oleh: Yanyan Loyanti

Baru-baru ini, Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkapkan, ada lebih dari 130.000 transaksi terkait praktik prostitusi dan pornografi anak. Kepala PPATK Ivan Yustiavandana menjelaskan bahwa berdasarkan hasil analisis, praktik prostitusi dan pornografi tersebut melibatkan lebih dari 24.000 anak berusia 10 tahun hingga 18 tahun. Bahkan, frekuensi transaksi yang terkait dengan tindak pidana tersebut mencapai 130.000 kali dengan nilai perputaran uang mencapai Rp127.371.000.000,-.

Sebelumnya Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri telah membongkar sindikat pelaku eksploitasi perempuan dan anak di bawah umur melalui media sosial, yaitu aplikasi X dan Telegram. Para pelaku juga menawarkan para pelanggan untuk bergabung ke dalam grup di aplikasi Telegram bernama Premium Place yang melibatkan 1.962 perempuan dewasa dan 19 anak di bawah umur

Menyoroti hal ini, pengamat masalah perempuan, anak, dan generasi dr. Arum Harjanti menyatakan, inilah cermin kebobrokan masyarakat. Menurutnya, melibatkan anak dalam prostitusi adalah satu kejahatan besar yang mencerminkan kebobrokan masyarakat dalam sistem sekularisme-kapitalisme. Diperparah dengan ada orang tua yang membiarkan anaknya terjerat dalam kemaksiatan.

Peristiwa ini, telah menunjukkan bahwa hari ini ada banyak orang yang buta mata hatinya termasuk orang tua sendiri. Ada orangtua yang tidak lagi melihat anak sebagai sosok yang harus dilindungi dan disayang. Mirisnya lagi, mereka abai bahwa anak-anak adalah generasi penerus peradaban pada masa yang akan datang.

Rusaknya generasi hari ini akan membawa keburukan pada masa depan bangsa, kecintaan pada harta, telah mematikan rasa kasih sayang terhadap anak, bahkan anak kandungnya sendiri. Bahkan ada yang tega merusak masa depan anak bangsa pada usia yang masih sangat muda.

Buah Sekularisme Kapitalisme

semua hal tersebut adalah buah dari rusaknya sekularisme kapitalisme. Sistem ini telah menjadikan kenikmatan duniawi dan materi menjadi tujuan tertinggi dalam kehidupan. Menghilangkan rasa kasih sayang terhadap anak, bahkan anak kandungnya sendiri. Lebih dari itu, berulangnya tragedi ini juga menunjukkan kegagalan negara memberikan perlindungan dan jaminan keamanan kepada generasi.

Negara belum memiliki ketahanan digital di tengah gencarnya transformasi digital yang dikembangkan negara. Kegagalan mencetak manusia berkepribadian mulia berdampak pada pemanfaatan teknologi untuk hal yang salah. Mandulnya regulasi dan lemahnya sistem sanksi memberi celah maraknya kejahatan terorganisir yang menyasar anak-anak, kehidupan seperti ini sangat membahayakan keberlangsungan peradaban manusia.

Anak-anak korban kejahatan akan tumbuh dengan jiwa yang rusak dalam kehidupan yang rusak pula. Peradaban manusia yang dibangun pun, akan penuh kehinaan dan jauh dari kemuliaan. Generasi korban kejahatan akan tumbuh menjadi pribadi penuh trauma, rentan, dan rapuh, bahkan berpotensi menjadi pelaku kejahatan yang lebih dahsyat.

Peristiwa ini seharusnya menggugah kesadaran umat Islam bahwa sistem sekularisme kapitalisme yang dipraktikkan hari ini hanya membawa kerusakan generasi dan umat manusia secara keseluruhan. Kini umat membutuhkan sistem yang tidak hanya menjamin perlindungan anak-anak, tetapi juga menjaga kemuliaan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah Swt.

Sistem tersebut adalah sistem Islam yang memiliki mekanisme komprehensif dalam mewujudkan perlindungan bagi anak, baik upaya pencegahan maupun sistem sanksi yang tegas dan menjerakan. Bahkan, penerapan Islam akan meniscayakan terbentuknya generasi berkualitas karena Allah Swt. melarang meninggalkan generasi yang lemah sebagaimana firman-Nya dalam QS An-Nisa ayat 9:

“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Firman Allah tersebut akan menjadi spirit bagi Khilafah dalam mewujudkan generasi yang berkualitas sehingga Khilafah akan menjaga agar anak-anak tumbuh dalam lingkungan yang penuh kasih sayang, terlindungi, sejahtera, serta memiliki iman yang kuat dan akhlak mulia. Wallahu’alam bi Shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update