Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

AKTIVIS DAKWAH JANGAN TUMBANG DENGAN UJIAN

Sunday, August 11, 2024 | Sunday, August 11, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:40:15Z

Oleh : Wakini
Aktivis Muslimah

Hidup tak lepas dari yang namanya ujian, didalamnya penuh dengan duri perjuangan, bahkan sampai menguras hati, pikiran, tenaga dan air mata, terlebih para aktivis dakwah.Tak hanya di uji dari diri sendiri, teman kajian atau guru, orang tua, anak, saudara, suami, istri, sahabat, masyarakat, hingga pemerintah.

Aktivis dakwah di hadapkan pada dua kewajiban sekaligus, apabila di hadapkan dengan larangan suami yang tidak mendukung dakwah, bingung mana yang harus di taati. Padahal,keduanya sama-sama harus dijalankan dan bagian dari perintah Allah, selama tidak melanggar ketaatan kepada Allah dan melanggar hukum Syara’. Maka, di sinilah ikhtiar maksimal aktivis dakwah untuk gercep agar kewajiban kedua-duanya bisa di tunaikan.

Sementara ada juga ujian dari orang tua yang tercekoki oleh paham kapitalis, menuntut sang aktivis atau pelajarnya untuk bekerja menghasilkan uang dibanding dakwah yang tidak menghasilkan apa-apa selain hanya menghabiskan uang dan waktu. Namun, ada hal yang tersulit yaitu menghadapi masalah di dalam tubuh jama’ah, sesama pengemban dakwah. Karena, di dalam tubuh jama’ah banyak kepala pasti banyak pemikiran yang saling berbenturan jika tidak dikokohkan oleh akidah yang benar, maka dakwah akan berjalan tanpa arah.

Belum lagi cibiran tetangga yang mengatakan” perempuan kok sering keluyuran tidak jelas, mending diam di rumah saja, cukup urus rumah tangga taat pada suami, sudah di jamin Allah surga.

Tahukah kamu?? Iya kamu, itulah sekolah kehidupan yang sesungguhnya, para pembelajar memang di uji dengan berbagai macam ujian agar bisa naik kelas dan layak untuk mendapatkan predikat pengemban dakwah tangguh penjaga Islam terpercaya. Kita belum dikatakan benar-benar masuk di sekolah kehidupan, apabila pemikiran islam mu belum dibenturkan dengan pemikiran yang rusak, sehingga melahirkan gejolak dan proses berpikir di tengah-tengah masyarakat.

Masihkah mengeluh,” ujianku sungguh berat penuh masalah, kenapa tidak ada yang mengerti? ” Ingatlah ujian adalah tanda sayang Allah, katakanlah,” wahai Allah, engkau yang maha besar, dan masalahku tidak ada apa-apanya.”

Masihkah mengeluh bahwa saya begitu banyak kesibukan, sementara yang lain tidak sibuk sehingga leluasa berdakwah kesana kemari? Dakwah pun hanya di sisa-sisa waktu, bahkan sangking sibuknya sampai lalai hadir di kajian, karena kesibukan oleh dunia yang tidak bisa di bawa mati? Padahal mereka jauh lebih sibuk. Namun, mereka mampu mengatur waktunya dengan baik.

Marilah jangan mengeluh, kenapa si fulana begini, dan kenapa si fulana begitu. Dakwah di sini beda dengan dakwah di sana. Kenapa aturannya di sini begini, kenapa aturannya di sana begitu? Apa yang berbeda, sementara lahir dari rahim yang sama?

Ketahuilah, tugas kita hanya sami’na wato’ na selama itu tidak melanggar ketentuan hukum Syara’. Jika masing-masing orang mempertahankan pendapatnya, maka dakwah tidak akan pernah jalan. Karena hanya sibuk mengurusi hal tehnik, sementara urusan umat terbengkalai.

Marilah kita luruskan niat dengan mengikhlaskan hati untuk belajar dan mengajar, membina dan membersamai dengan sepenuh hati semata-mata mengharapkan ridho Allah semata. Bersabar atas setiap keputusan dan kebijakan di atas. Meskipun tidak sesuai dengan yang kita inginkan, dan tidak ego dengan pendapat masing-masing.

Kepada siapa lagi dakwah ini akan di amanahkan selain kepada orang yang benar-benar di pilih Allah untuk mengembannya. Marilah segera memantaskan diri untuk menjadi bagian dari pengemban dakwah yang tangguh. Jangan mengikuti penyakit hati yang dapat menggugurkan semua amalanmu. Ingat semakin kita terpecah belah, maka semakin jauhlah pertolongan Allah, dan makin bergembira setan menyusupi hati aktivis dakwah.

Wallahu a’lam bishowwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update