Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty
(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)
Fajar Nugroho siswa SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten meninggal dunia usai diceburkan ke kolam oleh teman-temannya saat merayakan ulang tahun Senin (08-07-2024) siang. (KompasTV, 11-07-2024)
SMAN 1 Cawas, Klaten, melakukan evaluasi dan pembenahan total menyusul insiden meninggalnya ketua OSIS sekolah tersebut akibat tersetrum di kolam ikan seusai mendapat kejutan ultah dari teman-temannya dengan ditabur tepung dan diceburkan ke kolam, Senin (08-07-2024). (Solopos..com, 10-07-2024).
FN meninggal setelah tersengat listrik. Sempat dilarikan ke RSI Cawas, namun nyawanya tidak tertolong. Dua temannya sempat mencoba membantu, tetapi salah satu di antaranya juga tersetrum dan masih dalam perawatan di rumah sakit. Keluarga syok, namun kedua orang tua korban memilih tidak melanjutkan proses hukum. Mereka menganggap apa yang terjadi pada putra mereka adalah musibah.
Penyesalan memang tidak datang diawal. Maksud hati mau menggembirakan korban dengan surprise tertentu, yang terjadi malah hilangnya sebuah nyawa.
*Butuh Muhasabah*
Sungguh peristiwa seperti ini bukan hanya sekali dua kali terjadi. Surprise ultah banyak menelan korban. Bahkan sampai pada taruhan nyawa.
Sejatinya memang peristiwa yang menimpa FN adalah musibah yang tidak terduga. Namun, muhasabah setelah peristiwa menyedihkan ini tetaplah harus dilakukan. Jangan sampai aksi seperti ini terulang kembali. Hilangnya nyawa bukanlah canda. Perilaku yang dilakukan tanpa pikir panjang bisa membahayakan.
Tren ultah yang beraneka ragam dari kejutan ringan sampai yang membahayakan membudaya di tiap kalangan. Bukan hanya pelajar namun di kalangan remaja hingga manula. Bila tak ada batas, bisa mengarah pada perundungan bahkan hilangnya nyawa.
Tak jarang remaja saat ini menunjukkan eksistensi diri dengan perilaku yang di luar nalar, aneh, bahkan brutal, dan fatal. Terkait kejutan ultah saja, perilaku yang merupakan cerminan eksistensi diri menjadi ajang cara yang dicari. Agar yang diberi kejutan memang benar-benar terkejut dibuatlah aksi yang relevan dengan ultah untuk menunjukkan eksistensi diri.
Belum lagi perilaku impulsif juga mewarnai kehidupan remaja masa kini. Menceburkan teman ke kolam tanpa memikirkan kondisi kolam dan konsekuensi bahayanya termasuk perilaku impulsif atau spontanitas. Jika terjadi berulang, perilaku ini menjadi bagian dari kepribadian seseorang yang bisa membahayakan diri sendiri juga orang lain.
Sangat nyata. Sistem pendidikan sekuler tidak mampu membentuk karakter dan mental kuat dalam setiap peserta didik. Jebakan budaya asing yang bertentangan dengan Islam semisal ulang tahun, menjadi euforia yang wajib dirayakan diwarnai dengan berbagai kejutan. Arus sekularisasi juga membuat remaja mudah meniru gaya hidup hedonis, permisif, dan bebas berperilaku sesuai keinginannya. Kebahagiaan hidup diukur dengan kesenangan materi. Bersenang-senang tanpa melihat adanya bahaya menjadi hal yang lumrah saja.
Apa yang terjadi pada FN mengindikasikan bahwa sekolah pun seharusnya lebih berhati-hati dalam pemeliharaan sarana dan prasarana. Ternyata kolam ikan di SMAN 1 Cawas tersebut sudah ada sejak 20 tahun yang lalu, dan kemungkinan kurang diperhatikan keberadaannya. Padahal seharusnya fasilitas, sarana, dan prasarana sekolah diawasi dan dirawat secara berkala agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Muhasabahnya adalah kita harus berpikir sebelum melakukan sesuatu. Jika tidak maka kesalahan yang dilakukan tidak bisa diperbaiki dan dikembalikan lagi seperti semula, seperti hilangnya nyawa manusia.
*Paradigma Islam Terkait Perilaku*
Menelisik perilaku remaja saat ini, perbuatan tanpa memikirkan akibat dan risiko yang ditimbulkan seringkali terjadi. Perilaku spontan, impulsif, ceroboh, sumbu pendek, dan mudah terbawa perasaan adalah sederet perangai yang dimiliki mayoritas remaja hari ini.
Remaja saat ini dibentuk oleh pemikiran dangkal yang diasuh oleh sistem sekuler kapitalis liberal. Kehidupan serba boleh membuat mereka gegabah dan meminggirkan kehati-hatian saat bertindak. Alih-alih memiliki pemikiran mendalam dan matang, remaja sekarang justru lebih mengedepankan perasaan.
Berbeda dengan sistem Islam. Di dalam Islam, setiap individu harus memiliki kaidah berpikir mendalam dan benar. Proses berpikir akan dilakukan sebelum berbuat, sesuai dengan syariat. Alhasil terbentuklah karakter khas di dalam dirinya.
Dengan karakter ini, kesalahan fatal akibat perilaku asal-asalan tidak akan terjadi. Pertimbangan berbagai aspek dan sudut pandang berdasarkan syariat, bukan nafsu semata meningkatkan kualitas keputusan yang akan diambil saat akan melakukan sesuatu. Perilaku sekadar ikut-ikutan tren pun bisa dihindari. Remaja pun akan jauh dari amalan sia-sia yang menyia-nyiakan waktu.
Ketika pola pikir terbiasa bersandar pada Islam maka pola sikap yang sesuai dengan ketentuan Islam akan terwujud. Ketakwaan senantiasa meningkat dalam setiap helaan nafas hidupnya. Dan ini hanya bisa terbentuk jika dituntut untuk menjadi muslim yang kafah, yakni menjadikan Islam sebagai petunjuk hidupnya.
Oleh karena itu jika kita menginginkan generasi muda memiliki karakter dan kepribadian yang baik dan kuat, akidah Islam harus menjadi fondasi dalam sistem pendidikan. Perilaku mereka akan sangat terjaga, tidak semena-mena.
Kondisi ini sudah terbukti tatkala sistem pendidikan Islam berhasil menciptakan peradaban agung yang melahirkan banyak generasi cemerlang dengan segenap prestasi, baik yang bersifat duniawi maupun ukhrawi. Generasi Shalahuddin dan Al Fatih sebagai bukti, saat perang salib dan penaklukan Konstantinopel.
*Paradigma Islam Terkait Prinsip Dasar Pendidikan*
Dalam sistem Islam jalan utama dan penting dalam melahirkan generasi berkualitas adalah melalui pendidikan. Sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh, negara dalam sistem Islam (Negara Khilafah) akan mewujudkan pendidikan sebagai kebutuhan asasi yang harus dijamin pemenuhannya. Untuk merealisasikannya negara akan berupaya menyelenggarakan pendidikan secara gratis untuk seluruh warga. Generasi tidak terbebani dengan biaya pendidikan. Mereka bisa fokus belajar dan meraih cita-cita terbaiknya. Oleh karena itu beberapa hal yang sangat prinsip diperhatikan di dalamnya, antara lain:
Pertama, kurikulumnya berasas pada akidah Islam. Apabila akidah Islam sudah menjadi asas yang mendasar bagi kehidupan seorang muslim, seluruh pengetahuan yang dia terima akan didasarkan pada akidah Islam. Alhasil, akan terbentuk individu yang memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan tuntunan Islam.
Kedua, pendidikan Islam mengarah pada pengembangan keimanan sehingga melahirkan amal saleh dan ilmu yang bermanfaat. Islam menekankan bahwa pendidikan harus meningkatkan kualitas individu sehingga menjadi hamba yang memiliki ketaatan tinggi dengan amal saleh terbaik. Prinsip ini akan menjadikan generasi senantiasa berhati-hati dalam setiap perbuatannya. Standar nilai perbuatan tidak berpedoman pada pandangan manusia, tetapi halal haram berdasarkan syariat Islam.
Ketiga, mengarahkan potensi-potensi baik yang ada pada diri setiap manusia agar selaras dengan fitrah manusia dan meminimalkan aspek yang buruk.
Keempat, tujuan menuntut ilmu adalah dalam rangka mengenal Allah Taala sebagai pencipta, menyaksikan keagungannya dalam berbagai fenomena yang diamati, serta mensyukuri seluruh nikmat yang Allah beri.
Kelima, ilmu yang dikembangkan dan teknologi yang diciptakan ditujukan untuk memberi manfaat dan kemaslahatan bagi kehidupan manusia, bukan menimbulkan kerusakan di muka bumi.
Walhasil produk generasi yang dihasilkan pun bukan produk abal-abal. Dari prinsip mendasar ini lahirlah para ilmuwan hebat yang mampu membuka tabir dunia sehingga mendorong insan semakin bertakwa. Bukan generasi yang hanya sibuk ngonten dengan aksi-aksi yang tidak berguna. Naudzu billaahi min dzaalik.
Wallaahu a’laam bisshawaab.
No comments:
Post a Comment