Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Rohingya, di Balik Nasionalisme Dan Hilangnya Rasa Persaudaraan Hakiki, Sebuah Realita yang Hampir Terlupa

Saturday, July 20, 2024 | Saturday, July 20, 2024 WIB

Oleh Sri Rahayu Lesmanawaty

(Aktivis Muslimah Peduli Generasi)

عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى
-رواه مسلم –

“Dari An-Nu’man bin Bisyir dia berkata, bahwa Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan menyayangi di antara mereka adalah ibarat satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga (tidak bisa tidur) dan panas (turut merasakan sakitnya).” (HR Muslim No 4685)

Sungguh, ajaran Islam merupakan ajaran yang senantiasa menebarkan kasih sayang. Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda diriwayatkan Imam Abu Dawud, “Sayangilah penduduk bumi, niscaya engkau akan disayangi oleh penghuni langit (para Malaikat).”

Namun sayangnya realisasi dari sunnah Rasul ini jauh panggang dari api. Alih-alih limpahan kasih sayang tercurah, yang ada adalah kisah persaudaraan yang kian lemah.

Kasus Rohingya yang tertolak, yang hampir terlupakan saat ini menunjukkan realita nyata betapa nilai ukhuwah Islamiyyah tiada. Padahal Allah Swt begitu tegas menyampaikan dalam kitabNya. Sebagaimana firman Allah ta’ala dalam potongan surat Al fath ayat 29

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka…”

Mengutip dari tirto.id, Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menyatakan bahwa respon sejumlah pihak yang menolak ratusan pengungsi Rohingya dan meminta pengembalian mereka ke negara asal, merupakan tindakan yang tidak bertanggung jawab. Dia menilai hal tersebut sebagai kemunduran keadaban bangsa ini. Padahal, kata Usman, masyarakat sebelumnya telah menunjukkan kemurahan hati dan rasa peri kemanusiaan kepada pengungsi Rohingya. “Mereka (pengungsi Rohingya) mencari keselamatan hidup setelah berlayar penuh dengan perahu seadanya di laut yang berbahaya,” ujar Usman dalam keterangannya, Minggu (19/11/2023).

Fakta ini menggambarkan betapa sekat negara bangsa telah menghilangkan Iman taqwa manusia dalam hal menolong sesama manusia (terlebih ini adalah sesama Muslim). Kalimat “kembalikan mereka ke negara asal” mengidentikkan bahwa nasionalisme lebih utama dibanding persaudaraan.
Mengapa ini bisa terjadi?

*Nasionalisme Meruntuhkan Rasa Persaudaraan Hakiki*

Saat Rohingya mengalami genosida, nasionalisme meracuni setiap relung hidup manusia (tidak terkecuali Muslim Indonesia) hingga penderitaan di negeri lain adalah masalah yang tidak ada hubungannya dengan mereka.

Saat Rohingya mengalami genosida, nasionalisme telah melepaskan rasa kasih sayang dan kemanusiaan, hingga diam membisu, pura-pura tidak tahu, puncaknya adalah tidak adanya kemauan politik untuk bergerak menurunkan pertolongan kecuali jika itu untuk kepentingan mereka saja.

Saat Rohingya mengalami genosida, nasionalisme dalam bentukan negara-bangsa, menyebabkan rezim muslim tegas menolak bahkan mengusir saudara Muslim Rohingya yang terombang ambing penuh derita mencari perlindungan karena mereka memandang saudara sebagai orang asing yang tak perlu mendapatkan uluran pertolongan. Dan kita bisa menyaksikan Pemerintah Malaysia, Indonesia, dan Bangladesh mengusir pengungsi Rohingya. Para penguasa dengan penolakannya, lebih suka melihat para pengungsi mati di lautan daripada menyambutnya dan memberikan perlindungan.

Rezim Hasina di Bangladesh menerima pengungsi Rohingya namun ditempatkan di Pulau Bhasan Char yang tidak layak huni yang rawan banjir, atau pengungsi diminta kembali ke negara mereka yang artinya pengungsi kembali ke tangan para monster pembunuh di Myanmar.

Begitu pula dengan Malaysia dan Indonesia, gelombang penolakan semakin sengit, padahal pengungsi Rohingya adalah saudaranya, bukan pembegal, perampok, maling seperti para investor asing aseng yang telah menghisap harta kekayaan negara.

Demikianlah, nasionalisme yang penuh dengan sibghah sekuler kapitalis telah meruntuhkan nilai persaudaraan hakiki. Mengabaikan perintah Nabi untuk saling mengasihi. Mengingkari ayat Ilahi untuk bergerak menolong saudara yang tersakiti. Semua nilai agung tidak lagi dita’ati.

*Rantai Nasionalisme Harus Diputus*

Sungguh, jika rantai Nasionalisme masih kuat terjalin, maka nasib pengungsi Rohingya sulit untuk berubah. Tetap berada dalam dahsyatnya badai penderitaan. Sehingga sangat butuh solusi untuk menyelesaikannya yaitu dengan memutus rantai Nasionalisme mengubahnya menjadi rantai ukhuwah Islamiyyah yang berada pada naungan Daulah Khilafah Islamiyyah, karena di bawah naungannya nasib manusia terselamatkan.

Tak ada lagi Muslimah yang diperkosa, disakiti dan dibunuh (hal yang terjadi pada muslimah Rohingya) karena hadirnya pemimpin sekaliber Al-Mu’tasim Billah yang mengirimkan pasukan besar untuk menyelamatkan seorang wanita muslim di Amuriyah, Turki, yang ditangkap dan dianiaya oleh Romawi, padahal ibu kota Khilafah berada di Baghdad pada waktu itu. Juga sehebat Al-Mansyur bin Abi Aamir dari Andalusia, Spanyol, yang mencapai ujung selatan Prancis (Kerajaan Navarre) saat menyelamatkan dua wanita muslim yang dipenjarakan di sebuah gereja. Dan masih banyak keunggulan sosok dalam sistem Islam untuk melindungi nyawa manusia.

Mungkinkah untuk memutuskan rantai Nasionalisme? Sangat mungkin, dan tentunya perlu beberapa upaya untuk merealisasikannya.

Pertama, meningkatkan kesadaran atas realitas yang terjadi adalah buah dari pemahaman yang salah, sehingga butuh upaya untuk senantiasa beramar ma’ruf nahyi munkar (dakwah) terkait kesalahan dan solusi yang benar terkait permasalahan Rohingya.

Kedua, meminta pertanggungjawaban para penguasa negeri Islam agar menghentikan segala bentuk kerjasama dengan rezim Myanmar.

Ketiga, menyeru tentara Muslim untuk turun tangan secara mobil untuk membebaskan umat Islam yang menjadi korban genosida.

Keempat, bergabung dengan kelompok yang senantiasa berjuang dan berupaya mewujudkan kekuatan adidaya kekhilafahan untuk melanjutkan kehidupan Islam agar semua permasalahan di dunia saat ini bisa terselesaikan dengan paripurna sesuai arahan Allah dan RasulNya, dan tentunya genosida Rohingya pun terselesaikan hingga tak ada lagi uraian derita melanda. In syaa Allaah, kemenangan sempurna saat Khilafah tegak akan disertai keberkahan sepanjang masa.

وَعَدَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ كَمَا ٱسْتَخْلَفَ ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ ٱلَّذِى ٱرْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّنۢ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِى لَا يُشْرِكُونَ بِى شَيْـًٔا ۚ وَمَن كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik” ( QS. An-nuur:55).

Wallaahu a’laam bisshawaab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update