Oleh: Kiki Ariyanti
Dikala niat hati ingin memberikan kejutan untuk merayakan ultah teman, akan tetapi kejutan itu berakhir dengan duka. Itulah kisah pilu yang terjadi di SMA Negeri 1 Cawas Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tepatnya pada hari Senin, 8 Juli 2024 ketua OSIS SMA Negeri 1 Cawas tewas usai diceburkan oleh teman-temannya dalam rangka memperingati hari kelahirannya.
Dikutip dari KOMPAS.TV 11 Juli 2024, Menurut Kapolsek Cawas, sebelum kejadian para anggota OSIS mengadakan rapat untuk membahas lomba yang akan dilaksanakan pada tanggal 25 Juli besok. Kebetulan pada hari yang sama, korban Fajar Nugroho sebagai ketua OSIS sedang berulang tahun.
Lalu korban diberi tepung dan ramai-ramai diceburkan ke kolam taman sedalam 1,75 meter. Saat itu korban yang diduga tidak bisa berenang memegang pralon di atas kolam yang ada kabel listriknya dan tersetrum lalu meninggal dunia. Teman korban yang sempat menolong pun tersetrum namun tidak meninggal dunia.
Sungguh miris, nasip tragis yang menimpa ketua OSIS SMA Negeri 1 Cawas Fajar Nugroho benar-benar tidak disangka. Berencana supaya teman merasa gembira karena diberi kejutan ultah namun malah kematian yang menimpanya. Sedih dan syok pasti itulah yang dialami oleh orang tua korban. Sebab tidak terbayang sebelumnya, anaknya yang berangkat sekolah dalam keadaan sehat lalu pulang sudah menjadi jasad.
Memberi kejutan untuk merayakan ulang tahun teman sudah menjadi tren di kalangan anak remaja. Seperti yang sering kita lihat, mereka yang sedang ultah disiram dengan tepung, air, dilempar telur atau kalau kata anak-anak sekarang di prank. Hal itu merupakan perbuatan yang wajar bagi mereka bisa jadi merupakan bentuk eksistensi diri para remaja saat ini. Terkadang mereka melakukan hal seperti itu atau prank dengan cara yang berlebihan, mereka akan membuat korban prank sampai syok hingga bersedih.
Di sisi lain, perilaku remaja seringkali spontan tanpa disertai pemikiran yang mendalam. Inginnya membuat happy, seru-seruan tanpa berpikir bagaimana nanti resikonya yang akhirnya tindakan itu berakhir fatal.
Generasi saat ini memang memprihatinkan. Perilaku mereka di akibatkan karena mereka belum faham atas kaidah berpikir dan beramal, serta adanya pertanggung jawaban atas setiap perbuatan. Sebenarnya mereka sudah banyak yang tau jika segala perbuatan kita di dunia kelak akan diminta pertanggung jawaban namun karena kita sekarang hidup dalam sistem kapitalis dengan asas sekularisme atau pemisahan agama dari kehidupan maka pikiran dan akhlak mereka dirusak dan diporak-porandakan.
Generasi saat ini benar-benar butuh bimbingan. Mereka tidak mendapatkan pengajaran pendidikan Islam sebagai ideologi. Yang mereka tau agama Islam hanya sebagai agama ritual saja yang hanya digunakan ketika kita melaksanakan ibadah mahdo seperti saat kita sholat, puasa, ngaji dan lain sebagainya. Setelah itu agama tidak lagi dijadikan landasan ketika kita akan melakukan suatu perbuatan.
Belum lagi sistem kapitalis sekuler sangat menjunjung tinggi sebuah kebebasan dengan berbagai tontonan yang disajikan menunjukkan bahwa hanya kepuasan materi yang bisa menciptakan kebahagiaan. Tujuan hidup bukan lagi untuk beribadah meraih ridho Allah melainkan meraih kebahagiaan dunia dengan cara apapun tanpa peduli halal atau haram. Hidup bebas dengan aturan sendiri bukan aturan dari Pencipta Allah ta’ala. Itulah kondisi generasi sekarang dalam sistem kapitalis sekuler mereka semakin jauh dari pemahaman Islam. Jadi perbuatan yang dilakukan mereka hanya bersenang-senang dan jauh dari produktif.
Agar generasi bisa produktif memiliki akhlak yang mulia maka mereka butuh pendidikan, bimbingan dan dukungan dari keluarga, masyarakat juga negara. Dengan penerapan sistem Islam kaffah aturan-aturan Allah yang sempurna bisa diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Dimana aturan itu sesuai dengan fitrah manusia. Para generasi yang memiliki potensi yang melimpah juga semangat yang membara akan di didik dengan pendidikan berbasis aqidah Islam. Supaya mereka menjadi generasi tangguh, berkepribadian Islam yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat dan bangsa. Bukan menjadi generasi lemah berperilaku sekuler yang sering melakukan tindakan unfaedah bahkan brutal.
Sejak dini Islam sudah menanamkan kesadaran kepada anak-anak bahwa hakikatnya kita hanyalah seorang hampa yang wajib taat kepada aturan Allah Swt. Mereka diatur oleh aturan Allah agar mereka faham tentang tujuan hidup yang sebenarnya. Sehingga amal perbuatan mereka terikat dengan hukum syara’. Supaya nanti bisa menjadi generasi berguna untuk umat muslim di seluruh dunia. Wallahu a’lam bishshawab
No comments:
Post a Comment