Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Anak Durhaka, Potret Generasi dalam Sekulerisme

Monday, July 01, 2024 | Monday, July 01, 2024 WIB

Oleh : Jihan Fadhilah S.T.
(Pemerhati Kebijakan Publik)

 

Krisis di negeri ini bertambah lagi. Kali ini perihal maraknya fenomena anak membunuh orang tua kandungnya. Sebagaimana kutipan dari Liputan 6 bahwa viral di media sosial seorang pedagang ditemukan tewas di sebuah toko perabot kawasan Duren Sawit, Jakarta Timur.

Menurut hasil penyelidikan polisi, pelaku adalah dua anak kandung perempuan korban, yang masing-masing masih berusia 16 dan 17 tahun. Mereka menusuk ayahnya sendiri menggunakan sebilah pisau. Modusnya sakit hati kepada korban karena pelaku dimarahi oleh korban usai kedapatan mencuri uang korban. (liputan6, 23/6/2024)

Mencermati fenomena di atas, sungguh miris karena para pelaku masih berusia remaja. Tindakan mereka yang sampai menghilangkan nyawa orang jelas tindakan kejahatan, apalagi dilakukan kepada orang tua kandungnya.

Tentu tidak berlebihan jika kita menyebut mereka anak durhaka. Dalam legenda Malin Kundang si anak durhaka saja, ia tidak sampai membunuh orang tuanya. Namun, para pelaku pembunuhan tadi justru tidak ubahnya “Malin Kundang” versi modern yang justru jauh lebih sadis.

Gempuran pemikiran begitu deras menyerang keluarga-keluarga di Indonesia. Salah satunya serangan pemikiran sekulerisme yang menjadikan pertimbangan di dalam keluarga bukan halal-haram, melainkan materi sebagai nilai yang tertinggi. Jika salah satu anggota keluarga tidak memberi manfaat maka akan disingkirkan, tak terkecuali orang tuanya sendiri. Tidak ada lagi rasa hormat terhadap orang tua, bahkan anak menjadi durhaka.

Pemicunya karena materi (uang), kerasnya tekanan gaya hidup, ketidakadilan ekonomi serta lemahnya penanaman nilai agama yang menjadikan seseorang kehilangan fitrahnya sebagai manusia. Begitu hebatnya sekulerisme menghancurkan bangunan keluarga.

Masalah utama dalam keluarga disebabkan sekulerisasi keluarga. Pertama, sekulerisme berhasil mengikis pemahaman tentang menjaga kewajiban dan hak antar anggota keluarga. Hal itu disebabkan di tinggalkannya nilai-nilai Islam dalam keluarga.

Kedua, sekulerisme berhasil mencabut fitrah seorang ibu, demi memenuhi kebutuhan keluarga yang semakin tinggi standarnya lalu mencapai kemandirian ekonomi. Para ibu meninggalkan rumah dan mengabaikan peran utamanya sebagai pendidik generasi dan pencetak generasi cemerlang.

Inilah yang menyebabkan generasi durhaka banyak dilahirkan dalam sistem sekuler-liberalisme. Kerapuhan dalam keluarga akibat sekulerisme menjadikan anak-anak sebagai pribadi yang tak beradab dan bergaya hidup bebas, sesuka hatinya bersikap pada siapa pun termasuk orang tuanya. Apalagi dalam sistem ini, orang bebas berbuat, bebas memiliki, bebas beragama dan bebas berpendapat, semua itu dilindungi oleh negara.

Penerapan sistem hidup kapitalisme lagi-lagi terbukti gagal memanusiakan manusia. Fitrah dan akal mereka tidak terpelihara oleh sistem sahih, alih-alih mampu menyuburkan ketaatan dan amal saleh. Sekularisme-kapitalisme justru telah menjauhkan manusia dari tujuan penciptaannya yaitu sebagai hamba Allah dan khalifah pembawa rahmat bagi alam semesta.

Kisah Luqman di dalam Al-Qur’an saat menasihati anaknya adalah contoh terbaik. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah saw., “Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR At-Tirmidzi).

Tidak sebatas itu, Islam juga memiliki mekanisme dalam menjauhkan generasi dari kemaksiatan dan tindak kriminal, baik secara individu, keluarga, masyarakat, dan negara, sebagaimana firman Allah Taala dalam ayat, “Dan barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (QS An-Nisa [4]: 14).

Setelah sebuah keluarga terbentuk, maka ridha Allah adalah menjadi tujuannya. Setiap anggota keluarga haruslah taat pada seluruh aturan Allah dan menjauhi larangan-Nya. Karena kebahagiaan yang dituju bukan hanya di dunia, tapi kehidupan yang abadi kelak yaitu di akhirat yang kekal.

Islam juga mendidik generasi menghormati orang yang lebih tua, menyayangi orang yang lebih muda, menghargai sesama bahkan mewajibkan anak “Birul Walidayn” dan memuliakan orang tuanya.

Kewajiban berbuat baik kepada orang tua, bahkan Allah posisikan setelah beribadah dan mentauhidkan-Nya. Oleh karena itu, bersuara keras mengucapkan kata “Ahh” saja dilarang, apalagi yang dapat menyakiti orang tua.
Negara bertanggung jawab agar gangguan yang muncul di luar rumah dapat dihentikan. Tidak akan ada perzinahan, pornografi, miras, narkoba, tontonan kekerasan dan lain sebagainya.

Negara menciptakan lingkungan yang penuh dengan suasana ilmu, kerja keras, dakwah dan jihad. Maka didikan orang tua akan berdampak besar pengaruhnya karena didukung oleh suasana lingkungan yang dibentuk oleh Khilafah. Dijamin pula stabilitas politik dan keamanan, pembangunan fasilitas pendidikan, ditambah wakaf dari orang-orang kaya di bidang ilmiah. Lalu ketekunan keluarga mendidik bibit terbaik yang akan menjadi aset terbaik negara, dipastikan fungsi keluarga berjalan dengan baik.

Khilafah telah terbukti berhasil mendidik generasi menjadi generasi emas yang unggul, bermental juara bukan generasi durhaka yang tak beradab. Negara benar-benar menjalankan perannya sebagai penjaga keluarga dari berbagai gempuran ide yang berbahaya dan merusak.

Sungguh kita menantikan era kejayaan Islam dalam naungan Khilafah, tak akan lagi kita dengar anak yang berlaku keji pada kedua orang tuanya, tapi sebaliknya, anak memuliakan orang tuanya dengan menorehkan berbagai karya dan prestasi di dunia dan membawa kebaikan di akhirat. Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update