Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pelecehan Anak Terus Berulang, Bukti Tergerusnya Fitrah Ibu

Tuesday, June 18, 2024 | Tuesday, June 18, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:43:44Z

Oleh: Hasriyana, S.Pd
(Pemerhati Sosial Asal Konawe)

 

Lagi dan lagi pelecehan terhadap anak terus berulang. Mirisnya orang yang mencabuli justru yang terdekat dari anak sendiri, yaitu orang tua. Kasus pelecehan terhadap anak mungkin hanya beberapa yang terekspose oleh media, tapi sesungguhnya masih banyak lagi kasus serupa yang tak terekspose. Hal ini seperti fenomena gunung es. Jika seperti ini, lalu di mana anak akan mencari perlindungan?

Sebagaimana yang dikutip dari Tempo, 08-06-2024, seorang ibu muda di Bekasi berinisial AK, 26, ditangkap Polda Metro Jaya karena kasus ibu cabuli anak. Sama seperti kasus serupa di Tangerang Selatan (Tangsel), AK nekat mencabuli anaknya sendiri karena tergiur tawaran uang dari sebuah akun Facebook.

Video asusila yang direkam sendiri oleh AK itu viral di media sosial. AK membuat video asusila itu di tempat tinggalnya di Kampung Pakuning, Desa Sukarahayu, Kecamatan Tambelang, Kabupaten Bekasi. Ayah kandung AK bernama K, 62 tahun, mengaku kaget saat mengetahui anaknya terlibat video asusila. Sebab, menurutnya AK selama ini merupakan anak baik yang tak pernah neko-neko.

Berulangnya kasus pelecehan terhadap anak mengindikasikan anak tidak mendapat jaminan keamanan, khususnya di lingkungan terdekat dengan anak, yaitu keluarga. Banyak korban pelecehan seksual anak yang terjadi di masyarakat, justru yang menjadi pelakunya adalah orang terdekat, bahkan orang tua sendiri. Kalau sudah seperti itu faktanya, lalu di mana anak harus mencari perlindungan dan keamanan? Jika di tengah keluarganya sendiri dirinya menjadi korban.

Pun kondisi keluarga muslim hari ini memang sedang tidak baik-baik saja, dengan naiknya berbagai macam kebutuhan pokok di masyarakat menjadi beban tambahan bagi orang tua khususnya. Terlebih jika mereka hidup dalam ekonomi menengah ke bawah. Jangankan untuk membeli kebutuhan primer untuk anak saja sudah susah dipenuhi, apalagi untuk memenuhi kebutuhan sekunder. Sehingga tidak heran dengan desakan ekonomi, orang tua khususnya ibu mampu tergiur membuat video asusila hanya karena diiming-imingi uang.

Selain itu, tidak jarang orang tua dan calon orang tua pun masih minim ilmu bagaimana mendidik anak sesuai tuntunan agama. Di mana pendidikan akan disesuaikan dengan level berpikir anak tersebut. Termasuk bagaimana seharusnya anak bisa menjaga batasan auratnya di hadapan mahram dan non mahram. Mana yang boleh disentuh dan tidak. Sehingga banyak anak tidak menyadari bahwa dirinya telah dilecehkan.

Hal ini justru berbeda dengan sistem Islam, di mana dalam tataran keluarga akan diberikan edukasi berkaitan pemahaman Islam. Bahkan basic akidah akan diperkuat sehingga melahirkan masyarakat yang memiliki pemahaman Islam yang benar. Keyakinan itu juga yang akan memperkuat keimanan seseorang termasuk orang tua dalam mendidik anak-anaknya di dalam keluarga, sehingga akan sangat minim ditemukan orang tua yang melecehkan anaknya sendiri.

Di samping itu, dalam tataran negara akan memberikan jaminan terpenuhinya kebutuhan pokok bagi masyarakat. Jika tidak gratis, maka harganya akan bisa dijangkau oleh masyarakat menengah ke bawah. Sehingga beban hidup dalam keluarga akan terasa lebih ringan, jika negara hadir dalam memberikan pelayanan bagi masyarakat. Untuk itu kecil kemungkinan terjadi pelecehan seksual orang tua terhadap anak karena desakan ekonomi.

Oleh karena itu, kita tidak bisa berharap banyak pada sistem saat ini yang notabene belum bisa menyelesaikan persoalan kekerasan terhadap anak, mengingat banyak hal yang memicunya. Dari itu, tidakkah umat ini rindu pada penerapam islam dalam seluruh aspek kehidupan? Karena sungguh Allah yang menciptakan manusia, maka Dia pula yang lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hambanya. Wallahu a’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update