Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pajak Menggurita, Rakyat Semakin Menderita

Monday, June 03, 2024 | Monday, June 03, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:45:16Z

 

Oleh. Imas Sunengsih, S.E., M.E
(Aktivis Muslimah Intelektual)

Rakyat kembali resah dengan rencana pemerintah yang akan menaikkan pajak PPN menjadi 12%. Kondisi yang sedang sulit hari ini terus bertambah dengan kenaikan pajak yang menggurita. Hal ini tentu menjadikan rakyat semakin menderita. Karena kenaikan pajak ini pasti akan disusul dengan kenaikan harga kebutuhan pokok.

Kabar kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) langsung disampaikan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Ia mengatakan, keputusan itu sepenuhnya merupakan wewenang dari pemerintahan presiden dan wakil presiden terpilih 2024-2029, yaitu Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. (Jakarta, CNBCIndonesia, 20/5/2024).

Bisa dipastikan, sebuah negara yang mengadopsi ideologi kapitalisme akan terus menjadikan pajak sebagai sumber utama dalam pemasukan negara. Pemilik kebijakan akan berupaya untuk selalu menggenjot pajak dari semua sektor untuk dijadikan pemasukan negara. Maka kenaikan pajak akan terus akan dilakukan termasuk PPN.

Jika PPN naik tentu akan berimbas kepada kenaikan semua komoditi barang dan jasa. Jadi perusahaan/produsen tidak mau rugi, maka beban PPN ini  akan dibebankan kepada konsumen. Setiap membeli barang atau jasa sudah dikenakan tarif PPN, pastinya beban rakyat semakin meningkat.

Negara yang menerapkan kapitalisme akan terus berlepas tangan dari tanggung jawabnya mengurusi rakyat. Sehingga rakyat dibiarkan hidup dengan beban yang luar biasa berat dikarenakan kenaikan di semua sektor seperti barang, jasa, pendidikan, kesehatan, pajak, dll. Parahnya lagi, rakyat yang tidak mampu dibiarkan begitu saja tanpa bisa menikmati kebutuhan yang diperlukan.

Pemerintah berbisnis dengan rakyatnya, untung dan rugi yang selalu dicari, sungguh miris hati ini melihat kondisi yang terjadi. Pada akhirnya, negeri ini akan terus terpuruk dengan problematika yang tak kunjung selesai, semakin menggurita, semakin penuh derita.

Sistem kapitalisme memang tidak layak untuk dijadikan aturan dalam tatanan kehidupan yang diterapkan negara, sudah banyak bukti negara-negara yang menerapkan sistem kapitalisme kondisinya hancur, terutama dengan perekonomian. Inflasi terus terjadi, kondisi pemasukkan hanya bertumpu pada pajak, dan berlepas tangannya pemerintah dari mengurusi rakyatnya, subsidi dianggap sebagai beban sehingga harus dicabut, inilah realita yang ada di negara kapitalisme termasuk negeri ini.

Berbeda dengan negara yang menjadikan Islam sebagai sebuah sistem, amanah kepemimpinan merupakan tanggung jawab yang akan ditanya oleh rakyat dan yang terpenting dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah Swt. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadis “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Negara yang menerapkan sistem Islam tidak menjadikan pajak sebagai sumber pemasukan negara, tapi yang menjadi sumber pemasukan negara di antaranya yaitu dari SDA, ghanimah, jizyah, kharaj, usyur, harta yang tidak ada ahli warisnya, zakat, wakaf, dan khumus. Semua hasil penghimpunan kekayaan negara akan dikumpulkan secara terpusat di baitul maal. Kemudian khalifah yang akan mengatur untuk pengeluaran negara sesuai dengan kebutuhan.

Jadi semua urusan keuangan menjadi kewenangan khalifah sebagai pemimpin negara. Semua pemasukan dan pengeluaran negara, tidak boleh ada harta 1% pun yang masuk dan keluar dengan tidak jelas. Semua harus terakuntabilitas dengan baik dan rapi, pencatatan akan dilakukan dengan sangat rinci. Dengan pemasukan yang banyak tersebut, negara tidak rentan terkena inflasi apalagi ditopang dengan dinar dan dirham sebagai standar mata uang.

Dalam negara yang mengadopsi kapitalisme, uang kertas tidak mempunyai nilai sehingga sangat rentan untuk terjadinya inflasi, lihat saja rupiah semakin melemah bahkan sudah menembus Rp. 16.045,- per dolar pada tanggal 26 Mei 2024. Resesi ekonomi sedang terjadi, tapi rakyat seakan tak sadar diri, karena mereka terlalu sibuk dengan urusan duniawi.

Jika berbasis dinar dan dirham akan relatif stabil, tidak akan terjadi kelemahan mata uang. Ini juga akan berimbas pada naiknya PPN yang pastinya akan meningkat dikarenakan faktor impor. Barang impor sudah pasti menggunakan dolar dalam transaksi plus ditambah PPN yang naik, maka berakibat semakin tinggi harga yang akan dipasarkan kepada konsumen.

Untuk itu, sudah saatnya kita tidak bertumpu pada sistem kapitalisme tapi segera beralih kepada sistem Islam kafah yang sempurna. Kesempurnaannya sudah nampak ketika diterapkan, menjadi mercusuar dunia selama kurang lebih 14 abad, dan pastinya tidak diragukan lagi untuk diyakini. Maka kaum Muslim harus sadar, sudah saatnya bangkit dan beralih kepada sistem Islam yang berasal dari Allah Swt, Zat yang Maha Sempurna, sudah pasti aturannya sempurna tidak memiliki cacat apapun.

Mari satukan langkah, satukan barisan, berjuang bersama, kokohkan kekuatan untuk meraih kemenangan dalam kemuliaan Islam.

Wallahu a’lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update