Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kebutuhan Rakyat Terusik, Bahan Pokok Naik

Friday, June 14, 2024 | Friday, June 14, 2024 WIB

Oleh : Nia Umma Zhafran

Meroketnya harga bahan pangan pokok seolah menjadi tradisi setiap menjelang hari besar keagamaan. Seperti yang terjadi di tiga pasar tradisional sekitar bandung raya, yakni Pasar Cileunyi (Kabupaten Bandung), Pasar Kosambi (Kota Bandung), dan Pasar Tanjungsari (Kabupaten Sumedang)terlihat hampir semua harga komoditas pangan pokok mengalami kenaikan yang cukup signifikan.

Komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi di ketiga pasar tersebut adalah bawang merah. Rata-rata kenaikan sebesar Rp5.000 per kilogram, dari Rp52.000 menjadi Rp57.500 per kilogram. Menurut Andi, seorang penjual di pasar kab. Bandung menjelaskan bahwa kenaikan tidak hanya terjadi pada komoditas bawang merah, tetapi juga pada sayur mayur seperti wortel, kol, dan cabai yang juga mengalami kenaikan terus. Kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat (kepokmas) juga merambat pada komoditas daging, termasuk daging ayam ras dan daging sapi. Berdasarkan informasi dari distributor, bahwa kelangkaan stok dan jarangnya pengiriman menjadi penyebab utama kenaikan harga.

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat telah menganggarkan Rp3,1 miliar dalam program Operasi Pasar Bersubsidi (OPADI) yang akan digelar menjelang Idul Adha 2024 untuk menekan kenaikan harga kebutuhan pokok yang bisa berdampak pada inflasi. Anggaran tersebut digunakan untuk mensubsidi paket sembako bagi masyarakat. OPADI digelar untuk membantu masyarakat menjelang hari besar keagamaan.

Persoalan kenaikan harga pokok menjelang hari raya merupakan prediksi klasik yang menjadi siklus dalam kehidupan setiap tahunnya. Berbagai langkah antisipasi Pemerintah tetap tak mampu menahan laju kenaikan harga pokok. Menurut Ketua Ikatan Pedagang Pasar Pasar Indonesia (IKAPPI), salah satu alasan kenaikan harga komoditas pangan jelang hari- hari besar keagamaan terjadi karena meningkatnya belanja masyarakat. Dimana masyarakat pada umumnya belanja di pasar dalam jumlah yang lebih banyak untuk persediaan memjelang hari raya dibandingkan hari biasanya. Nah, dalam teori ekonomi kapitalisme, apabila permintaan naik, harga pun ikut naik.
Dilaporkan dari hasil penelitian Engkus ( 2017), beberapa penyebab kenaikan harga menjelang hari raya, adalah hukum permintaan dan penawaran, penimbunan barang, kinerja pasokan yang terganggu, dan gaya hidup masyarakat yang lebih konsumtif.

Penimbunan barang bukan hal aneh dalam negara yang menganut sistem Kapitalisme. Hal ini terjadi karena adanya permainan pelaku pasar. Sistem ini hanya memikirkan asas manfaat yang berupaya mengumpulkan materi sebanyak-banyaknya. Masyarakat dipandang sebagai pasar yang berpotensi dalam meraih keuntungan tanpa memikirkan dampak buruk halal-haram atau banyak orang yang merugi.

Kapitalisme menjadikan peran negara sebatas regulator. Dimana peran negara lumpuh sebagai pelayan rakyat yang seharusnya mengedepankan kepentingan masyarakat. Adapun kebijakan yang dikeluarkan seakan setengah hati, seperti adanya subsidi pangan tapi dengan kuota terbatas juga banyak keluhan dari masyarakat yang salah sasaran. Seharusnya negara mengantisipatif agar tidak ada gejolak harga dan masyarakat mudah mendapatkan kebutuhannya.

Sejatinya, fenomena yang terus terjadi ini menunjukkan kegagalan negara dalam menjaga stabilitas harga dan menyediakan pasokan yang cukup sesuai kebutuhan masyarakat.

Berbeda dengan peran negara dalam Islam. Peran negara adalah pelayan rakyat yang mewajibkan hadir secara penuh dalam mengurusi kemaslahatan umat. Negara akan bertindak tegas kepada pihak-pihak yang mencari keuntungan bagi dirinya sendiri. Apabila terjadi permasalahan, negara akan segera menuntaskannya.

Karena, Islam memandang bahwa masalah pangan adalah hal yang perlu mendapat perhatian khusus yang wajib dipenuhi per individunya. Selain itu, pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah jika ada rakyatnya yang kelaparan.

Dengan begitu, negara akan memperhatikan pengaturan berbagai aspek dalam upaya pemenuhan pangan dalam negeri. Negara akan menjamin tersedianya pangan dengan harga yang terjangkau dengan mendorong peningkatan dan inovasi penyediaan sumber pangan yang dibutuhkan. Negara juga mengupayakan produksi bahan pangan secara mandiri demi kepentingan pemenuhan kebutuhan rakyat semata.

Untuk menjamin mekanisme pasar dengan baik, negara wajib memberantas distorsi, seperti penimbunan, monopoli, dan penipuan. Dalam Islam, negara menyediakan informasi ekonomi dan pasar, serta membuka akses informasi bagi semua orang untuk meminimalkan informasi yang tidak tepat yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku pasar yang berniat mengambil keuntungan secara tidak benar.

Secara syar’i penimbunan mutlak haram. Dari Said bin Al-Musayyib dari Mu’ammar bin Abdullah al-‘Adawi bahwa Nabi saw. bersabda, “Tidaklah melakukan penimbunan, kecuali orang yang berbuat kesalahan.” (HR Muslim)

Jika kenaikan bahan pokok ketiadaannya akibat penimbunan, sungguh hal itu telah Allah haramkan sehingga akan ada sanksi tegas atasnya. Jika ketiadaannya akibat dari kelangkaan, seorang pemimpin wajib menyediakan barang di pasar dengan mendatangkannya dari berbagai tempat.

Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab saat masa paceklik, terjadi kelaparan di Hijaz akibat kelangkaan makanan. Kemudian beliau mengirim surat dan mendatangkan makanan dari Mesir dan Syam ke Hijaz sehingga kebutuhan masyarakat Hijaz bisa terpenuhi. Inilah bentuk perlindungan negara dalam mencukupi kebutuhan rakyat dan melindungi ekonomi negara, serta membebaskan pasar dari monopoli dari segelintir orang.

Kenaikan harga bahan pokok menjelang hari raya seperti Idul Adha dan lainnya merupakan kejadian berulang. Antisipasi yang pemerintah jalankan pun sama dan harga di pasar tetap saja mengalami kenaikan. Hal ini karena akar permasalahannya ada pada sistem ekonomi yang diterapkan dan lemahnya posisi negara dalam melakukan pemenuhan kebutuhan rakyatnya.

Tersebab masalah ini bersifat sistemis, maka butuh perubahan sistemis pula yang merombak paradigma kapitalisme dalam meriayah rakyat. Dalam hal ini, Islam merupakan satu-satunya jalan alternatif pengganti kapitalisme untuk menyelenggarakan pemenuhan kebutuhan rakyat secara hakiki dan komprehensif. Karena sistem Islam mengurus rakyat sesuai dengan aturan yang berasal dari Allah Ta’ala Sang Pencipta manusia.

WalLaahu a’lam bishshowwab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update