Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Idhul Adha Kembali Berbeda, Khilafah Solusi Persatuan Umat

Friday, June 14, 2024 | Friday, June 14, 2024 WIB

Oleh : Sriyama

Pelaksanaan Idul Adha tahun ini 2024/1445 H akan terjadi perbedaan antara Arab Saudi dan Indonesia. Arab Saudi melaksanakan Idul Adha pada Ahad 16 Juni 2024 sementara Indonesia pada Senin 17 Juni 2024. Mahkamah Agung Arab Saudi pada Kamis (6/6/2024) mengumumkan, awal Dzulhijjah atau 1 Dzulhijjah 1445 H bertepatan dengan Jumat (7/6/2024). Dengan demikian, Idul Adha yang bertepatan dengan 10 Dzulhijah akan bertepatan pada Ahad (16/6/2024).

Sementara puncak haji wukuf di Arafah akan dilaksanakan pada Sabtu (15/6/2024) bertepatan dengan 9 Dzulhijjah. Keputusan tersebut dilakukan setelah hilal yang menjadi pertanda akhir Dzulqaidah dan awal Dzulhijjah terlihat di Arab Saudi.

Anggota Dewan Ulama Senior Arab Saudi, Syekh Abdullah bin Salman al-Muni’ mengatakan, “Bulan Dzulhijjah mulai hari Jumat 7 Juni 2024, jumlah harinya 30 hari berakhir Sabtu 6 Juli 2024. Dasarnya adalah. Permulaan Dzulhijjah adalah Kamis petang 6 Juni 2024/29 Dzulqaidah 1445 H pukul 15.37.”

Sementara itu, Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) RI mengumumkan bahwa Hari Raya Idul Adha 1445 Hijriyah bertepatan pada Senin 17 Juni 2024 mendatang.

Berdasarkan hisab posisi hilal wilayah Indonesia yang sudah masuk kriteria MABIMS tersebut, serta adanya laporan hilal terlihat, disepakati bahwa 1 Dzulhijjah tahun 1445 Hijriah jatuh pada hari Sabtu tanggal 8 Juni 2024 Masehi, dan Insya Allah Hari Raya Idul Adha jatuh pada Senin tanggal 17 Juni 2024. Hal ini berdasarkan pernyataan Wakil Menteri Agama (Wamenag) RI Saiful Rahmat Dasuki dalam konferensi pers sidang isbat penetapan 1 Zulhijah 1445 Hijriah yang diikuti secara daring di Jakarta (Republika [dot] co, 8/6/2024).

Sementara menurut para ulama mujtahiddin berbeda pendapat dalam hal mengamalkan satu ru’yat yang sama untuk idul fitri, madzhab Safii menganut ru’yat lokal yakni mengamalkan ru’yat masing-masing negeri.

Sementara madzhab Hanafi, Maliki dan Hambali menganut ru’yat global yakni mengamalkan ru’yat yang sama untuk seluruh kaum muslimin.

Artinya jika ru’yat telah terjadi di suatu bagian bumi, maka ru’yat berlaku untuk seluruh kaum muslimin di dunia meski mereka sendiri tidak meru’yat namun khilafiah semacam itu tidak ada perbedaan dalam penentuan Idhul adha, sesungguhnya semua para ulama semua madzhab telah sepakat mengamalkan ru’yat yang sama untuk Idhul Adha.

Ru’yat yang dimaksud adalah ru’yatul hilal atau mengamati bulan sabit untuk menetapkan awal bulan Dzulhijjah yang di lakukan oleh penduduk Mekkah, ru’yat ini berlaku untuk seluruh dunia karena itu kaum muslim dalam sejarah senantiasa Idhul Adha selalu bersamaan.

Hal ini telah di riwayatkan secara mutawatir oleh banyak orang yang mustahil melakukan kebohongan, bahkan sejak masa kenabian dilanjutkan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin, Umawiyin, Abbasiyin dan Utsmaniyin hingga masa sekarang,

Hadist Husain Ibn Al-Harits Al-Jadali RadhiyalLahu’anhu, Dia berkata “sesungguhnya Amir atau wali Mekkah pernah berkhutbah berkata ,”

“Rasulullah saw mengamanatkan kepada kami untuk melakukan amanat manasik haji berdasarkan ru’yat. Jika kami tidak berhasil ru’yat maka harus ada dua saksi adil yang berhasil meru’yat.
maka kami masyarakat malaksanakan manasik haji berdasarkan kesaksian keduanya.” (HR.Abu Dawud dan Ad-Daruquthni).

Meski penetapan Idhul Adha sudah ma’luumun minad diini bidl dlaruurah atau sudah diketahui secara pasti sebagai bagian integral ajaran Islam, namun anehnya dengan pongahnya pemerintah Indonesia selalu mengikuti fatwa sebagian ulama dan berani membolehkan perbedaan Idhul Adha di negeri ini.

Sehingga Idhul Adha di Indonesia seringkali dilaksanakan pada hari pertama dari hari tasryiq tanggal 11 Djulhijjah dan bukan pada yaumun- nahr atau hari penyembelihan kurban.

Jika di perhatikan perbedaan penentuan Idhul Adha diantara negeri- negeri kaum muslimin terjadi karena faktor fanatisme, nasionalisme, ide ini telah menjadikan umat Islam terpecah- belah dan bercerai – berai menjadi negara bangsa, setelah runtuhnya Kekhilafahan terakhir diturki istambul 1924.

Dunia Islam saat ini tidak menjadi kekuatan politik yang ditakuti dan disegani karena wilayahnya yang begitu luas sudah disekat-sekat menjadi beberapa negara dan diikat dengan ikatan nasionalisme, yang berbahaya bagi umat Islam.

Ikatan nasionalisme inilah yang mencabut ikatan yang kokoh yakni ikatan aqidah yang menyatukan ikatan persaudaraan, ikatan ini menjadikan umat Islam bersikap individualisme.

Sebagai contoh penentuan hari raya Idhul Adha selalu terpisah dengan negeri Arab sebagai tempat dilaksanakan ibadah haji. Menjadikan kaum muslimin d dekat oleb batas wilayah. Sehingga menjadikan umat Islam abai terhadap sesama umat Islam di negara lainnya. Padahal sekat wilayah ini (nasionalisme) adalah ide berasal dari barat yang bertujuan untuk melanggengkan penjajahan mereka terhadap negeri- negeri Islam.

Sungguh prihatin sebagian umat Islam menjadikan rujukan atau dasar pijakan ide nasionalisme yang rusak dan merusak, seakan-akan ide ini mampu menyatukan umat dengan berbagai dalih bahwa cinta tanah air bagian dari iman, sangat jelas bahwa kalimat itu sebagai hadist hanyalah alat propaganda untuk memecah belah umat Islam.

Sementara kalimat tersebut sangat bertentangan dengan sabda Rasulullah Saw :

” Bukanlah Bagian dari golonganku orang yang menyerukan ashabiyah, dan bukan golonganku orang yang berperang karena ashabiyah.”( HR.Abu Dawud )

Ashabiyah yang dimaksud adalah fanatisme golongan termasuk kesukuan dan nasionalisme, perbedaan hari raya yang terus terjadi seharusnya membuka mata umat Islam untuk bersatu dalam satu kepemimpinan, yakni kepemipinan yang mampu menyatukan ummat manusia, hanya Khilafah Islamiyah, semoga moment Idhul Adha yang penuh pengorbanan ini dengan taat mampu melahirkan umat islam yang memiliki kadar keimanan dan ketaatan yang tinggi yang menjadi.bekal terbitnya fajar kemenangan Islam. Walohu ‘alam bishowab[]

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update