Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Rumah Kian Melejit Rakyat Terjepit

Saturday, June 08, 2024 | Saturday, June 08, 2024 WIB

By : Rengganis Santika A, STP

 

Rumah adalah kebutuhan asasi setiap orang. Bahkan hewanpun butuh tempat bernaung. Terlebih lagi bagi sebuah keluarga, rumah menjadi perkara ‘urgen’. Keberadaan rumah merupakan indikator kualitas hidup seseorang. Rumah juga menjadi indikator kuat tidaknya perekonomian sebuah negara. Bila kita berbicara kebutuhan dasar seperti sandang (pakaian) dan pangan (makanan), maka pasti disebut pula kebutuhan papan (rumah). Namun miris disaat rumah menjadi kebutuhan mendesak, harga rumah justru terus naik. Mengapa hal ini bisa terjadi? Apa solusi tuntas untuk masalah ini? Bagaimana sudut pandang islam dan solusinya ?

Fakta Dan Faktor Penyebab Mahalnya Harga Rumah
CNN Indonesia, kamis 16 Mei 2024, merilis berita, bahwa Bank Indonesia (BI) mencatat harga properti residensial di pasar primer melanjutnya peningkatan pada kuartal I 2024. Hal ini tercermin dari pertumbuhan Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) yang mencapai 1,89 persen (yoy) pada kuartal I 2024. Angka ini, lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan pada kuartal IV 2023 sebesar 1,74 persen. Peningkatan IHPR tersebut terutama didorong kenaikan harga properti tipe kecil yang meningkat 2,41 persen. Melanjutkan kenaikan harga di kuartal IV 2023 sebesar 2,15 persen.
Faktanya kenaikan harga rumah saat ini merupakan fenomena global, termasuk di Indonesia. Hal ini membuktikan bahwa kenaikan harga rumah adalah problem sistemik. Hampir semua negara yang mengalaminya dipengaruhi oleh faktor-faktor penyebab yang juga hampir sama. Seperti naiknya biaya konstruksi, bahan bangunan dan upah pekerja. Inflasi dan kenaikan suku bunga pun ikut berpengaruh. Ketika suku bunga naik, kredit pemilikan rumah (KPR) pun naik, sehingga harga rumah mahal. Saat ekonomi memburuk daya beli masyarakat menurun. Kondisi ini mendorong masyarakat berpikir pragmatis “yang penting ada rumah” tak peduli kelayakan, dan kualitas hidup sehat.

Maka tak heran terjadilah banyak problem rumah tangga dan generasi.
Kita masih ingat, krisis global tahun 2008 berawal dari jatuhnya bisnis properti/perumahan akibat spekulasi properti dan problem regulasi di AS, banyak warganya tunawisma. Bahaya lain yang mengancam, ketika harga lahan tinggi dan terbatas, para pengembang nakal memburu lahan di luar kota, terjadilah alih fungsi lahan hijau yang masif. Akhirnya masalah rumah dan lahan akan berdampak pada generasi. Kelak mereka harus menanggung kerusakan lingkungan dan sosial. Disisi lain pengembang hanya berfikir untung dengan membebankan semua biaya dan resiko pada pembeli. Tak sedikit demi keuntungan pribadi orang membeli rumah untuk investasi bukan untuk ditempati, walhasil yang justru membutuhkan gigit jari. Riba, inflasi dari moneter kapitalisme yang rapuh dan ‘profit oriented’ adalah tabiat serta ciri khas sistim kapitalisme sekuler. Jadi mahalnya harga rumah adalah buah penerapan kapitalisme sekular.

Pemenuhan Kebutuhan Rumah Dalam Perspektif Islam
Dalam perspektif Islam, Rumah adalah salah satu kebutuhan pokok yang wajib djiamin ketersediaannya oleh negara sebagai pengatur urusan rakyat. Sebab sandang, pangan papan adalah kebutuhan ‘darurat’. Maka negara wajib menyediakan secara mudah, terjangkau dan berkualitas. Negara yang menerapkan syariat islam secara menyeluruh (kaaffah) menjalankan fungsinya sebagai pelindung. Pemimpinnya (iman) memastikan setiap rakyat bisa hidup sejahtera. Ekonomi islam dengan baitul maal nya yang kokoh kuat ditopang pemasukan negara dari kharaj dan jizyah. Kemudian sumberdaya alam yang besar dimanfaatkan secara msksimal bagi kesejateraan rakyat. Ada pula pos wakaf, saat iman dan takwa jadi landasan negara, ketakwaan individu mendorong mereka berlomba mewakafkan harta bagi sarana publik dan perumahan rakyat.

Seperti pada masa Kekhalifahan Abbasiyah, saat periode keemasan (abad ke-8 hingga ke-13). Pembangunan Kota Baghdad, yang didirikan oleh Khalifah Al-Mansur pada tahun 762 M, dirancang dengan perencanaan yang cermat. Kota ini dibangun dengan tata letak yang teratur, dengan jalan-jalan yang luas dan terorganisir serta infrastruktur yang mendukung, seperti saluran air dan sistem sanitasi yang baik. Sarana publik seperti sekolah, kesehatan, pasar dan mesjid tersebar merata, sehingga tidak menyulitkan mobilitas warga. Jaminan pemenuhan kebutuhan rumah oleh negara islam terus berlangsung hingga era kekhilafahan Utsmaniy.

Berbeda dengan negara yang menerapkan sistem kapitalisme sekuler seperti saat ini diseluruh dunia, dimana negara memosisikan berjual beli, untung rugi dengan rakyatnya. Penguasa berkalingkong dengan pengusaha. Akibatnya rakyat menanggung beban mekanisme pasar yang pasti berpihak pada si kaya, maka yang miskin tak “ber-uang” silahkan ngontrak! Pertanyaannya Masihkah betah berada dalam sistem kapitalisme sekuler?? Atau rakyat terus makin terjepit!?

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update