Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Merdeka Belajar, Kurikulum Pendidikan Kapitalisme Racun Bagi Generasi

Monday, May 13, 2024 | Monday, May 13, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:47:04Z

Oleh Nuni

Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) diperingati setiap 2 Mei. Momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) senantiasa diiringi evaluasi terhadap pemerintah dan pejabat terkait.Seiring peringatan Hardiknas tahun ini, Mei 2024 juga dicanangkan sebagai bulan Merdeka Belajar. Pemerintah menetapkan bahwa tema peringatan Hardiknas 2024 adalah Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar.

Di tengah optimisme menjadikan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional, bukankah perlu merefleksikan kembali seberapa hebat kurikulum ini membentuk generasi berkualitas, bertakwa, dan berkarakter mulia? Bukankah pendidikan yang baik bukan hanya bicara capaian-capaian dalam angka dan materi, melainkan yang lebih utama ialah bagaimana generasi ini terdidik dengan benar dan tepat?

Dilansir dalam detik (26/02/2024), bahwa Kemendikbudristek akan segera mengesahkan kurikulum merdeka sebagai kurikulum nasional. Menurut Direktur Eksekutif Bajik Dhita Puti Sarasvati, Kurikulum Merdeka masih compang camping. Maka dari itu, banyak kelemahan yang harus diperbaiki. Kurikulum Merdeka belum layak menjadi Kurikulum Resmi Nasional. Hal yang paling esensial yang harusnya ada dalam kurikulum resmi malah belum ada yakni kerangka kurikulumnya. Semestinya filosofi pendidikan dan kerangka konseptual harus tertuang dalam konsep akademik. Karena itu kurikulum merdeka belum lengkap sebagai kurikulum.

Selama empat tahun berjalannya kurikulum ini dikembangkan dan diterapkan, memang meningkatkan nilai PISA dengan adanya peningkatan skor literasi dan numerasi siswa. Akan tetapi, hal tersebut selalu luput dari perhatian utama pemerintah ialah seberapa hebat kurikulum ini menjawab persoalan problematik pendidikan?

Seperti diketahui bahwa pendidikan merupakan salah satu aspek yang menentukan generasi masa depan. Akan tetapi, faktanya justru dengan pendidikan generasi begitu miris terhadap kerusakan generasi.
Sebagaimana yang dilansir oleh (Tribunnews, 8/3/2024), selama sepekan terakhir, kasus bullying atau perundungan marak terjadi di sejumlah daerah. Pelaku dan korban merupakan anak sekolah yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Aksi kekerasan yang dilakukan anak-anak di bawah umur itu bahkan viral di media sosial.

Dalam mendukung pemulihan pembelajaran pasca pandemi, pada 2020 dicetuskanlah Kurikulum Prototipe hingga berganti nama menjadi Kurikulum Merdeka. Kurikulum yang dikembangkan sebagai kerangka kurikulum yang lebih fleksibel, sekaligus berfokus pada materi esensial dan pengembangan karakter dan kompetensi peserta didik.

Mungkinkah, Kurikulum Merdeka akan mampu membentuk karakter mulia yang sangat diharapkan ada pada diri generasi hari ini? Atau Kurikulum Merdeka mampu menjawab persoalan krusial sesungguhnya yang tengah dihadapi pendidikan? Misalnya, perundungan,tawuran antar kelompok, kekerasan seksual, pergaulan bebas, hingga kehamilan di luar nikah. Makin ke sini, generasi kita makin jauh dari karakter dan akhlak mulia.

Jika dicermati, dalam kurikulum merdeka pendidikan lebih terfokus pada materi esensial sehingga pembelajaran lebih mendalam. Sementara itu, waktu lebih banyak untuk pengembangan kompetensi dan karakter melalui belajar kelompok seputar konteks nyata (Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila).

Selain itu, capaian pembelajaran per fase dan jam pelajaran yang fleksibel mendorong pembelajaran yang menyenangkan dan relevan dengan kebutuhan pelajar dan kondisi satuan pendidikan. Memberikan fleksibilitas bagi pendidik dan dukungan perangkat ajar pendidikan dan melaksanakan pembelajaran berkualitas serta lebih mengedepankan gotong royong dengan seluruh pihak untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka. Apalagi kurikulum merdeka sebagai kurikulum nasional 2024 dianggap masih belum memberi kejelasan sebagai kurikulum.

Meski telah kurikulum telah berganti sebanyak sebelas kali. Akan tetapi belum memberikan dampak yang signifikan terhadap generasi. Boleh saja jika di atas kertas terjadi peningkatan capaian belajar atau penilaian yang bersifat materi. Akan tetapi, capaian karakter dan kepribadian mulia masih sangat jauh dari harapan kita. Ini karena kerangka kurikulum masih berasas pada kapitalisme yang sekuler materialistis sehingga tujuan pendidikan menjadi kehilangan arah hanya berfokus pada capaian materi yang semu.

Apalagi,fakta hari ini pendidikan dalam semua aspek, baik guru maupun siswa terlibat dalam kemaksiatan dan pelanggaran hukum. Ada guru merudapaksa siswanya, ada siswa merundung temannya, ada orang tua melaporkan guru hanya karena tidak terima sang anak ditegur gurunya. Lebih parahnya, ada siswa menganiaya guru hingga meninggal. Kriminalitas di dunia pendidikan masih kerap terjadi. Sungguh sangat miris .

Sejatinya adanya berbagai fenomena kerusakan generasi menunjukkan bahwa pembelajaran selama ini tidak berjalan dengan baik. Setiap ganti menteri, kurikulum ikut berganti. Akan tetapi, bukannya generasi bertambah baik, yang ada justru mengalami degradasi. Sudah sepatutnya kita mengoreksi akar masalah sebenarnya.

Kita ketahui, penguasa sekarang memegang sekularisme, konsep yang menyatakan tidak ada campur tangan Sang Pencipta dalam kehidupan bernegara. Hasilnya, semua aturan dibuat oleh akal manusia. Manusia, sebagai makhluk yang tidak pernah puas, menjadikan hawa nafsu sebagai tuntunan. Hasilnya, hanya ada keinginan untuk mendapat materi atau kepuasan dunia semata.
Jadi, kesombongan manusia karena merasa pandai dengan akalnya dan ambisi mereka untuk sebanyak-banyaknya mendapatkan materi, melahirkan kurikulum yang jauh dari firman Ilahi. Beginilah kondisinya jika kepemimpinan diambil alih oleh orang-orang yang menjadikan kapitalisme sebagai ideologi.

Oleh sebab itu, sesering apa pun negara tersebut mengganti kurikulum, selama pemimpinnya masih memakai kapitalisme dan sekularisme sebagai landasan dalam berbuat, generasi akan sulit untuk diperbaiki.

Berbeda dengan Islam. Sepanjang penerapannya, Islam telah menjelma menjadi satu-satunya sistem yang mampu melahirkan generasi cerdas nan beradab. Islam memprioritaskan pendidikan sebagai modal awal membangun sebuah peradaban. Pendidikan dalam Islam adalah upaya sadar, terstruktur, terprogram, dan sistematis dalam rangka membentuk manusia yang berkepribadian Islam, menguasai pemikiran Islam dengan andal, menguasai ilmu-ilmu terapan (pengetahuan, ilmu, dan teknologi), memiliki keterampilan yang tepat dan berdaya guna.

Konsep pembelajaran sistem pendidikan Islam adalah lebih untuk diamalkan. Apa pun yang dipelajari, nantinya untuk diamalkan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Alhasil, generasi akan selalu berpikir membuat karya untuk umat, bukan untuk kepuasan akal pribadi.

Adapun mengenai kurikulumnya, pendidikan Islam dibangun berdasarkan akidah Islam. Pelajaran dan metodologinya diselaraskan dengan asas tersebut. Guru harus memiliki kepribadian dan akhlak yang baik, menjadi uswah bagi para siswa. Bukan sekadar penyampai ilmu, tetapi ia juga pembimbing yang baik. Agar guru melakukan tugasnya dengan baik dan profesional, mereka diberi fasilitas pelatihan untuk meningkatkan kompetensi, sarana dan prasarana yang menunjang metode dan strategi belajar, serta jaminan kesejahteraan sebagai tenaga profesional, yakni gaji yang memadai. Pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, misalnya, gaji guru mencapai 15 dinar (1 dinar setara 4,25 gram emas).Jadi, guru pun akan berupaya sebaik mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan menjalankan amanahnya dengan baik. Pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan murid untuk menghormati guru mereka.

Akan tetapi, semua itu tidak bisa dilakukan tanpa peran negara sebagai penyelenggara utama pendidikan. Negara berkewajiban mengatur segala aspek terkait pendidikan, mulai dari kurikulum hingga hak mendapat pendidikan yang layak bagi setiap warga negara. Sarana dan prasarana sekolah hingga kesejahteraan guru pun dijamin oleh negara. Hal-hal pokok seperti ini tidak akan pernah kita jumpai di negara yang mengadopsi sistem sekuler kapitalisme sebagai ideologinya.

Selain itu,pendidikan dalam islam juga bertujuan mengarahkan terciptanya pemikiran islami juga bertujuan mengarahkan terciptanya pemikiran islam kepada manusia sehingga nantinya manusia akan memiliki kepribadian islami. Dengan begitu mereka tidak akan memiliki sedikitpun pemikiran untuk menjadi seorang kriminal, yang ada hanyalah menjadikan diri mereka hamba yang selalu taat kepada allah .

Terbukti dalam catatan sejarah, seorang tokoh pendidikan yang bernama MuhammadAthiyah al abrasyi yang hidup pada masa pemerintahan Abd.Al Nasser yang saat itu sedang memerintah mesir pada tahun 1954-1970,M.Athiyyah Al Abrasyi juga sekaligus seorang guru besar pada darul ulum cairo university,Cairo. Beliau berpendapat bahwa ruh pendidikan dalam islam adalah akhlak.

Para ahli pendidikan islam meyepakati bahwa makna dari pendidikan islam bukanlah sekedar memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui,namun makna yang sesungguhnya adalah mendidik akhlak dan jiwa mereka serta menanamkan rasa fadilah,mempersiapkan mereka dengan akhlak yag jujur serta kehidupan yang suci,membuat mereka terbiasa dengan kesopanan ,membiasakan mereka dengan kesopanan dan mengajarkan mereka tentang ikhlas.

Oleh karena itu, jelas bahwa pendidikan dalam islam tujuan terbesarnya adalah mendidik jiwa manusia agar menjadi manusia yang berakhlakul kharimah,santun,jujur,toleran serta ikhlas dengan segala apapun kondisi yang mereka hadapi. Begitulah pendidikan seharusnya berjalan di setiap negara yang dipimpin oleh pemimpin muslim demi melahirkan pemuda-pemuda yang cerdas dan bermental baja bukan bermental kriminal.

Wallahualam bissawab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update