Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Kurikulum Merdeka, Layakkah?

Friday, May 10, 2024 | Friday, May 10, 2024 WIB Last Updated 2024-05-10T02:45:44Z

 



Oleh. Irohima


Hari Pendidikan Nasional yang dirayakan setiap tanggal 2 Mei setiap tahunnya adalah bentuk apresiasi dalam rangka mengingat jasa para pahlawan di bidang pendidikan.


Dipilihnya tanggal 2 Mei karena bertepatan dengan tanggal lahirnya Bapak Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara. Seperti kita ketahui, Ki Hajar Dewantara merupakan salah satu di antara sekian banyak tokoh yang berperan besar dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. 


Tahun ini, perayaan hari pendidikan nasional bertema “ Bergerak Bersama, Lanjutkan Merdeka Belajar “. Perayaan dilakukan dalam berbagai cara, salah satunya seperti konser musikal bertajuk ‘ Memeluk Mimpi-Mimpi: Merdeka Belajar, Merdeka Mencintai’ yang merupakan kolaborasi antara Direktorat Jenderal Kebudayaan melalui Direktorat Perfilman, Musik, dan Media, Titimangsa dan SMKN 2 Kasihan (SMM Yogyakarta). Konser musikal yang juga menggaet artis dan penyanyi seperti Sherina Munaf, Mawar De Jongh dan Isyana Sarasvati dan lainnya  adalah implementasi program Merdeka belajar yang memiliki tujuan mengekspresikan karya melalui pembelajaran dan yang menyenangkan dan relevan (Liputan6, 26/04/2024).


Kurikulum Merdeka adalah kurikulum dengan pembelajaran intrakurikuler beragam, di mana konten pembelajaran akan lebih optimal dan agar siswa memiliki cukup waktu untuk mendalami konsep dan bisa memperkuat kompetensi. 


Merdeka Belajar merupakan program kebijakan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia yang dicanangkan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Kabinet Indonesia Maju. Kurikulum Merdeka belajar memiliki tujuan menyederhanakan kurikulum lama yang dianggap rumit dan tak bisa memenuhi capaian kompetensi siswa. 


Di tengah upaya Kemendikbudristek yang akan segera mengesahkan Kurikulum Merdeka sebagai Kurikulum Nasional, pro dan kontra  pun turut mengalir menyikapi kebijakan ini. seperti kriitik yang disampaikan organisasi nirlaba Barisan Pengkaji Pendidikan (Bajik). Mereka menilai Kurikulum Merdeka tak layak menjadi kurikulum nasional, kurikulum ini memiliki banyak kelemahan yang harus diperbaiki hingga perlu dievaluasi secara total dan menyeluruh (detikEdu, 26/02/2024).


Kurikulum Merdeka Belajar sejatinya telah diimplementasikan sejak tahun 2022. Penerapan kurikulum pun ini makin kian masif, menurut data dari laman kurikulum.kemdikbud.go.id terdapat 143.265 sekolah atau satuan pendidikan yang telah menggunakan  kurikulum merdeka. 


Penggunaan kurikulum merdeka seperti tak membawa dampak yang signifikan terhadap tumbuh kembang pendidikan di Indonesia, faktanya, seiring dengan masifnya penggunaan kurikulum merdeka persoalan seperti pelanggaran hukum, kemaksiatan, bullyying bahkan kriminalitas di kalangan pelaku pendidikan semakin tumbuh subur. Salah satunya kasus perundungan yang terjadi di SMPN 13 Balikpapan, Kalimantan timur, dan yang terjadi di Barelang, Batam. Kedua kasus tersebut adalah sebagian kecil dari banyaknya kasus bullying yang sering terjadi di dunia pendidikan, baik itu yang menimpa guru maupun siswa sendiri. Juga terjadi di level SD hingga perguruan tinggi.


Banyak pihak yang menganggap Kurikulum Merdeka masih belum memberi kejelasan sebagai kurikulum karena peserta didik hanya diarahkan kepada kompetensi/daya saing atas sesuatu yang bersifat materi, namun melupakan aspek pembinaan agama/mental. Maka dari itu, penerapan kurikulum merdeka justru akan memperkuat sekularisme dan kapitalisme dalam kehidupan, menciptakan generasi yang berkepribadian buruk serta generasi pembebek budaya barat yang rusak dan merusak. 


Pendidikan adalah penentu dan salah satu faktor terpenting dalam membentuk generasi penerus suatu bangsa. Penerapan kurikulum pendidikan yang berbasis sekuler tak lepas dari pengaruh ideologi kapitalisme yang dianut saat ini. dan terbukti telah gagal mencetak generasi-generasi penerus cita-cita bangsa.


 Pendidikan yang tak mengindahkan peran agama membuat misi dan visi pendidikan tidak lagi mulia. Pendidikan yang selalu berorientasi pada materi ditambah dengan pengaruh pemikiran barat yang bebas masuk, membuat generasi semakin jauh dari agama, bahkan tak sedikit dari mereka yang meninggalkan agama, dan dampak dari semua itu berakibat  sangat fatal bagi generasi muda, dekadensi moral yang parah serta maraknya berbagai macam bentuk kejahatan dan kekerasan di kalangan mereka.  


Miris, padahal justru dengan agama, mereka akan memiliki kehidupan yang terarah, dan dengan agama pula, pola pikir, sikap dan perilaku generasi akan dijamin cemerlang.


Perlu solusi tepat dan cepat untuk menyelamatkan generasi saat ini, dan satu-satunya solusi adalah dengan menerapkan Islam. Pendidikan dalam Islam memiliki tujuan untuk membentuk generasi yang beriman, bertakwa, berkualitas, terampil, memiliki jiwa kepemimpinan, serta mampu menjadi problem solver.


Dalam Islam, akidah Islam akan menjadi dasar pemikiran, karena dalam Islam, generasi tak hanya ditekankan menguasai ilmu kehidupan namun juga diharuskan memiliki keimanan, ketakwaan dan kepribadian Islam. Pendidikan agama akan memberikan pengaruh keterikatan siswa pada syariat dan akan berdampak  pada terciptanya masyarakat yang bertakwa.


Telah tercatat dalam sejarah, betapa sistem pendidikan Islam telah mampu menghasilkan banyak generasi emas yang memberikan kontribusi yang sangat besar pada peradaban dunia. Sebut saja Ibnu Sina dalam bidang kedokteran, Jabir Ibnu Hayyan, seorang pakar kimia, Ibnu Al Haitsami, penemu teori lensa optik, Abu Qasim Al Zahrawi, seorang ahli bedah yang kemudian tercipta dari tangan beliau alat bedah yang digunakan dalam operasi pengangkatan janin atau biasa disebut operasi sesar, dan berguna hingga saat ini.


 Banyak lagi generasi Islam yang unggul dan berkualitas yang telah memberi sumbangsih besar terhadap peradaban manusia dan harusnya membuat kita tak ragu untuk kembali kepada sistem yang benar lagi menjanjikan yaitu sistem Islam.



Wallahu a'lam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update