Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Harga Rumah Makin Mahal: Rumah Idaman, Semakin Jauh dari Harapan

Thursday, May 23, 2024 | Thursday, May 23, 2024 WIB Last Updated 2025-01-21T06:46:08Z

Oleh: Iin Linti Kurnia, S.Sos.
(Aktivis dakwah)

Rumah, tempat individu merangkai masa depan, menjalani hari demi hari. Demikian pentingnya sehingga menjadi kebutuhan mendasar setiap insan. Sayangnya, tidak semua dapat mengakses rumah layak huni baik mengontrak maupun dengan membeli. Terlebih beban finansial semakin berat. Alih-alih untuk membeli rumah baru, masyarakat kelas bawah masih berjuang memenuhi kebutuhan pangan, pendidikan dan kesehatan.

Trend kenaikan harga rumah yang terus melonjak menipiskan harapan memiliki rumah idaman. Sebagaimana laporan indeks harga properti residensial (IHPR) pada kuartal IV/2023 harga properti melonjak 1,74% dibandingkan dengan tahun sebelumnya (yaer-on-yearly yoy). Sementara BI melaporkan lonjakan harga rumah membaik bila dibandingkan kuartal sebelumnya 1.97% pada kuartal III/2023. (BISNIS.COM,20 Februari 2024).

Disisi lain, pengembangan dan pembangunan rumah nyatanya tidak semudah yang direncanakan. Tahun 2015 Presiden Joko Widodo mencanangkan pembangunan Program Sejuta Rumah, namun dinilai pesimis tercapai oleh Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan dan Permukiman Seluruh Indonesia (APERSI) Junaidi Abdillah. Ia menilai banyaknya rintangan yang dihadapi para pengembang, terutama pembebasan lahan dan perijinan yang memiliki banyak meja dan pintu. Selain itu, segmentasi Apersi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang terkendala dengan rendahnya daya beli.

Proyek sejuta rumah di kawasan Villa kencana, Cikarang, Bekasi Jawa Barat dapat diakses sebagian MBR dengan uang muka (down payment) sekitar 1,12 juta dan cicilan Rp. 750-900 ribu per bulan. (detikfinance/02/Mei/2024). Namun sebagian masyarakat tetap tidak mampu memiliki rumah idamannya karena keterbatasan finansial. Melonjaknya berbagai harga kebutuhan pokok ditambah UKT ( Uang Kuliah Tunggal) yang semakin memberatkan.
Untuk mendapatkan akses hunian nyaman, masyarakat memerlukan suport sistem dari penguasa dengan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap individu secara sempurna baik sandang, pangan, murah berkualitas. Juga kebutuhan publik seperti pendidikan, kesehatan dan keamanan.
Namun, ibarat pepatah jauh panggang dari api, sistem Kapitalisme yang diadopsi seluruh negara di dunia menjadikan individu harus berjuang sendirian.

Berbeda dengan Islam sebagai agama dan aturan (nidzom) yang bersumber dari Allah swt. Menginginkan kebaikan pada tiap-tiap jiwa manusia muslim maupun non muslim. Dengan mekanisme tiga pembagian kepemilikan yakni: (1). Kepemilikan Individu, setiap individu berhak untuk mendapatkan harta secara halal melalui bekerja, waris, hibah, pemberian harta oleh negara, kebutuhan untuk menyambung hidup, di dalamnya terakses kebutuhan sandang, pangan dan papan (2). Kepemilikan Negara, (3). Kepemilikan umum, semisal fasilitas umum, rumah sakit, sekolah, infrastruktur, barang tambang yang jumlahnya tidak terbatas baik emas, minyak, batu bara, dan lain-lain.
Rasulullah saw. bersabda, “kaum muslimin berserikat dalam tiga hal: air, padang gembalaan dan rumput” (HR. Abu Dawud).

Inilah support sistem yang dimaksudkan Islam yang diberikan oleh penguasa kepada rakyatnya, sehingga rakyat dapat hidup dengan kualitas terbaiknya.

Wallahu’alam bishawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update