Oleh Iyar
Aktivis
Muslimah
Sungguh
miris bulan Ramadan yang sejatinya bulan suci harus ternodai dengan maraknya kejahatan di tengah
masyarakat seperti yang dilansir oleh media online Radar Bogor, Rabu (13/03/24),
Polresta Bogor kota mengimbau warga kota Bogor untuk mewaspadai kerawanan
kejahatan selama Ramadan. Kasat Reskrim Polresta Bogor kota, Kompol Luthfi olot
Gigantara mengatakan, jajaran Polresta Bogor Kota sebenarnya sudah
mengantisipasi terkait dengan kerawanan kejahatan selama Ramadan. Adapun selama
tiga pekan terakhir Polresta Bogor Kota berhasil mengungkap tiga kasus
kejahatan pencurian yang terjadi di wilayahnya.
Pertama,
kasus pencurian kenfaraan bermotor (curanmor) di jalan warung Bandrek, Kelurahan
Bondongan, Kecamatan Bogor Selatan pada Jumat (23/2) lalu. Pengamat kepolisian
dari Institut for SeCurity and strategic studies (ISESS) Bambang Rukminto
menilai bahwa meningkatnya tren kejahatan pada bulan Ramadan hingga jelang
lebaran disebabkan oleh adanya peningkatan kebutuhan di masyarakat yang tinggi.
Menurut
Bambang dengan adanya peningkatan kebutuhan, maka pengeluaran dari masyarakat
juga pasti akan meningkat, sementara bagi sebagian masyarakat peningkatan
pengeluaran biaya tersebut tak di iringi dengan peningkatan penghasilan. Selain
itu, Bambang juga sangat menyayangkan upaya dari kepolisian untuk
mengaantisipasi kejahatan ini. Menurutnya, kegiatan antisipasi kejahatan yang
dilakukan kepolisian seperti operasi Kamtibmas hanya sebatas seremonial dan
rutinitas tahunan saja tanpa ada evaluasi secara substantif. Padahal lanjut
Bambang, siklus kejahatan di bulan Ramadan dan jelang lebaran itu terjadi di
setiap tahun. Seharusnya pihak kepolisian bisa mengantisipasi kejahatan-kejahatan
tersebut dengan cara yang tepat.
Bulan
Ramadan adalah bulan yang mulia dan seharusnya digunakan untuk menahan hawa nafsu
dalam hal apapun. Maraknya kejahatan di bulan Ramadan memang tidak lepas dari
kemiskinan yang mendera masyarakat dan kriminalitas makin meluas akibat
penerapan sistem ekonomi kapitalis, lemahnya keimanan dan ketakwaan. Makin
tinggi kebutuhan ekonomi serta kebijakan kapitalis membuat angka kejahatan
makin meningkat meski di bulan suci Ramadan.
Inilah
bukti sistem sekuler kapitalisme gagal menjaga masyarakat untuk terhindar dari
perbuatan kriminal. Inilah yang terjadi ketika sekuler kapitalis sudah
mendominasi, nilai agama tidak lagi dijadikan sebagai pegangan hidup, perbuatan
maksiat begitu saja dilakukan tanpa takut dosa dan pertanggungjawaban kelak di
ahirat. Ditambah dengan kebijakan negara dalam sistem politik demokrasi gagal
mengantisipasi lonjakan harga bahan pangan di hari raya besar seperti hari raya
idulfitri.
Berbeda
jika sistem Islam diterapkan. Dengan aturan Islam secara sempurna dan sesuai
syariat pada tatanan individu, sistem Islam akan membina kepribadian individu
rakyak menjadi sosok yang bertakwa dan menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah
syariat Islam di tengah masyarakat. Ketakwaan ini yang akan mencegah masyarakat
melakukan tindakan kejahatan yang di larang syariat.
Dan
pada tatanan negara menyejahterakan penduduknya dengan memenuhi kebutuhan dasar
berupa sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan. Jika
kebutuhan pokok masyarakat terpenuhi maka kejahatan tidak mungkin meningkat
setiap tahunnya terlebih di bulan Ramadan yang suci.
Hanya
sistem Islam yang dapat memberikan jaminan kesejahteraan untuk seluruh
takyatnya dan mampu menyelesaikan segala permasalahan umat, serta mengayomi, menjaga,
menjamin dan melindungi rakyatnya.
Wallahualam
bissawab

No comments:
Post a Comment