Penumpukan Sampah Pasca Banjir




Oleh Rukmini

Aktivis Muslimah


Dampak banjir yang melanda Kabupaten Bandung tidak hanya merugikan warga, tetapi juga menimbulkan permasalahan baru terkait timbunan sampah. Sampah tersebut terbawa arus banjir, sehingga menciptakan kerusakan lingkungan permukiman dan menurunkan kualitas sanitasi.


Asep Kusumah selaku Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kolaborasi dengan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum dan Satgas Citarum Harum untuk mengatasi permasalahan timbunan sampah, kami berusaha menyelesaikan permasalahan sampah ini. Armada bersama dengan kader lingkungan dan kebersihan telah dikerahkan untuk melakukan upaya pemulihan di lokasi bencana," kata Asep, Senin (15/1/2024).


Tumpukan sampah terjadi di aliran sungai Citepus, Kampung Bobojong Kecamatan Dayeuhkolot, sampah-sampah ini ikut hanyut terbawa arus saat banjir melanda kota Bandung. Tiang besi penyangga sampah sepanjang 20 Meter dan lebar 8 Meter bahkan tertutup sampah. Tidak adanya koordinasi antara aparat masing-masing wilayah serta minimnya kesadaran warga membuang sampah pada tempatnya menjadi salah satu faktor penyebab banyaknya sampah kiriman dari kota Bandung terutama saat musim penghujan. Sebagian besar sampah berasal dari wilayah hulu, terutama Sungai Cikapundung, sampah kiriman ini menyumbat aliran air sungai dan menjadi pemicu banjir di daerah hilir seperti di Bojongsoang, Dayeuhkolot, dan Baleendah.


Operasi bersih dilakukan secara rutin, terutama di titik-titik tertentu di mana sampah tertahan. Setelah berhasil diangkut, sebagian besar sampah dikelola dengan teknologi Refuse Derived Fuels (RDF) sebelum dibawa ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti.


Limbah atau sampah yang merupakan sisa konsumsi harian manusia menjadi salah satu problem delik yang belum mampu diselesaikan saat ini. Solusi yang diambil pemerintah seperti daur ulang limbah plastik, kantung plastik berbayar, penerapan sistem lenfil atau lebih dikenal dengan pemilihan sampah organik dan non organik ternyata belum mampu menyentuh akar masalah. Dan sebagaimana kita ketahui, penyumbang sampah terbesar berasal dari rumah tangga yang didasari oleh budaya konsumtif yang kian hari kian parah di idap masyarakat saat ini.


Perilaku konsumtif adalah kecenderungan seseorang bersikap berlebihan dalam menggunakan sesuatu atau membeli sesuatu yang tidak terencana. Sebagai akibatnya manusia cenderung membelanjakan uangnya secara berlebihan dan tidak rasional sekedar untuk mendapatkan barang-barang yang menurut anggapan mereka dapat meningkatkan gengsi atau eksistensi mereka di hadapan orang lain, bukan karena kebutuhan melainkan karena keinginan. 


Namun, problem sampah itu bukan hanya dari sifat konsumtif masyarakat saja, akan tetapi dikarenakan minimnya tempat pembuangan akhir sampah. Dan tidak ada keseriusan pemerintah dalam menangani problem sampah itu sendiri. Salah satunya dengan memberikan keleluasaan kepada pihak pemilik modal untuk memproduksi berbagai macam produk seperti halnya plastik. Limbah plastik ini senantiasa dibebankan kepada pengguna, padahal, jika memang kantong plastik dianggap berbahaya, pertanyaannya adalah mengapa masih tetap diizinkan beredar? Seharusnya ada regulasi tegas bahwa kantong plastik tidak boleh diproduksi. Pemotongan dari hulu melalui regulasi akan menyelesaikan masalah secara lebih cepat tanpa harus membuat perda masing-masing. Regulasi ini bukan beban masyarakat, melainkan tugas pemerintah.


Pengelolaan dan pengolahan pasca pakai. Pada dasarnya tugas negara karena volume limbah rumah tangga yang besar dengan jumlah penduduk yang banyak tidak memungkinkan untuk dikelola sendiri secara individu maupun komunitas. Persoalannya, pengelolaan sampah oleh negara juga tidak berjalan dengan baik. Pemilahan dan pemisahan limbah tidak pernah dilakukan secara sistematis dan konsisten. Sosialisasi dan regulasi tentang pemilahan limbah pun tidak pernah dilakukan terhadap masyarakat. Apalagi pembangunan kesadaran tentang pentingnya pengelolaan limbah.


Masalah limbah bukan masalah khas kapitalisme. Semua jenis pemikiran dan ideologi akan menghadapi masalah yang sama, khususnya dengan penduduk yang besar, industrialisasi yang masif, serta gaya hidup yang mengalami pergeseran. Namun, semua akan berbeda terkait pandangan hidup yang mendasari proses melahirkan peraturan untuk mengelola berbagai masalah dalam limbah.


Problem sampah harus diselesaikan dengan mengubah pola konsumtif di masyarakat dengan tepat dan benar. Dan konsep pola konsumsi yang tepat dan benar itu ada di dalam Islam. Islam mendorong produktivitas dan tidak melarang konsumsi, namun Islam mendorong manusia memiliki gaya hidup bersahaja, mengkonsumsi sesuai kebutuhan dan melarang menumpuk barang tanpa pemanfaatan.


Kemampuan negara Islam menyelesaikan problem sampah telah di buktikan, salah satunya tercatat dalam sejarah Kekhilafahan Islam pada masa Bani Umayyah jalan-jalan di kota Kordoba telah bersih dari sampah. Saat itu telah dibangun sistim pembuangan sampah, sehingga pemandangan di kota-kota saat itu benar-benar bebas dari sampah.


Ide pengelolaan dan sistim pembuangan sampah berasal dari Qusta Ibn Luqa, Ar-Razi, Ibn Al-Jazzar dan Al-Masihi, tokoh-tokoh ini telah mengubah konsep sistim pengelolaan sampah tidak lagi hanya diserahkan pada kesadaran masing-masing orang. Tidak di dapati perkotaan yang identik dengan volume sampah yang menggunung seperti saat ini, dan sulit menemukan tempat-tempat kumuh di daerah perkotaan. 


Negara akan mengatur dan mengumpulkan sampah-sampah yang di hasilkan baik dari perkotaan ataupun pedesaan, dari hasil konsumsi normal masyarakat di tempat khusus, begitu juga sampah industri dan lain-lain. Sampah akan di kelola oleh negara agar tidak mencemari lingkungan dengan teknologi canggih. Negara akan menggerakkan para ahli yang kompeten dalam hal ini untuk mencurahkan segenap kemampuannya mengatasi problem sampah. Pembiayaan pun berasal dari negara yang diambil dari Baitul Mal. Umat manusia butuh segera menerapkan sistem Islam demi terwujudnya kesejahteraan dan kenyamanan.


Wallahualam bissawab

Post a Comment

Previous Post Next Post