Oleh Ria juwita
Mua
Syar’i
dan Pendidik Generasi
Sungguh miris, akhir-akhir ini banyak berita
pembunuhan yang dilakukan seorang ibu terhadap anaknya. Kasus yang masih hangat,
terjadi di daerah Kabupaten
Belitung,
seorang ibu yang kesehariannya bekerja menjadi seorang buruh, membunuh dengan keji bayinya sendiri
yang baru dilahirkan dengan cara menceburkan bayi itu ke dalam ember, setelah
meninggal kemudian ia membungkusnya dengan kain lalu membuangnya di semak-semak.
Dikutip oleh media online
kumparannews, Rabu (24/01), “Pelaku bunuh anaknya
sendiri lalu membuangnya ke kebun warga,” kata Kasat Reskrim Polres Belitung, Akp Deki.
Banyak faktor yang bisa melatar belakangi seorang
ibu kehilangan naluri keibuannya. Fondasi keimanan yang lemah, kepedulian
masyarakat yang kini mulai hilang dan mementingkan individualisme, faktor ekonomi
pun memicu dorongan yang kuat terjadinya hal tersebut, fitrahnya perempuan
sebagai Umu
wa rabbatul bayt (ibu pengatur rumah suaminya), Ummu ajyal (pendidik
generasi), dan fitrahnya perempuan sebagai seorang ibu mulai hilang dan
tergerus karena
ibu berdaya di ruang publik, akibat peran keluarga tidak berfungsi pada
semestinya. Peran ayah yang seharusnya mencari nafkah digantikan oleh ibu. Karena taraf mencari kerja
yang sangat sulit di sistem kapitalisme ini. Beberapa upaya telah di lakukan
pemerintah untuk memberantas kemiskinan tersebut dengan beberapa program
bantuan langsung ataupun tidak langsung, pemerintah pun meluncurkan
program kartu prakerja untuk masyarakat
yang kesulitan mencari kerja, dengan program pembinaan dan bantuan modal secara
bertahap, tapi
hal tersebut tidak berjalan semestinya, pemberian bantuan yang salah sasaran,
dan hasil program yang tidak efektif dan sedikit melahirkan para alumni yang
memiliki keahlian khusus. Ini jelas belum menjadi sebuah solusi karna beberapa
solusi yang dibuat tidak mengikis dari akarnya, sehingga akan muncul masalah
baru yang terus mendorong perempuan tak
hanya sebagai tulang rusuk tapi kini beralih menjadi tulang punggung, inilah
yang memicu perubahan sikap dan berdampak pada kesehatan mental seorang ibu, sehingga
anak yang menjadi objek yang sangat rentan menjadi sasaran kekesalan dan kekerasan
orang tua. Ini sudah jelas karna sistem kapitalisme sistem yang rusak yang
masih di emban di negara ini.
Perempuan atau ibu dalam sistem Islam
Perempuan atau ibu dalam sistem Islam
sangat dimuliakan dan dilindungi. Mereka berperan sesuai fitrahnya, yaitu
sebagai ibu pengatur rumah suami dan sebagai pendidik generasi. Ibu sangat
dimuliakan dan di fokuskan untuk menjalankan semua kewajibannya. khususnya
menjadi ibu pendidik generasi ataupun Qurrota ayun. Kebutuhan
ekonomi terpenuhi oleh peran seorang
ayah yang berkewajiban mencari nafkah, sehingga ibu berfokus dalam mengurus dan
mendidik anak dengan kelembutan dan kasih sayang tanpa tambahan beban yang
seharusnya memang bukan menjadi kewajibannya.
Tugas negara sebagai pelayan umat mengupayakan
yang terbaik untuk
umat, karena
dalam sistem Islam para pemimpin yang dipilih adalah pemimpin yang mengetahui
tanggung jawabnya sebagai kepala negara yang akan dimintai pertanggung
jawaban di akhirat kelak jika tidak amanah dalam mengembanya.
Wallahualam bissawab

No comments:
Post a Comment