Tabrakan Kereta, Mengapa Terjadi Lagi?


Oleh: Asma Sulistiawati
 (Pegiat Literasi) 


Kecelakaan kembali terjadi. Jumat pagi (05/01/2024) terjadi tabrakan antara kereta commuter Bandung Raya dan KA Turangga di jalur single track yang berlokasi di Kampung Babakan, Desa Cikuya, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, tepatnya di km 181 (CNBCIndonesia, 06/01/2024).


Kabar kecelakaan yang menewaskan 4 korban dan mengakibatkan 23 orang luka-luka itu menjadi sorotan surat kabar mancanegara. Media Hong Kong, BNN Breaking, melalui artikel “Train Collision in Bandung: A Tragic Wake-Up Call for Indonesia’s Aging Railway Infrastructure” menyebut bahwa tragedi ini terjadi disebabkan infrastruktur perkeretaapian di Indonesia sudah tua dan terus dipertahankan. Mereka mengkritik perlu diciptakan infrastruktur kereta api yang modern, aman dan efisien sehingga kecelakaan tidak akan terulang kembali.


Sementara itu, Agence France-Presse (AFP), melalui artikel “4 dead, 22 injured in Indonesia train collision” menulis juga bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan yang luas terdapat bus, kereta api, bahkan pesawat sering kali sudah tua dan tidak dirawat dengan baik sehingga nyawa manusia menjadi taruhannya.


Tak heran. Tragedi kecelakaan kereta api di Indonesia memang banyak sekali. Sepanjang periode 2007-2023, sebanyak 103 kasus dengan frekuensi sekitar 1-13 kecelakaan kereta api terjadi setiap tahunnya. Kejadian itu meliputi insiden kereta anjlok atau keluar rel, insiden tabrakan kereta, insiden kereta terbakar, dll. (databooks.katadata, 05/01/2024).



Lantas, apakah faktor yang menyebabkan banyaknya insiden yang mengorbankan jiwa penumpang maupun kru? Apakah kejadian berulang ini murni human error, sistem error atau ada hal lain?


Faktanya, monorel Cicalengka yang menjadi lokasi tabrakan kedua kereta tersebut masih dalam tahap proyek pembangunan dua jalur yang diharapkan selesai pada 2023. Proyek yang menelan biaya 1,3 triliun itu dibagi menjadi dua tahap. Namun tahap kedua belum selesai sebelum terjadi peristiwa yang memakan korban jiwa.


Sayangnya, sejak awal proyek pembangunan dua jalur tersebut diklaim hanya bertujuan untuk mengurangi waktu tempuh yang lama dan kemungkinan menambah jumlah pemudik hingga 25%.Ini telah menjadi wajah kapitalisme dan rakyat, dan keselamatan serta kenyamanan bukanlah prioritas. 


Padahal, ketika masyarakat dan nyawa masyarakat terancam, pembangunan infrastruktur, sepanjang menguntungkan pihak tertentu, dilakukan dengan anggaran serendah-rendahnya namun dengan keuntungan sebesar-besarnya.


Sungguh berbeda dengan Islam. Islam sangat menghargai kehidupan sehingga menjamin keselamatan penumpang dalam berbagai kondisi, termasuk moda transportasi, harus optimal. Islam memandang negara bertanggung jawab untuk menjamin sistem dan fasilitas transportasi yang aman dan wajib melaksanakannya karena negara bertanggung jawab di masa depan baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang.


Rasulullah bersabda,


أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْإِمَامُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِه


“Ingatlah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya, penguasa yang memimpin rakyat banyak dia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Al-Bukhari, Muslim, dan lainnya)


Itulah sebabnya ketika Khalifah Umar bin Khaththab r.a. sebagai khalifah, semasa kepemimpinannya ia sangat khawatir dituntut di akhirat jika ada jalan berlubang di wilayahnya. Dia berkata,


لو أنّ دابّة بسواد العراق عَثَرَتْ لَخشيتُ أن يسألني اللهُ عنها لما لم أمهِّد الطريق


“Andaikan ada seekor binatang melata di wilayah Irak yang kakinya terperosok di jalan, aku sangat takut Allah akan meminta pertanggungjawabanku karena aku tidak memperbaiki jalan tersebut.” (‘Abdul Qadim Zallum, Afkaar Siyaasiyyah)


Wallahu'alam

Post a Comment

Previous Post Next Post