Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Sikap Kaum Muslim di Malam Pergantian Tahun

Sunday, January 14, 2024 | January 14, 2024 WIB Last Updated 2024-01-14T13:22:36Z


Oleh Ummu Kholda

Pegiat Literasi, Komunitas Rindu Surga



Tahun 2023 telah berakhir, berganti dengan tahun 2024. Pergantian tahun ini selalu meriah dengan pesta kembang api serta tiupan terompet, seolah menjadi tradisi yang sulit untuk ditinggalkan. Masyarakat pun beramai-ramai ingin menyaksikan pesta tersebut di detik-detik malam pergantian tahun, hingga jalanan macet. 


Salah satu kota yang merayakan malam pergantian tahun dengan pesta kembang api adalah Ibu kota Jakarta. Warga di sana beramai-ramai mengajak sanak saudara untuk menyaksikan pesta malam tahun baru tersebut. Bahkan event pesta kembang api tidak hanya digelar di satu lokasi, akan tetapi ada beberapa lokasi, seperti Monas, Ancol, dan lain sebagainya. (CNN Indonesia, 31/12/2023) 


Sayangnya, gempita malam tahun baru begitu menyisakan pilu. Di belahan dunia lain, Gaza, Palestina, saudara kita justru masih terus dirundung ketakutan. Bayang-bayang ledakan bom selalu menghantui mereka.  Laporan Reuters dari informasi otoritas Hamas mengatakan serangan Zionis telah menewaskan 165 orang di Gaza  selama 24 jam terakhir (dikutip CNBC.Indonesia, 30/12/2023) dan sekitar 250 orang mengalami luka parah. Begitu juga dengan Aceh, saat gempita pesta tahun baru, pengungsi Rohingya justru terlunta-lunta akibat pengusiran paksa yang dilakukan oleh ratusan mahasiswa. Pengusiran yang mengakibatkan trauma dan ketakutan, bahkan sampai mereka berpikir bahwa saat itulah akhir dari perjalanannya di dunia. (CNBC Indonesia, 31/12/2023).


Sungguh betapa memilukannya kondisi umat Islam saat ini. Padahal umat Islam diibaratkan satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya merasakan sakit, maka anggota tubuh lainnya pun akan merasakannya. Namun di malam pergantian tahun, hakikat ikatan akidah tersebut tampak tidak berlaku. Warga Palestina korban kebiadaban Zionis sejak serangan yang membabi buta sudah tembus sekitar 21.822 jiwa. Belum lagi yang mengalami luka-luka. Sementara itu, pembelaan kaum Muslim pun kian terbelah dengan nasib Rohingya yang sedang terzalimi. Gaung pemboikotan terhadap produk pendukung Zionis pun kian memudar, tidak sekencang awal meletusnya pembantaian. 


Tak sedikit kaum Muslim tenggelam dalam kehidupan sekuler liberal yang jauh dari norma agama. Sekuler yang merupakan asas dari ideologi kapitalisme telah memisahkan agama dari kehidupan. Agama tidak dijadikan tolok ukur suatu perbuatan. Sehingga betapa tampak kerusakan demi kerusakan, perpecahan antar umat dan penyiksaan terhadap sebagian kaum Muslim lainnya. Kaum Muslim tidak mempunyai pembela yakni pemimpin Islam yang akan berdiri di barisan terdepan melindungi rakyatnya. 


Selain itu, sistem kapitalis yang diterapkan di tengah umat telah menjadikan kekuasaan dan materi adalah segalanya, bahkan tidak segan kekuasan tersebut disalahgunakan untuk menindas rakyat. Gaya hidup hedon sangat terlihat pada kehidupan rakyat saat ini, berfoya-foya tanpa melihat penderitaan saudaranya di belahan dunia lain. Cintanya terhadap dunia telah melalaikan mereka akan ketaatan terhadap aturan Islam. Tak ayal sebagian mereka terjebak dalam budaya kufur yang merusak. 


Mirisnya malam pergantian tahun kerap diwarnai kemaksiatan yang sudah dianggap biasa, seperti pesta miras, narkoba, seks bebas, dan sebagainya. Sebagian masyarakat bahkan sudah tidak peduli ketika mengambil sikap, halal haram tidak lagi dijadikan standar dalam menentukan perbuatannya. 


Selain itu, masuknya paham nasionalisme juga telah nyata merusak ikatan akidah kaum Muslim. Umat Islam yang satu kini tersekat oleh pagar nasionalisme. Membela Palestina seharusnya juga membela Rohingya. Mereka sama-sama muslim yang wajib kita perhatikan, apalagi dalam kondisi terjajah dan terzalimi. Penguasa muslim hingga saat ini hanya berani mengecam tanpa bisa mengirimkan bantuan militer atau menekan entitas Yahudi dan sekutunya. Jelaslah ikatan nasionalisme ini rapuh dan gagal dalam mempersatukan kaum Muslim dengan ikatan yang hakiki. 


Sungguh, kita tidak dapat berharap kepada sistem kapitalisme sekuler saat ini. Karena sistem ini justru biang dari segala kerusakan. Umat hanya membutuhkan seorang pemimpin yang tulus ikhlas menjalankan amanah mengurus rakyatnya. Dialah seorang pemimpin yang lahir dari sistem pemerintahan Islam, yang akan bekerja sepenuh hati mengurus rakyatnya dengan aturan syariat tanpa pandang bulu. Sistem yang juga akan mempersatukan umat di seluruh belahan dunia. 


Sistem ini juga yang akan menaungi, melindungi, dan memberikan rasa aman di mana pun rakyat berada. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya: "Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, yang (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya." (HR. Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, An-Nasai', Ahmad) 


Di bawah kepemimpinan Islam, umat akan terjaga dari segala kezaliman, penindasan, penjajahan, dan keterpurukan. Juga dengan penerapan syariat secara sempurna maka akan terwujud kehidupan yang islami. Generasi akan terselamatkan dari gempuran budaya barat, gaya hidup hedon, liberal, dan berbagai pemikiran kufur. Bahkan tidak hanya untuk warga muslim, non muslim pun dapat merasakan indahnya hidup dalam naungan Islam. 


Sudah saatnya kaum Muslim bangkit dari segala keterpurukan akibat sistem kapitalisme sekuler yang menyengsarakan, dan kembali kepada sistem Islam warisan Rasulullah saw.. Dengan penerapannya secara kafah (menyeluruh) niscaya umat akan hidup damai dan sejahtera. Wallahu a'lam bi ash-shawab.

×
Berita Terbaru Update