Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pengungsi Rohingya Semakin Merana

Saturday, December 09, 2023 | December 09, 2023 WIB Last Updated 2023-12-09T07:37:40Z

 


Oleh. Yuli Juharini


Umat Islam ibarat satu tubuh, jika ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuh akan ikut merasakan sakit juga (HR. Muslim). Hadis itu sangat sulit direalisasikan saat ini. Yang ada kebanyakan umat Islam sudah terkotak kotak dalam beberapa negara bagian. Tidak boleh mencampuri urusan negara lain, walaupun di dalamnya ada umat Islam yang dizalimi. Hal itu yang terjadi pada Muslim Rohingya.


Rohingya merupakan komunitas Muslim yang mendiami wilayah bagian Rakhine (Arakan), Myanmar Barat, yang mayoritas penduduknya beragama Buddha. Sejak tahun 1942, Rohingya mengalami pengusiran dari tanah kelahirannya yang sudah didiami selama berabad abad lamanya. Dalam insiden itu, ada 100 ribu Muslim Rohingya tewas, ribuan desa hancur, banyak para wanita yang mengalami kekerasan seksual. 


Sejak saat itu penduduk Rohingya mengalami ketakutan yang luar biasa. Ada sekitar 13 ribu orang yang mengungsi dan mencari perlindungan di kamp pengungsian India dan Pakistan. Juga ke Bangladesh, karena berbatasan langsung dengan negara itu. Bahkan ada pula yang sampai mengungsi ke Indonesia.


Menurut UNHCR, badan PBB yang mengurusi masalah pengungsi, pada tahun 2016 jumlah pengungsi Rohingya ke Indonesia mencapai 897 orang. Ini mengalami peningkatan dari tahun ke tahun, yang terbaru terjadi pada tahun ini. Menurut Koordinator Kontras Aceh, Azharul Husna, pengungsi Rohingya berdatangan sejak tanggal 14 November 2023 di kawasan Kabupaten Pidie sebanyak 346 orang dan di Bireuen sebanyak 249 orang. Mereka menempuh jalur laut menggunakan kapal-kapal.


Azharul Husna mengatakan agar pemerintah memberikan pertolongan kepada para pengungsi Rohingya, agar tidak terombang-ambing di atas kapal. Pasalnya, setelah mendapat bantuan berupa makanan dan minuman, para pengungsi itu, oleh warga setempat diminta untuk kembali ke kapal.


Azharul Husna pun berharap agar Kementerian Luar Negeri bekerja sama dengan PBB menuntaskan isu pengungsi Rohingya. Menanggapi hal itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal mengatakan bahwa Indonesia tidak punya kewajiban untuk menerima pengungsi dari Rohingya. (tirto.id, 19/11/2023)


Sungguh miris, Indonesia dengan jumlah penduduk  mayoritas Muslim terbesar di dunia tidak dapat membantu saudara seakidah yang sedang mengalami genosida. Pengungsi Rohingya terkatung-katung di tengah laut demi menyelamatkan diri dan mencari perlindungan. Begitu sampai tempat tujuan malah dipaksa kembali ke kapal setelah mendapat bantuan alakadarnya. Dengan berbagai macam alasan yang kadang tidak masuk akal, mengingat Indonesia itu kaya dengan sumber daya alamnya.


Salah satu alasan mengapa Aceh menolak para pengungsi Rohingya karena adanya kecemburuan sosial di antara warga setempat. Aceh menduduki urutan pertama provinsi termiskin di Sumatera dan secara nasional menduduki urutan keenam. Jadi ketika pemerintah daerah setempat membantu para pengungsi, ada rasa cemburu bagi warga sekitar.


Dengan adanya kenyataan ini, dapat disimpulkan bahwa kekayaan alam yang melimpah di Indonesia belum merata dinikmati oleh rakyat banyak. Masih ada kesenjangan sosial. Padahal, jika saja sumber daya alam yang melimpah itu diolah dengan benar dan hasilnya untuk kemaslahatan rakyat semua, maka tidak ada lagi istilah propinsi termiskin.  Indonesia bisa dengan leluasa membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongan, seperti para pengungsi dari Rohingya itu.


Ketika Indonesia seolah menutup mata terhadap keberadaan para pengungsi Rohingya itu, disebabkan adanya paham nasionalisme yang sudah mendarah daging. Wajah asli dari nasionalisme adalah lebih mengutamakan urusan dalam negeri dibandingkan dengan nasib saudara seakidah yang berasal dari luar. Dan beranggapan bahwa pengungsi Rohingya itu bukan urusan mereka. Tanpa disadari, paham nasionalisme ini sudah menghilangkan ukhuwah islamiyah.Bagaimana pandangan Islam dalam hal ini?


Islam merupakan agama yang sempurna, karena tidak hanya mengurusi soal ibadah saja, terkait hubungannya dengan Sang Pencipta. Namun hubungan dengan sesama manusia pun diurusi dalam Islam. Termasuk soal pengungsi. Dahulu, ketika kaum Muhajirin hijrah ke Madinah, karena adanya berbagai macam tekanan di Makkah, diterima oleh kaum Anshar dengan tangan terbuka. Mereka mendahulukan kepentingan kaum Muhajirin dibandingkan dengan kepentingan mereka sendiri, walaupun dalam keadaan sempit. Mereka memiliki hubungan layaknya saudara, bukan sekadar tamu dan tuan rumah.


Itulah yang harusnya dilakukan oleh seorang Muslim terhadap saudaranya yang membutuhkan pertolongan. Seorang Muslim pun akan rela membela saudaranya yang dizalimi di mana pun mereka berada, dengan cara memberikan bantuan secara militer. Karena cara itulah yang paling baik untuk membantu kaum Muslim yang tertindas. Agar tidak ada lagi yang berani sewenang wenang terhadap umat Islam.


Ketika sistem Islam digunakan, maka sang kepala kegara Islam akan membangun kesatuan fisik di antara umat Islam. Di setiap perbatasan negara Islam, akan selalu terbuka untuk setiap muslim yang tertindas, yang mencari perlindungan, tanpa peduli dari mana mereka berasal. Jika sudah hidup dalam sistem Islam, maka wajib patuh pada seluruh peraturan Islam, tanpa peduli muslim maupun nonmuslim, berbeda etnis ataupun sama.

Jadi kasus yang dialami oleh Muslim Rohingya tidak akan terjadi. Tidakkah tergerak untuk merubah sistem yang ada menjadi sistem Islam? 


Wallahu a'lam bishawab

×
Berita Terbaru Update