Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Menyoal Tema Peringatan HGN?

Monday, December 11, 2023 | Monday, December 11, 2023 WIB Last Updated 2023-12-11T12:18:35Z

Oleh : Elis Sondari, S.Pd.I (Muslimah Peduli Umat)


Guru adalah Sang Pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka punya tugas berat karena nasib masa depan anak bangsa ada di pundaknya. Oleh karenanya, sangat wajar jika kita berterima kasih kepada mereka ‘sang pahlawan tanpa tanda jasa’. Namun, seberat apa pun beban amanah yang ada, mereka hanya bisa mengikuti titah penguasa. Mereka menjalankan kurikulum yang diputuskan, tidak mampu menolak meskipun menjumpai banyak kesalahan. Berdasarkan Pedoman Peringatan HGN (Hari Guru Nasional) 2023 yang dikeluarkan oleh Kemendikbud Ristek tanggal 26 Oktober 2023 lalu, HGN tahun ini mengangkat tema tentang Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar. Tema ini sejalan dengan kurikulum yang diterapkan saat ini yakni kurikulum merdeka belajar. Menyoal tema Peringatan HGN, sejatinya patut dipertanyakan, sudah seberapa efektif dampak dari Kurikulum Merdeka ini sehingga Pemerintah begitu berhajat hingga menyeru kepada seluruh satuan pendidikan untuk menerapkan kurikulum ini?


Sebagaimana kita ketahui, kurikulum yang di gagas oleh Mas Menteri ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan siap kerja dan dapat memenuhi kebutuhan industri. Sayangnya, sejak resmi dicanangkan sebagai kurikulum baru tahun 2022 lalu, Kurikulum Merdeka ini tak banyak menuai hasil. Hal ini bisa dilihat dari fakta kondisi generasi saat ini. Alih-alih bertambah kualitasnya, justru semakin hari semakin bobrok. Kenakalan-kenakalan ringan hingga tindak kriminal, seperti bullying dan penganiayaan pun seolah tak pernah surut mewarnai keseharian para pemuda. Korbannya bahkan tak lagi hanya melibatkan teman sebaya saja, namun telah menyasar ke kalangan pendidik dan guru. Sudah tak terhitung banyaknya media mainstream memberitakan kasus pelajar yang tega menganiaya gurunya sendiri. Beragam aksi mulai dari pelecehan verbal, pemukulan bahkan hingga penganiayaan sampai mengakibatkan kecacatan telah menjadi deretan sejarah tindak kejahatan yang dilakukan. Bukankah hal tersebut justru menjadi tamparan telak di tengah Peringatan HGN yang kemarin?


Sudah sepatutnya kita mengoreksi akar masalah sebenarnya. Kita ketahui, penguasa sekarang memegang sekularisme, konsep yang menyatakan tidak ada campur tangan Sang Pencipta dalam kehidupan bernegara. Hasilnya, semua aturan dibuat oleh akal manusia. Manusia, sebagai makhluk yang tidak pernah puas, menjadikan hawa nafsu sebagai tuntunan. Hasilnya, hanya ada keinginan untuk mendapat materi atau kepuasan dunia semata. Jadi, kesombongan manusia karena merasa pandai dengan akalnya dan ambisi mereka untuk sebanyak-banyaknya mendapatkan materi, melahirkan kurikulum yang jauh dari firman Ilahi. Oleh sebab itu, sesering apa pun negara tersebut mengganti kurikulum, selama pemimpinnya masih memakai kapitalisme dan sekularisme sebagai landasan dalam berbuat, generasi akan sulit untuk diperbaiki.


Islam memandang generasi sebagai aset besar bagi bangsa dan negara. Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang akan menyebarluaskan Islam ke seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini. Islam memiliki konsep khusus untuk mewujudkan generasi emas yang berkepribadian Islam. Sistem Islam akan menerapkan sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai landasannya. Adapun tujuan dari penerapannya adalah untuk memuliakan manusia agar memiliki pola pikir dan sikap Islam. Islam akan membuat kurikulum sesuai dengan pandangan Islam, bukan berorientasi materi belaka.


Konsep pembelajaran sistem pendidikan Islam pun jauh berbeda dengan sistem sekarang. Pembelajaran dalam Islam adalah lebih untuk diamalkan. Apa pun yang dipelajari, nantinya untuk diamalkan, baik untuk diri sendiri maupun orang lain. Alhasil, generasi akan selalu berpikir membuat karya untuk umat, bukan untuk kepuasan akal pribadi. Begitu pula dengan para pendidiknya, penghargaan untuk mereka tidak sekadar dengan mengadakan Hari Guru. Negara juga tidak akan membiarkan gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, melainkan akan memuliakan dan memberikan gaji yang senilai dengan kerjanya. Pada masa Khalifah Umar bin Khatthab, misalnya, gaji guru mencapai 15 dinar (1 dinar setara 4,25 gram emas). Jadi, guru pun akan berupaya sebaik mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai pendidik dan menjalankan amanahnya dengan baik.


Pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan murid untuk menghormati guru mereka. Pada intinya, sistem pendidikan Islam merupakan bagian dari satu kesatuan sistem Islam yang wajib diterapkan. Dengan dukungan semua sistem Islam, generasi akan terjaga dari segala kerusakan. Gambaran generasi cemerlang ini dapat kita saksikan pada masa Kekhalifahan Islam yang pernah tegak selama berabad-abad silam. Wallahualam bishawwab.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update