Oleh
: Elis Sondari, S.Pd.I (Muslimah Peduli Umat)
Guru adalah Sang Pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka punya tugas berat
karena nasib masa depan anak bangsa ada di pundaknya. Oleh karenanya, sangat
wajar jika kita berterima kasih kepada mereka ‘sang pahlawan tanpa tanda jasa’.
Namun, seberat apa pun beban amanah yang ada, mereka hanya bisa mengikuti titah
penguasa. Mereka menjalankan kurikulum yang diputuskan, tidak mampu menolak
meskipun menjumpai banyak kesalahan. Berdasarkan Pedoman Peringatan HGN (Hari
Guru Nasional) 2023 yang dikeluarkan oleh Kemendikbud Ristek tanggal 26 Oktober
2023 lalu, HGN tahun ini mengangkat tema tentang Bergerak Bersama Rayakan
Merdeka Belajar. Tema ini sejalan dengan kurikulum yang diterapkan saat ini
yakni kurikulum merdeka belajar. Menyoal tema Peringatan HGN, sejatinya patut
dipertanyakan, sudah seberapa efektif dampak dari Kurikulum Merdeka ini
sehingga Pemerintah begitu berhajat hingga menyeru kepada seluruh satuan
pendidikan untuk menerapkan kurikulum ini?
Sebagaimana kita ketahui, kurikulum yang di gagas oleh Mas Menteri
ini bertujuan untuk menghasilkan lulusan siap kerja dan dapat memenuhi
kebutuhan industri. Sayangnya, sejak resmi dicanangkan sebagai kurikulum baru
tahun 2022 lalu, Kurikulum Merdeka ini tak banyak menuai hasil. Hal ini bisa
dilihat dari fakta kondisi generasi saat ini. Alih-alih bertambah kualitasnya,
justru semakin hari semakin bobrok. Kenakalan-kenakalan ringan hingga tindak
kriminal, seperti bullying dan penganiayaan pun seolah tak pernah surut
mewarnai keseharian para pemuda. Korbannya bahkan tak lagi hanya melibatkan
teman sebaya saja, namun telah menyasar ke kalangan pendidik dan guru. Sudah
tak terhitung banyaknya media mainstream memberitakan kasus pelajar yang tega
menganiaya gurunya sendiri. Beragam aksi mulai dari pelecehan verbal, pemukulan
bahkan hingga penganiayaan sampai mengakibatkan kecacatan telah menjadi deretan
sejarah tindak kejahatan yang dilakukan. Bukankah hal tersebut justru menjadi
tamparan telak di tengah Peringatan HGN yang kemarin?
Sudah sepatutnya kita mengoreksi akar masalah sebenarnya. Kita
ketahui, penguasa sekarang memegang sekularisme, konsep yang menyatakan tidak
ada campur tangan Sang Pencipta dalam kehidupan bernegara. Hasilnya, semua
aturan dibuat oleh akal manusia. Manusia, sebagai makhluk yang tidak pernah
puas, menjadikan hawa nafsu sebagai tuntunan. Hasilnya, hanya ada keinginan
untuk mendapat materi atau kepuasan dunia semata. Jadi, kesombongan manusia
karena merasa pandai dengan akalnya dan ambisi mereka untuk sebanyak-banyaknya
mendapatkan materi, melahirkan kurikulum yang jauh dari firman Ilahi. Oleh
sebab itu, sesering apa pun negara tersebut mengganti kurikulum, selama
pemimpinnya masih memakai kapitalisme dan sekularisme sebagai landasan dalam
berbuat, generasi akan sulit untuk diperbaiki.
Islam memandang generasi sebagai aset besar bagi bangsa dan negara.
Mereka adalah calon pemimpin masa depan yang akan menyebarluaskan Islam ke
seluruh penjuru dunia. Dalam hal ini. Islam memiliki konsep khusus untuk
mewujudkan generasi emas yang berkepribadian Islam. Sistem Islam akan
menerapkan sistem pendidikan Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai
landasannya. Adapun tujuan dari penerapannya adalah untuk memuliakan manusia
agar memiliki pola pikir dan sikap Islam. Islam akan membuat kurikulum sesuai
dengan pandangan Islam, bukan berorientasi materi belaka.
Konsep pembelajaran sistem pendidikan Islam pun jauh berbeda dengan
sistem sekarang. Pembelajaran dalam Islam adalah lebih untuk diamalkan. Apa pun
yang dipelajari, nantinya untuk diamalkan, baik untuk diri sendiri maupun orang
lain. Alhasil, generasi akan selalu berpikir membuat karya untuk umat, bukan
untuk kepuasan akal pribadi. Begitu pula dengan para pendidiknya, penghargaan
untuk mereka tidak sekadar dengan mengadakan Hari Guru. Negara juga tidak akan
membiarkan gelar ‘pahlawan tanpa tanda jasa’, melainkan akan memuliakan dan
memberikan gaji yang senilai dengan kerjanya. Pada masa Khalifah Umar bin
Khatthab, misalnya, gaji guru mencapai 15 dinar (1 dinar setara 4,25 gram
emas). Jadi, guru pun akan berupaya sebaik mungkin untuk menjalankan tugasnya sebagai
pendidik dan menjalankan amanahnya dengan baik.
Pada saat yang sama, Islam juga mengajarkan murid untuk menghormati
guru mereka. Pada intinya, sistem pendidikan Islam merupakan bagian dari satu
kesatuan sistem Islam yang wajib diterapkan. Dengan dukungan semua sistem
Islam, generasi akan terjaga dari segala kerusakan. Gambaran generasi cemerlang
ini dapat kita saksikan pada masa Kekhalifahan Islam yang pernah tegak selama
berabad-abad silam. Wallahualam bishawwab.
.png)
No comments:
Post a Comment