(Pemerhati Masalah Sosial)
Pemerintah mencatat, setidaknya ada 20 kasus bunuh diri anak-anak sejak januari 2023. Hal itu disampaikan Deputi bidang perlindungan Khusus Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (kemen PPPA) pada 10 November 2023. Nahar memgatakan bahwa para korban bunuh diri merupakan anak-anak berusia dibawah 18 tahun dan mencatat sudah sampai di angka 20 kasus. Menurutnya, kebanyakan mereka yang bunuh diri disebabkan oleh depresi, dugaan perundungan, dan beragam penyebab. Adapun korban kasus bunuh diri tersebar di beberapa wilayah Indonesia.
Di sisi lain, KPAI mencatat selama januari-November 2023 terdapat 37 aduan kasus mengenai anak mengakhiri hidupnya. Kasus tersebut terjadi pada usia rawan (kelas 5-6 SD), Kelas 1 atau 2 SMP , Kelas 1 atau 2 SMA. Polanya ada di usia rawan dan di usia yang mengalami perubahan dari SD ke SMP dan SMP ke SMA. Orang tua mana yang tidak sedih menghadapi kenyataan pahit bahwa putranya meninggalkannya untuk selamanya karena gantung diri.
Seperti yang terjadi baru baru ini seorang siswa SD ditemukan tewas tergantung di kamar rumahnya di kecamatan Doro, kabupaten pekalongan Jawa Tengah. Peristiwa tersebut terjadi Rabu sore (22/11/23). Meninggalnya bocah 10 tahun tersebut mengemparkan warga desa setempat. korban meninggal karena gantung diri di duga karena kecewa handpone disita orangtuanya.
Fenomena bunuh diri ini lahir dari kehidupan sekuler yang tidak menjadikan agama sebagai pedoman hidup. Kehidupan sekuler yang melahirkan individu materialistis dan liberalistik memicu stres yang berujung pada usaha mengakhiri nyawa sendiri.
Ironinya, banyak orangtua yang tidak melek dengan perilaku anaknya.kurangnya pengawasan dan kepekaan dari orangtua menjadi salah satu faktor penyebab perilaku anak tidak terbendung.Biasanya anak-anak yang lebih banyak terjerumus itu justru yang kesepian. Mereka juga tidak terlalu banyak punya teman, karena biasanya punya kesulitan dalam berhubungan sosial. kesalahan yang sering dilakukan orangtua, memberi kebebasan pada anaknya dalam berprilaku tapi tidak dibekali arahan dan pemahaman manfaat dan mudharatnya. Seharusnya orangtua harus cerdas menuntun dan masuk dalam dunia mereka.
Dari adanya kasus-kasus pada anak semestinya menjadi perhatian bagi orangtua bahwa anak anak adalah sarana utama dari bentuk bentuk hal negatif, termasuk kejahatan media. Canggihnya sarana media dewasa ini bisa di manfaatkan untuk hal hal yang baij atau buruk. Di sinilah peran orangtua yang harus ikut mengawasi dan memberikan batasan batasan penggunaan media online.gunakan sarana teknologi untuk membangun komunikasi efektif, serta sebagai sarana belajar ilmu yang bermanfaat. Hal yang tak kalah pentingnya adalah setiap orangtua harus memberikan pemahaman kepada anak anaknya tentang standar halal ada haram dalam ber prilaku. Bentengi anak anak dengan mendampinginya memberikan tsaqofah agama kepada mereka.
Komunikasi yang baik dengan anak akan menumbuhkan kesan pada anak merasa diperhatikan. dan akhirnya anak akan lebih terbuka mengkomunikasikan segala masalah anak kepada orangtua atau keluarga. Dengan keterbukaan anak kepada orangtuanya, akan dapat menggali sejauh mana kehidupan mereka dan mengetahui masalah masalah yang dirasakan anak anak.
Tidak hanya orangtua, tetapi sekolah, lingkungan tempat dimana anak bergaul dengan sesamanya, sangat berperan perilaku anak untuj itu diperlukan solusi yang komprehensif, dan memberlakukan sistem yang integral untuk mengatur kehidupan anak anak kita. Dalam hal tidak bisa hanya diserahkan pada peran orangtua, sekolah/ guru dan lingkungan. Semuanya pangkalnya adalah pada sistem kebijakan negara yang diterapkan.
Kasus bunuh diri anak adalah salah satu korban dari sistem, menyelamatkan remaja tidak akan berjalan jika negara sebagai pengayom rakyat tidak mengambil perannya. Ketika Islam diterapkan, pasti mampu membangun generasi yang berkepribadian shalih yang jauh dari salah pergaulan, karena setiap perilakunya berstandar pada standar halal-haram. Apa yang terjadi kini dengan maraknya kasus-kasus yang berdampak negatif tidak lain dan tidak bukan karena menjauhkan agama dari kehidupan (sekular), dan akibat liberalisme yang diusung oleh manusia dan akhirnya menghancurkan umat manusia itu sendiri.
wallahu A'lam Bish-shawab.
