Perselingkuhan akhir-akhir ini menjadi bahan perbincangan yang menarik dan santer, sebab perselingkuhan itu sendiri tidak hanya didominasi oleh para pria, tetapi juga wanita di segala lapisan dan golongan, bahkan tidak memandang usia. Sebenarnya fenomena ini tidak hanya terjadi di kota-kota besar seperti halnya Jakarta, tetapi juga di kota-- kota kecil atau pun di daerah.
Rumah tangga adalah lembaga moral terbesar dalam masyarakat. Di rumah tanggalah setiap individu memperoleh pendidikan mendasar. Suami/istri memerankan tugas mulianya secara moral hampir 50% berada di rumah tangga. Dari cara mendidik anak-anaknya, komunikasi, tata krama, life survive semuanya digambarkan begitu gamblang di rumah tangga. Ketika seseorang tidak lagi menyadari fungsi rumah tangga sebagai lembaga moral terbesar, maka ia benar-benar jatuh 50% dari hakekat moralnya. Wajar kalau semua agama menghukum berat pelaku selingkuh, sebab kalau dibiarkan sama dengan 50% keruntuhan moral.
Setiap orang yang menikah sudah tentu mendambakan dan mencita-citakan bisa menempuh kehidupan perkawinan yang harmonis. Namun bagaimana pun juga, kita tidak bisa melupakan bahwa sebuah perkawinan pada dasarnya terdiri dari 2 orang yang mempunyai kepribadian, sifat dan karakter, latar belakang keluarga dan problem yang berbeda satu sama lain.
Semua itu sudah ada jauh sebelum keduanya memutuskan untuk menikah. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kehidupan perkawinan pada kenyataan selanjutnya tidak seindah dan seromantis harapan pasangan tersebut. Persoalan demi persoalan yang dihadapi setiap hari, belum lagi ditambah dengan keunikan masing-masing individunya, sering menjadikan kehidupan perkawinan menjadi sulit dan hambar. Jika sudah demikian, maka kondisi itu semakin membuka peluang bagi timbulnya perselingkuhan di antara mereka.
Kasus perselingkuhan tidak hanya dilakukan oleh orang-orang yang mampu secara finansial, namun juga terjadi pada kalangan yang kurang mampu. Perselingkuhan dilakukan oleh orang-orang yang baru menikah, maupun yang telah lama menjalani rumah tangga berdua.
Seperti contoh perselingkuhan
seorang pria berinisial AW digerebek warga lantaran berduaan dengan perempuan lain bukan istrinya di sebuah kamar sebuah wisma di Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Sialnya, keluarga istrinya ikut menggerebek.
Padahal istri AW berinisial H diketahui baru saja berangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji.(Tribun news.com.29/5/2023).
"Menurut survei itu, pria lebih cenderung selingkuh ketimbang perempuan, dengan 20% pria dan 13% wanita melaporkan berhubungan seksual dengan orang lain selain pasangannya saat masih menikah," ungkap laporan Discreet Investigations, dikutip MNC Portal, Selasa (25/4/2023).
Terdapat beberapa alasan paling umum mengapa orang selingkuh. Di antaranya tidak terpuaskan secara emosional dan seksual, kurang apresiasi dan komunikasi, merasakan cinta pada orang lain, balas dendam karena diselingkuhi dan lain-lain.
Maraknya perselingkuhan menunjukkan rapuhnya ikatan pernikahan dan bangunan keluarga.
Apabila ditelisik, betul ada banyak hal penyebab perselingkuhan. Namun, tidak bisa dipungkiri faktor ketertarikan terhadap fisik dan mencari kepuasan adalah penyebab dominan perselingkuhan. Hal ini menjadi hal yang wajar dalam kehidupan sekuler kapitalis saat ini. Kesenangan dan kepuasaan materi sebagai tujuan utama hidup dan menjadi tolok ukur kebahagiaan. Dalam sistem ini pun, ketika agama dipisahkan dalam kehidupan akan menyebabkan rendahnya ketakwaan individu. Padahal ketakwaanlah yang menjadi benteng dari perbuatan tercela.
Pergaulan hari ini tiada batasnya. Lelaki dan perempuan bisa menjalin pertemanan dan keakraban. Banyak kisah perempuan memilih curhat dengan teman lelakinya saat memiliki masalah dalam rumah tangga. Banyak lelaki tak canggung mencari pelarian dengan bersenang-senang bersama teman perempuannya saat menghadapi rumitnya urusan dengan istri. Atau justru hanya iseng berteman saja karena dipertemukan oleh tugas yang sama dalam pekerjaan. Dari mata turun ke hati. Semua terjadi karena terbiasa.
Inilah andil yang cukup besar sebagai pemicu perselingkuhan. Karena naluri manusia sifatnya mudah dirangsang. Ada peluang, maka terjadilah penyimpangan hubungan. Masih ditambah dengan kebebasan media untuk menyajikan tayangan. Prinsipnya, apa saja dilakukan demi keuntungan. Berbagai drama atau sinetron yang berkisah tentang hubungan – hubungan tak sehat ditayangkan. Makin tinggi rating drama tersebut, makin panjang episode penayangannya. Bahkan pernah ada lagu – lagu yang menggambarkan bahwa selingkuh itu indah. Alhasil, banyak yang penasaran dengan hubungan terlarang, merasa ada tantangan dan kenikmatan tersendiri kalau berhasil melakukan.
Kehidupan riskan perselingkuhan semacam ini merupakan buah dari diterapkannya sistem buatan manusia, yakni sekuler liberal. Paham tersebut mendorong manusia untuk menjalankan hidup sesuai hawa nafsu. Semaunya. Seenaknya. Diajak untuk abai pada tujuan penciptaan. Diajak melupakan adanya kehidupan sesudah kematian. Didorong lalai pada adanya hari pertanggungjawaban. Kehancuran keluarga pun tak lagi diperhitungkan. Lantas, anak tersayang pun jadi korban. Ini sungguh mengerikan.
Solusi menurut Islam.
Pernikahan merupakan bagian dari ibadah.Menyatukan laki-laki dan perempuan yang tidak mahram menjadi mahram.Pernikahan mencari ridho Allah SWT menuju jannah ( surga).
sabda Nabi Muhammad saw yang bersumber dari Sahabat Anas bin Malik ra.
إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفُ الدِّيْنِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي
Jika seseorang telah menikah, berarti ia telah menyempurnakan separuh agama. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya. (HR. Baihaqi)
Menikah berarti membentengi diri dari salah satunya yaitu zina dengan kemaluan.Itu berarti dengan menikah separuh agama seorang pemuda telah terjaga dan sisanya dia tinggal menjaga perutnya.
Di dalam sistem Islam mewujudkan keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah dapat bersama menuju jannah bukan hanya menjadi tanggung jawab suami istri saja. Akan tetapi diibutuhkan pula peran serta dari masyarakat dan negara. Dalam masalah perselingkuhan, masyarakat berperan mencegah segala bentuk yang dapat mengantarkan pada perselingkuhan, yaitu campur baur laki-laki dan perempuan, berdua-duan tanpa disertai mahrom, tabaruj bagi perempuan dan lain-lain. Ini artinya amar ma’ruf nahi munkar (menyampaikan kebenaran dan melarang kemunkaran) harus berjalan di tengah masyarakat.
Islam pun mewajibkan peran negara untuk ikut menjaga kuatnya ikatan pernikahan dengan berbagai hukum atau aturan yang diterapkan dalam berbagai aspek terkait. Aspek tersebut seperti sistem sosial, sistem pendidikan, sistem ekonomi, sistem sanksi, sistem informasi dan komunikasi dan lainnya. Negara pun akan memastikan masyarakat mendapatkan pen didikan berbasis aqidah Islam. Pendidikan ini akan membentuk individu yang memiliki kepribadian Islam yang kokoh. Pendidikan Islam akan memahamkan masyarakat tentang hak dan kewajiban suami istri, orang tua dan anak serta hubungan dengan keluarga lain yang berdasarkan syariat Islam.
Dengan demikian, untuk menuntaskan persoalan perselingkuhan di negeri ini dibutuhkan sinergi antara peran individu, masyarakat dan negara dalam mengikis secara tuntas permasalahan tersebut. Serta sistem kehidupan yang tidak memberi celah sedikitpun yang mengarah pada perbuatan perselingkuhan. Sistem tersebut adalah sistem Islam dalam bingkai Khilafah Islamiyah.
Persoalan perselingkuhan hanya salah satu dari sekian banyak masalah sosial kemasyarakatan dalam tatanan kehidupan kapitalisme. Melihat kondisi masyarakat saat ini sedemikian rupa sakitnya, tentu sudah saatnya menjadikan kehidupan ini diatur oleh sistem yang dibangun berasal dari wahyu sang pencipta. Sehingga permasalahan sosial kemasyarakatan dan persoalan lainnya dapat diselesaikan secara tuntas.
Wallahualam bishawab

No comments:
Post a Comment