Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Pentingnya Penjagaan Akidah Umat

Monday, July 10, 2023 | Monday, July 10, 2023 WIB

Oleh: Desy Purwanti
 (Aktivis Dakwah Kampus)

Beberapa waktu belakangan sampai saat ini, Pondok Pesantren Al-Zaytun ramai menjadi perbincangan warganet. Pasalnya, pesantren tersebut mengajarkan ajaran yang menyimpang. Salah satunya  ramai kasus shalat Ied yang safnya berjauhan dan ada perempuan di saf terdepan. Melihat kasus ini, Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali meminta aparat penegak hukum untuk segera menindaklanjuti.

Dikutip dari halaman republika.co.id, Ketua Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI) KH Athian Ali meminta aparat penegak hukum untuk segera menindak pondok pesantren Al Zaytun yang diduga mengajarkan ajaran menyimpang. Ia melihat keberadaan pesantren itu lahir dan ada dari kepentingan politik pada zaman orde baru.
"Gak ada alasan aparat membiarkan, kalau 21 tahun lalu sejauh kita ketahui itu (ada) kepentingan politik di masa orde baru masa mau terus dibiarkan," ungkap dia melalui sambungan telepon beberapa waktu lalu.
Ia menyoroti beberapa praktik ibadah di Al Zaytun yang viral beberapa waktu lalu seperti sholat bercampur antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, peristiwa dugaan pelecehan seksual terhadap santriwati di pondok pesantren Al Zaytun yang terjadi beberapa tahun ke belakang.
KH Athian Ali melihat tidak terdapat alasan lagi pemerintah dan aparat membiarkan pesantren Al Zaytun. Apalagi diduga banyak orang yang telah menjadi korban tersebut.

*Asas Kebebasan*

Munculnya ajaran Islam yang menyimpang bahkan sesat bukanlah pertama kali ini, melainkan sudah sangat sering. Hal ini menunjukkan gagalnya negara dalam menjaga akidah umat Islam. Maraknya kelompok sesat yang merusak akidah umat Islam tidak lepas dari penerapan sistem demokrasi yang menjunjung tinggi akan kebebasan. Kebebasan beragama pun tak dapat dipungkiri dengan dalih Hak Asasi Manusia (HAM) dan kebebasan berpendapat.

Negara dalam sistem demokrasi mengharuskan untuk memberikan wadah bagi aspirasi-aspirasi masyarakat. Tanpa memandang benar atau salah, asli atau palsu, pahala atau dosa, dan lain sebagainya. Dengan adanya kebebasan beragama pun, muncul agama-agama baru, nabi-nabi baru, dan ajaran-ajaran sesat yang dibuat manusia.

Dengan demikian, sistem demokrasi nyata gagal dalam menentukan hak dan bathil, karena HAM sendirilah yang mengaburkan standar benar-salah yang hakiki dari Sang Pencipta. Akhirnya semua agama dianggap benar, termasuk ajaran menyimpang yang disebut pluralisme. 

*Negara Wajib Menjaga Akidah*

Islam telah menggariskan adanya kebebasan bagi umat beragama lain menjalankan agamanya. Bahkan, Allah menegaskan tidak adanya paksaan dalam agama. Oleh sebab itu, Islam membebankan tanggung jawab kepada negara sebagai institusi penerap syariat untuk menjaga kebebasan dan toleransi beragama.

"Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS Al-Baqarah: 256) 

Di sisi lain, Islam mewajibkan negara untuk melindungi akidah umat dari perusakan akidah dan agama. Tersebab itulah, tidak ada toleransi bagi kaum munafik dan perusak agama. Termasuk ajaran-ajaran menyimpang Al-Zaytun tidak akan diberikan celah sedikit pun.


Kewajiban negara untuk menjaga akidah dan agama umat, dapat kita pahami dari penyampaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, “Sesungguhnya imam itu laksana perisai, tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya.” (HR Muslim)


Hal ini termasuk berlindung dari perusakan akidah dan agama. Rasulullah juga bersabda, “Imam adalah pengurus dan ia akan diminta pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.” (HR Muslim dan Ahmad)

Masa kehidupan seorang muslim semestinya menjadi momentum emas untuk melakukan amar ma'ruf nahi munkar sebagai bekal kelak di kehidupan yang abadi. Tidak ada tujuan hidup selain menggapai ridha Allah. 

Allah Ta'ala berfirman: 
"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A'raf: 96)

Wallahu a'lam

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update