Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Stunting Makin Genting Perlu Upaya Solutif

Monday, July 10, 2023 | Monday, July 10, 2023 WIB

Oleh : Iin Karlina 

Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. 

Pihak Kementrian Kesehatan menegaskan bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik, anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk. Stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius.

Menurut menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) Suharso Monoarfa, dirinya mengendus adanya kebohongan pemerintah daerah (pemda) dalam menghitung kasus stunting akibat adanya kekeliruan perhitungan kasus stunting pada anak diatas usia 5 tahun(detik.com 7/3/2023) 

Tentu saja hal ini semakin menambah carut marutnya data kesehatan anak terutama stunting yang sebenarnya kasusnya tinggi namun tidak terhitung. Menurut Suharso bahwa prevalensi stunting di Indonesia hingga akhir tahun 2022 mencapai 21,6 persen. Angka ini tentu saja tinggi karena Berdasarkan data WHO, suatu negara dikatakan mengalami masalah stunting bila jumlah kasusnya berada di atas 20%.

Padahal upaya pemerintah dalam mengatasi lonjakan stunting ini sangatlah besar,  Menurut Bendahara Negara anggaran penanganan stunting mencapai Rp 77 triliun, dari anggaran tersebut hanya Rp 34 triliun yang betul-betul sampai ke mulut bayi dan ibu hamil, sedangkan Rp 240 miliar dialokasikan untuk sub kegiatan koordinasi (detik.com 7/4/2023)

Stunting masih menjadi PR besar negeri ini, apalagi  kemiskinan tinggi menurut data BPS ada sekitar 9,57% penduduk miskin pada September 2022, kemiskinan ekstrim juga tinggi sekitar 2,04% pada Maret 2022. Anggaran ada, namun ternyata tidak tepat sasaran.  Wajar jika stunting sulit diatasi.  

Problem kemiskinan ini sebenarnya berawal dari penerapan sistem ekonomi kapitalisme, karena dalam kapitalisme siapapun yang memiliki uang atau modal maka ia akan mendapatkan sesuatu dengan cara apapun. Hasilnya yang kaya makin kaya dan yang miskin makin merana sehingga muncul kesenjangan sosial. 

Apalagi diperparah dengan lesunya  ekonomi saat ini sehingga para pengusaha lebih mengutamakan menyelamatkan asetnya daripada nasib buruhnya sehingga meningkatkan gelombang phk besar-besaran yang  semakin menambah jumlah pengangguran. 
Belum lagi susahnya mencari pekerjaan, kalaupun ada pendapatan tak mampu mencukupi semua kebutuhan, diperparah 
lagi harga bahan pangan yang semakin melonjak. 

Tentu saja kondisi ini semakin menambah tingginya kasus stunting karena kurang mampunya keluarga dalam memenuhi gizi keluarga akibat kemiskinan sehingga tidak mampu membeli makanan yang bergizi. Stunting tidak boleh disepelekan karena penyakit ini jika tidak sembuh saat kecilnya maka akan berpengaruh tidak hanya pada fisiknya saja tetapi saat dewasa tubuh mereka akan rentan terkena penyakit juga kecerdasan mereka terganggu. 

Namun hal ini berbeda jauh, dalam islam pemimpin wajib bertanggung jawab mengurusi kebutuhan rakyatnya dan harus memastikan kebutuhan dasar rakyatnya yang meliputi sandang, pangan,  papan, kesehatan, Pendidikan, keamanan terpenuhi. Melalui sistem ekonomi islam negara akan mendistribusikan kekayaan alam secara merata ke seluruh pelosok negeri. Sehingga tidak akan terjadi kemiskinan atau ketimpangan sosial seperti saat ini. pusat pelayanan kesehatan akan memberikan konsultasi gizi dan penyuluhan gratis. Negara juga akan membangun pos-pos makanan untuk mengolah makanan lokal menjadi makanan yang memiliki kandungan gizi, ataupun memberikan bantuan seperti susu, telur, minyak, dan lain sebagainya.

Sepanjang peradaban Islam tegak selama kurang lebih 13 abad lamanya, maka pengentasan kemiskinan bisa dilakukan. Dimulai dari masa Khulafaur Rasyidin sepeninggal Nabi hingga para khalifah setelahnya. Salah satu potret keberhasilan sistem Khilafah dalam memberantas kemiskinan adalah pada masa Khalifah Harun Al-Rasyid dari bani Abbasyiah. Pada masa beliau sangat sulit didapatkan warga miskin karena tingkat kemakmuran penduduknya merata.

Maka perlu upaya solutif agar kasus stunting ini bisa segera diatasi yaitu kembali menerapkan aturan islam yang berasal dari wahyu Allah. karena islam bukan hanya agama yang mengatur ibadah ritual saja namun juga ideologi yang mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk mengatur kemiskinan yang sekaligus akan mengatasi masalah stunting. 

wallahu a’lam bish-shawab

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update