"Beri aku 10 pemuda niscaya akan aku guncangkan dunia"_ , pesan Bung Karno sangat dalam perihal pemuda dan kontribusi mereka mengubah wajah dunia, namun sangat disayangkan kondisi pemuda generasi hari ini sangatlah memprihatinkan, banyak problem yang menyelimuti meraka mulai dari pergaulan bebas, sex, aborsi, tawuran, degradasi moral dan lain-lain.
Hal ini terbukti dengan berbagai macam kasus yang kita jumpai di dalam negeri misal kasus siffilis yang kian hari jumlahnya makin meningkat. Kota Bandung sebagai pemecah rekor tertinggi terjangkitnya sifilis, berdasarkan data pada tahun 2020 ada11.430 orang yang diperiksa, di temukan 300 yang positif, kemudian pada 2021 ada sebanyak 12.22 yang diperiksa dan ditemukan 332 yang positif siffilis, lalu pada 2022 pemeriksaan dilakukan meningkat menjadi 30.311 orang,dan ditemukan 881 orang positif siffilis. Kepala dinas kesehatan kota Bandung Anhar Hadian mengatakan kasus siffilis dibandung kian meningkat seiring peningkatan pemeriksaan yang dilakukan sejumlah fasilitas kesehatan
(ccn.indonesia) Yang lebih mengerikan adalah kasus siffilis DIY melonjak, didominasi pasangan sek sesama pria (kumparan.com)
Dari fakta diatas tingginya kasus siffilis dan penyakit menular seksual lainnya menunjukan buruknya pergaulan bebas saat ini. Hal ini disebabkan oleh faktor tontonan di sosial media, pergaulan yang tidak memiliki batasan, kurangnya kontrol keluarga, dan ketiadaan penjagaan negara. Tapi anehnya Negara selalu melihat generasi sebagai alat untuk meraih keuntungan materi, potensi mereka dibajak menjadi pekerja/ buruh dibidang industri namun tidak pernah mementingkan nasib dan masa depan generasi. Negara juga tidak pernah menunjukan keseriusan nya dalam menangani peliknya problem generasi saat ini, tak ada sanksi yang menjerakan bagi para pelaku atau bahkan memberikan pemahaman yang utuh kepada generasi pentingnya menjaga moral dan berperannya mereka sebagai tonggak perubahan.
Indonesia dengan bonus demografi yang dimiliki seharusnya menjadi bekal besar untuk mampu mengubah wajah dunia, tapi hal itu jusrtu di jadikan oleh para elit pemerintahan sebagai ajang pembajakan potensi generasi untuk meraup materi.
Padahal bicara pemuda hal yang melekat didalam diri mereka adalah semangat juang yang tinggi, ingin mencari dan mencoba sesuatu yang baru, sedang mencari jati diri, kritis dalam menanggapi setiap permasalahan. Semua elemen harus berperan aktif untuk memberi solusi dan mengatasi problematika diatas namun yang memiliki tugas penting adalah Negara seharusnya berperan meriayah para generasi mulai dari menemukan jati diri semisal untuk apa mereka hidup agar mereka memahami konsekuensi kehidupan sehingga para pemuda tak lagi menghabiskan waktu mereka dengan ke sia-siaan, mereka sibuk memperkaya diri dengan ilmu dan tsaqofah bahkan mereka siap menjadi pelita ummat yang mampu mendobrak setiap tindak ke dzoliman penguasa terhadap rakyatnya. Dan hari ini problem negeri begitu pelik tak hanya menyasar generasi tapi juga berdampak kepada rakyat secara keseluruhan. Kenaikan BBM yang sering dikeluhkan masyarakat, korupsi uang negara, ketidak adilan dalam negeri, sulitnya mencari kerja, biaya pendidikan dan kesehatan yang tinggi yang katanya orang miskin dilarang sakit. Masyarakat juga tidak bisa menyampaikan aspirasi mereka kepada para generasi karena merekapun sudah rusak bahkan tidak sedikit yang membuat keonaran ditengah masyarakat, mereka menjadi benalu masyarakat.
Sejenak flashback ke sejarah kegemilangan, yang tak pernah lekang oleh zaman bahkan kejayaannya diakui oleh dunia,tak terkecuali barat mereka mengakui kegemilangan besar itu ada pada sejarah Islam yang memberikan sumbangsih terbesar pada dunia bahkan sampai detik ini. Terbaru pengusaha _Elon musk_ yang mengisahkan bagaimana peradaban yang agung itu tertata rapi tanpa celah dan cacat bahkan menghasilkan rakyat yang makmur. Bukan dongeng, akan tetapi dari segi empiris historis jelaslah bahwa kegemilangan itu benar adanya. 14 abad lamanya 2/3 dunia di kuasi para ilmuan cendikiawan muslim lahir pada masa itu seperti Al Khawarizmi, Ibnu Sina, Maryam Al Asturlabi, Fatimah Al Fihri yang sampai detik ini kita bisa merasakan karya-karya mereka. Bahkan mereka adalah para pemuda-pemuda yang memberikan potensi mereka untuk ummat.
Dalam sistem Islam atau Khilafah tak ada kasus pemuda rusak karena pergaulan bebas, apalagi sampai galau tidak punya pacar, gantung diri karena putus asmara, atau kriminalitas seperti sepasang kekasih mesum lalu membunuh kekasihnya. Justru Islam telah hadir sebagai prolem solving dan sebagi petunjuk aturan untuk semua tatan. Semisal pergaulan Islam telah menentukan tata pergaulan yang sehat dan sesuai syariat semua ada aturan Allah, bukan justu membuat aturan undang-undang dengan membatasi usia perkawinan, atau dengan pencegahan perkawinan dini tapi akar masalahnya adalah tidak adanya aturan yang mampu untuk menuntaskan pergaulan bebas yang berakibat merabak penyakit siffilis,
Islam menjadikan negara wajib mewujudkan tata pergaulan ini dan semua hal yang dibutuhkan untuk menjaga ke selamatan masyarakat.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ
Artinya: Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. Ar-Rum: ayat 41)
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰىٓ اِنَّهٗ كَانَ فَاحِشَةً ۗوَسَاۤءَ سَبِيْلًا
Dan janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. (QS. Al Isro: ayat 32)
أَفَحُكْمَ ٱلْجَٰهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ ٱللَّهِ حُكْمًا لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Artinya: Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?
(Al maidah: ayat 51)
Wallahu 'alam.

No comments:
Post a Comment