Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Waspadai Pluralisme Akhir Tahun

Wednesday, January 04, 2023 | Wednesday, January 04, 2023 WIB Last Updated 2023-01-03T23:35:04Z





Oleh Tri Rahayu, S.TP

Fenomena pluralisme terasa sangat kental di seluruh wilayah Indonesia menjelang perayaan natal dan tahun baru. Ketika masuk bulan Desember tempat publik akan ramai dengan pernak-pernik Natal dan tahun baru.

Sebagaimana yang dikutip dari Suarapubliknews (17/12/2022), pesona wajah Kota Surabaya menjelang perayaan Hari Natal 25 Desember 2022 tampil berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya berkomitmen menjaga semangat toleransi dan keharmonisan untuk menghormati umat beragama, dengan memasang berbagai ornamen dan hiasan Natal di beberapa tempat.

Walikota Surabaya Eri Cahyadi mengatakan bahwa Kota Pahlawan merupakan kota toleransi dengan peringkat keenam di Indonesia dan peringkat pertama di Jawa Timur. Apalagi, masyarakat yang tinggal di Kota Surabaya berasal dari berbagai suku, ras, dan agama yang hidup saling berdampingan.

Walikota ingin menunjukkan bahwa bukan suku Jawa saja, ada NTT, Maluku, Minang dan lain-lain. Serta, agama berbeda-beda tinggal di Surabaya. Ketika eringatan Natal, menggunakan ornamen Natal, waktu (perayaan agama) Budha diubah, nanti waktu Hindu juga. Wayahe (waktunya) Islam gaeno (dibuatkan). Ia mengatakan, hidup kita ini beragam, jadi saling melengkapi, ini yang ingin dibentuk.

Secara tidak langsung ucapan dan tindakan Walikota Surabaya Eri Cahyadi ini menunjukkan suatu bentuk toleransi yang kebablasan yang memang menjadi 'senjata andalan’ moderasi beragama untuk menyebarkan pemikirannya, dengan tujuan agar ide mereka ini mudah diterima umat Islam, seolah-olah sesuai dengan Islam. Padahal konsep moderasi beragama sangat bertentangan dengan Islam, hal ini tampak jelas dari ide dasarnya, yang menyatakan bahwa semua agama benar dan semua agama sama.

Setiap akhir tahun, umat Islam selalu dihadapkan pada perdebatan tentang perayaan Natal dan tahun baru, mulai dari mengucapkan selamat natal, memakai atributnya, hingga menghadiri perayaan atau ritual perayaannya. Hal ini pun berulang di tahun ini, terlebih lagi propaganda moderasi beragama semakin masif digaungkan dengan dalih toleransi beragama dan menghormati agama lain. Upaya pengaburan ajaran Islam tentang hal ini semakin nampak nyata.

Permasalahan ini sesungguhnya sudah sering dibahas dan terus berkembang dengan berbagai bentuk yang kadang tidak sama. Banyak ustadz ataupun ulama telah memberikan penjelasan secara tegas, bahwa merayakan Natal, memakai atribut Natal ataupun agama lain, dan mengucapkan selamat Natal tidak diperbolehkan dalam Islam. MUI pun sudah memfatwakan, hanya saja, seiring dengan makin massifnya propaganda moderasi beragama ke tengah-tengah umat, maka opini toleransi ini semakin menguat. 

Negara seharusnya berperan sebagai pelindung akidah umat.  Namun faktanya negara justru mengaruskan jalan untuk menguatkan pluralisme dan moderasi. Sangat berbeda dengan aturan Islam yang dulu pernah diterapkan di masa Rasulullah saw.

Sesungguhnya Islam adalah agama yang menghargai masyarakat yang plural, yang memiliki keberagaman suku, agama, dan bahasa. Keberagaman ini dalam pandangan Islam merupakan suatu keniscayaan. Daulah Islam yang dipimpin oleh Rasulullah saw. sebagai representasi penerapan hukum Islam justru dengan indah menghargai dan melindungi keberagaman ini, selama menaati aturan daulah islamiyah.

Orang kafir yang hidup di negara Islam dan tunduk pada kekuasaan Islam, dalam batas-batas tertentu, diperlakukan sebagaimana kaum Muslim. Hak dan kewajiban mereka sebagai warga negara daulah Islam sama dengan kaum Muslim. Harta dan jiwa mereka dilindungi. Adapun terhadap kafir harbi maka hubungan dengan mereka adalah hubungan perang. Seorang Muslim dilarang berinteraksi dalam bentuk apa pun dengan kafir harbi fi’lan.

Islam telah mengajarkan dan memperagakan toleransi dengan begitu indah sejak masa Rasulullah saw. Islam sudah mempraktikannya dengan baik sejak 15 abad lalu. Hingga nonmuslim justru hidup sejahtera di bawah naungan Islam, dan berbondong-bondong masuk dalam agama Islam atau meminta hidup dalam perlindungan kekuasaan Islam. Islam telah memberikan tuntunan bagaimana menghargai dan menghormati pemeluk agama lain. Tidak memaksa nonmuslim untuk masuk Islam.

Sejak berdirinya pemerintahan Islam di Madinah, Islam mempersaudarakan berbagai suku bangsa (kabilah-kabilah) dan bangsa. Berbagai suku bangsa yang pada awalnya bertentangan, bahkan bermusuhan, dipersaudarakan oleh kalimat laa ilaaha illallaah. Banyak suku yang dipersaudarakan, termasuk suku Aus dan Khazraj. Demikian pula Makkah dan Madinah yang memiliki karakteristik yang berbeda dalam hal budaya, adat istiadat serta kebiasaan-kebiasaan dipadukan, sehingga membentuk sebuah masyarakat baru yang khas, masyarakat Islam. Sebuah masyarakat yang dibangun di atas akidah Islam, yang pada gilirannya dijadikan sebagai solusi berbagai problematika hidup yang dihadapi. 

Dengan kata lain, peleburan suku-suku bangsa, bahkan bangsa-bangsa yang dilakukan oleh Rasulullah saw. dan para sahabat itu menghasilkan suatu mayarakat yang khas, yang terdiri atas kumpulan individu yang memiliki pemikiran, perasaan, dan aturan serta tujuan yang sama.

Dalam aktivitas dengan nonmuslim, Rasul saw. pernah menjenguk seorang Yahudi yang sedang sakit, melakukan transaksi jual-beli, menghargai tetangga nonmuslim, dan sebagainya. Daulah islamiyah pertama di Madinah yang Rasul saw. kala itu menjadi kepala negaranya juga menunjukkan kecemerlangannya dalam mengelola kemajemukan. Umat Islam, Nasrani, dan Yahudi hidup berdampingan satu sama lain. Meski mereka hidup dalam naungan pemerintahan Islam, masyarakat nonmuslim mendapatkan hak-hak yang sama sebagai warga negara, memperoleh jaminan keamanan, juga bebas melakukan peribadatan sesuai dengan keyakinannya masing-masing.

 
Wallahu a'lam bishawwab 


No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update