Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Toleransi Yang Kebablasan Merusak Akidah Umat Muslim

Thursday, December 29, 2022 | Thursday, December 29, 2022 WIB Last Updated 2022-12-29T03:26:58Z

Oleh : Sri Kuntari (Muslimah Peduli Umat)

Bulan Desember merupakan bulan spesial bagi mereka yang beragama Nasrani, di mana pada bulan itu merupakan hari besar mereka menyambut perayaan Natal, akan tetapi para pemuda dari gereja protestan di Maluku menampilkan kolaborasi musik Natal bersama pemuda muslim dengan iringan terompet dan rebana. Pemuda gereja protestan di Maluku menyelenggarakan Christmas Carol bertemakan "Badendang Deng Menyanyi Sambut Tete Manis". Dengan menampilkan kolaborasi musik bersama pemuda muslim, serta sejumlah komunitas musik lainnya yang ada Kota Ambon, Maluku.

Menghargai secara baik dengan penganut agama lain, atau istilahnya kerukunan antar umat beragama tentu saja diizinkan dalam Agama Islam. Islam melarang untuk tidak mengganggu hak-hak kaum kafir. Akan tetapi tidak kebablasan dalam bertoleransi beragama. Bukan hanya ucapan Selamat Hari Natal, pada bulan Desember juga ada permasalahan lain yang sering berulang. Seperti, seorang muslim memakai atribut Natal karena “dipaksa” oleh perusahaan tempat ia bekerja dan menghadiri perayaan Natal. Hal itu tentu bukanlah sesuatu yang lumrah, karena penggunaan atribut agama lain bagi umat Islam merupakan suatu keharaman, baik karena adanya paksaan ataupun sukarela. Begitupun dengan mengucapkan dan ikut andil dalam perayaannya juga haram. Jika umat Islam abai terhadap keharaman tersebut, maka akidah keIslamannya yang menjadi taruhan. Sebagian mereka (orang Islam) ada yang berpendapat nyeleneh sebagaimana pendapatnya orang-orang kafir, dengan dalih toleransi. Apakah ini yang namanya toleransi? Bukan toleransi namanya jika akidah tergadaikan.

Karena toleransi yang benar adalah untukmu agamamu dan untukku agamaku. Bukan berarti menceburkan diri ke dalam ritual agama lain atas nama menghormati persahabatan, perbedaan, dan alasan lain yang dibuat-buat. Bentuk toleransi bisa juga membiarkan mereka berhari raya tanpa turut serta dalam acara mereka, termasuk tidak perlu ada ucapan selamat dan ikut merayakannya.  Ibn Taimiyah dalam kitab Majmu’ al-Fatawa berkata, “Keserupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang tasyabbuh dengan orang kafir” (Majmu’ Al Fatawa, 22: 154).

Penerapan sistem sekuler di negeri ini telah berhasil menggerus perlahan-lahan akidah umat Islam dengan cara yang teramat halus. Seorang muslim hendaknya berIslam secara kaffah, memurnikan akidah hingga layak dikatakan sebagai muslim sejati, bukan sekedar Islam KTP. Perkara yang remeh temeh bisa menjadi perkara besar jika tidak mengetahuinya. Meskipun ucapan selamat hanyalah sebuah ucapan ringan, namun menjadi masalah berat dalam akidah. Terlebih jika ada di antara kaum muslimin yang membantu atau ikut dalam perayaan Natal.

Allah berfirman dalam surah al-Maidah ayat 2, : “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah; 2)

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update