Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

PERNIKAHAN MEWAH DI TENGAH PENDERITAAN HIDUP RAKYAT

Wednesday, December 14, 2022 | Wednesday, December 14, 2022 WIB Last Updated 2022-12-14T09:24:27Z

Oleh Ratna Sari Dewi

Ditengah kemalangan yang tertimpa sebagian masyarakat Indonesia, pejabat tertinggi di negeri ini melangsungkan perayaan pernikahan yang cukup mewah.

Pernikahan mewah ditengah penderitaan rakyat (korban gempa, stunting tinggi, PHK di mana-mana ) rasanya tidak sepatutnya terjadi, apalagi ketika melibatkan berbagai fasilitas negara untuk alasan keamanan. 

Dikutip dari nasional.okezone.com Sabtu 10 Desember 2022 05:08 WIB  4 Fakta Pengamanan Pernikahan Kaesang-Erina, Ribuan Personel TNI dan Polri Diterjunkan. 

1. Ribuan Personel Dikerahkan

Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Pangkogabwilhan) II/Marsdya TNI Andyawan Martono, bersama Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Widi Prasetijono dan Kapolda Jawa Tengah Irjen Ahmad Luthfi, melakukan cek kesiapan pernikahan.

Peningkatan pengamanan dilakukan dengan menerjunkan sekitar 10.800 personel gabungan TNI-Polri yang tersebar di Kota Solo dan Yogyakarta, dalam pengamanan pernikahan putra bungsu Presiden Jokowi.

2. Anjing K-9 Dilibatkan

Polda Jateng mengerahkan 11 ekor anjing ras jenis belgian malitnoise dan golden retriever dalam dalam pengamanan tasyakuran pernikahan Kaesang - Erina di Solo. Hewan-hewan ini dikerahkan untuk melaksanakan tugas sterilisasi dan deteksi bahan peledak selama prosesi tasyakuran berlangsung.

3. Ratusan CCTV

Polda Jateng juga akan memaksimalkan penggunaan kamera CCTV di Kota Solo dan sekitarnya untuk membantu pengamanan resepsi pernikahan putra Presiden Joko Widodo (Jokowi) Kaesang Pangarep akhir pekan ini.

4. Panglima TNI Pantau Pengamanan

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa meninjau persiapan pengamanan untuk acara resepsi ngunduh mantu pernikahan putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep dengan Erina Gudono, di Loji Gandrung, Solo, Jawa Tengah, Kamis 8 Desember 2022.

Resepsi pernikahan Kaesang Pangarep dan Erina Gudono akan diselenggarakan di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, Minggu (11/12/2022)

Selain itu sejumlah menteri kabinet Indonesia maju ikut membantu pernikahan tersebut. Hal ini kemudian dikritik oleh Ketua DPP Partai Keadilan Sejahtera atau PKS, Mardani Ali Sera mengatakan sebagai menteri tak jadi soal ketika membantu presiden.

"Bantuin bos boleh saja," kata Mardani saat dihubungi Tribunnews.com, Selasa (6/12/2022).

Namun, Mardani menegaskan akan menjadi pertanyaan publik bila waktu dan perhatian para menteri terfokus ke acara tersebut.

Tapi jadi pertanyaan publik jika alokasi waktu dan perhatiannya nampak kebanyakan. Jadi kayak kerajaan," ujarnya. Dilansir dari m.tribunnews.com Selasa, 6 Desember 2022 15:35 WIB

Hal senada juga di ungkapkan oleh warga net yang mengaku wartawan. Warga net tersebut sengaja tidak meliput acara pernikahan mewah tersebut.
 
Suara.com - Kaesang Pangarep rupanya masih sibuk bermain Twitter di tengah banyaknya prosesi jelang pernikahannya dengan Erina Gudono. Pada hari ini saja, Jumat (9/12/2022), Kaesang masih sempat-sempatnya membalas berbagai cuitan warganet saat dirinya harus menjalani prosesi siraman hingga midodareni.

Salah satu cuitan yang dibalas Kaesang adalah milik seorang warganet yang mengaku sebagai wartawan. Wartawan itu dengan pedas menyatakan ogah meliput pernikahan anak Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

Alasannya, keluarga Jokowi dinilai tidak memiliki empati kepada rakyat yang sedang susah.

Pernikahan mewah di tengah penderitaan rakyat dari korban gempa, korban PHK, kasus stunting yang cukup tinggi dan pelelangan sejumlah pulau salah satunya pulau Widi sepatutnya tidak terjadi. Penguasa seharusnya memiliki kepekaan dan empati yang tinggi terhadap penderita rakyat.

Namun dalam sistem kepemimpinan demokrasi kapitalisme, sifat tersebut cendrung terkikis habis. Sekulerisme yang menjadi asas sistem demokrasi dengan memisahkan agama dari kehidupan berprinsip bahwa dalam aktivitas dan tanggung jawab kepemimpinan di pisah dari aturan agama. 

Padahal agama berfungsi untuk membentuk, menumbuhkan dan menjaga sifat-sifat baik dalam sosok pemimpin umat. Jika agama justru di jauhkan dari kepemimpinan negara maka lahirlah pemimpin yang tidak merasa sungkan atau merasa bersalah saat memanfaatkan fasilitas negara untuk kepentingan pribadi.

Demokrasi juga dipastikan membetuk pemimpin transaksional antara penguasa dengan para kapitalis yang membiayai perjalanan menuju kursi kekuasaan, konsekuensinya walaupun diterapkan aturan yang alasan untuk kepentingan rakyat dapat dipastikan akan ada saja ditemukan porsi keuntungan untuk para kapitalis yang jauh dari porsi kesejahteraan rakyat dan belas kasih terhadap rakyat.

Suatu yang wajar jika keberadaan penguasa ditengah rakyat seolah menjadi pencitraan belaka.

Realita tersebut sangat berbeda dengan sistem kepemimpinan Islam yang disebut Khilafah. Dalam Khilafah akidah Islam dasar kepemimpinan, karenanya akan terwujud pemimpin yang memiliki rasa takut dalam melalaikan segala tanggung jawab dalam memimpin rakyat. Sebab meraka menyadari bahwa kepemimpinan mereka akan berimplikasi dalam kehidupan mereka di akhirat. 

Rasulullah Saw bersabda, 


Barang siapa yang taat kepadaku berarti dia telah taat kepada Allah dan barang siapa yang bermaksiat kepadaku berarti dia telah bermaksiat kepada Allah. Dan barang siapa yang taat kepada pemimpin berarti dia telah taat kepadaku dan barang siapa yang bermaksiat kepada pemimpin berarti dia telah bermaksiat kepadaku. Dan sesungguhnya imam (pemimpin) adalah laksana benteng, dimana orang-orang akan berperang mengikutinya dan berlindung dengannya. Maka jika dia memerintah dengan berlandaskan taqwa kepada Allah dan keadilan, maka dia akan mendapatkan pahala. Namun jika dia berkata sebaliknya maka dia akan menanggung dosa”.

(H.R. Bukhori) Shahih Al-Bukhari No. 2737

Dalam Khilafah syariat Islam sebagai panduan dalam menjalankan seluruh aktivitas dan tanggung jawab kepemimpinan. Syariat Islam menetapkan bahwa penguasa haruslah menjadi ra'in  (pengurus dan pemelihara) serta menjadi junnah ( pelindung) bagi rakyatnya.

Kesadaran terhadap syariat dan akidah Islam ini akan menghasilkan sifat wara' dalam mengunakan fasilitas negara. Penguasa hanya akan mengunakannya untuk kepentingan pengurusan rakyat dan tidak akan memanfaatkan untuk pribadinya walaupun hanya sedikit. 

Salah satu teladan penguasa seperti ini dalam sistem Islam ialah Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Diriwayatkan bahwa ketika beliau memimpin dan menyelesaikan urusan pekerjaan sampai larut malam, datanglah putranya meminta izin untuk menyampaikan sesuatu, lalu beliau bertanya ini urusan umat atau urusan pribadi. Putranya menjawab kedatangannya untuk urusan keluarga dan pribadi. Mendengar perkataan putranya kemudian Khalifah Umar bin Abdul Aziz langsung meniup lampu penerang di atas meja sehingga ruangan menjadi gelap gulita. 

Tindakan beliau ini membuat putranya heran dan menanyakan mengapa ayahnya melakukan itu, sany Khalifah pun menjawab " wahai anakku lampu itu ayah pakai untuk bekerja sebagai pejabat negara, minyak untuk menyalakan lampu itu dibeli dengan uang negara, sedangkan engkau datang kesini untuk membicara urusan pribadi"
Lalu sang Khalifah mengambil dan menyalakan lampu pribadinya yang minyaknya di beli dari uangnya pribadi.

Meski dalam kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam riwayat diatas hanya mengunakan Lampung penerang namun beliau tidak mau mengunakannya untuk urusan pribadi. 

Dengan sifat dan perilaku penguasa yang wara' tak heran Islam berkuasa selama 13 abad lamanya, rakyat mendapatkan perhatian dan pelayanan dari Khilafah yang sangat luar biasa. Kondisi ini tidak bisa di wujudkan oleh sistem demokrasi sekuler. Sudah saatnya umat Islam bangkit dan berjuang untuk memperjuangkan kembali tegaknya daulah Khilafah Islam dengan syariat Islam kaffah.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update