Oleh: Dian Wisdiyanti (Ibu Rumah Tangga)
Kementerian
Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) menggelar
pameran bertema The Truth Inside You: Alunan Kisah Tentang Perempuan. Tema yang
diangkat dalam pameran menampilkan kondisi dan peran perempuan dalam
keseharian. Ada dua tema besar yang diangkat yaitu 'This is Me' dan 'I can Be'.
Kedua tema itu membawa pesan penting tentang jati diri, citra, dan peranan
perempuan dalam kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, dan bernegara.
Selain
tema utama, ditetapkan sub-sub tema untuk mendukung tema utama tersebut, yang
semuanya mengarah pada pemberdayaan ekonomi.
Hal
ini menyiratkan bahwa perempuan dianggap sebagai tulang punggung (back bone)
dari perekonomian Indonesia. Pakar ekonomi UGM menyebut data bahwa perempuan
mengelola 60 persen dari UMKM yang ada di negeri ini. UMKM ini berkontribusi
besar bagi Product Domestic Bruto (PDB) mencapai 60,5 persen dan menjadi sektor
utama penyerapan tenaga kerja (voaindonesia.com, 17/12/2022).
Jika
demikian, benarkah peringatan Hari Ibu ke 94 ini bisa dipandang sebagai ajang
untuk kembali memperjuangkan hak-hak perempuan dalam hal ini kaum ibu?
Dalam
beberapa dekade terakhir, perempuan selalu diminta agar dapat berjuang bagi
keluarga, masyarakat, bahkan negara. Perempuan dituntut berdikari secara
ekonomi dan tidak bergantung kepada nafkah suami. Inilah yang disebut dengan
pemberdayaan perempuan oleh Barat. Bahkan, gerakan feminis yang asal munculnya
dari barat berjuang untuk melepaskan perempuan dari kehidupan rumah tangga dan
mandiri dari laki-laki. Mereka mendorong perempuan berkarir untuk mengejar
ekonomi dan meninggalkan tugasnya di rumah.
Ini
adalah pengaruh dari kapitalisme yang menjadikan tolok ukur keberhasilan dari sudut
pandang materi. Pihak yang produktif adalah yang berkuasa. Yang tidak dapat
menghasilkan materi dianggap rendah. Oleh karenanya, ibu rumah tangga dipandang
sebagai pekerjaan rendah dan sebelah mata. Istilah pemberdayaan perempuan dilontarkan
untuk mendorong perempuan agar keluar rumah dan mengejar materi, meninggalkan
amanah utamanya sebagai istri dan pendidik generasi.
Saat ini, perempuan dituntut terjun ke dunia kerja dan
bisnis. Mereka didorong untuk berkontribusi dalam kegiatan ekonomi agar dapat
meningkatkan pertumbuhan sistem kapitalisme, dengan paradigmanya yang
menganggap hidup adalah untuk memperoleh materi sebanyak-banyaknya, tentu tidak
akan melepaskan peluang ekonomi apa pun. Termasuk, peluang ekonomi yang akan
diperoleh ketika perempuan terjun dalam ekonomi.
Sejatinya, keterlibatan perempuan dalam
dunia kerja tak lain merupakan eksploitasi terhadap perempuan. Perempuan
dipaksa keluar rumah untuk dijadikan objek penghasil kekayaan. Fitrahnya
dicabut, merampas waktu perempuan untuk menjadi istri dan ibu bagi
anak-anaknya. Tak sedikit yang akhirnya stres karena harus memikul beban ganda
sebagai pekerja sekaligus ibu.
Dalam
Islam, perempuan telah diberi peran utama dan mulia, yaitu sebagai ibu dan
pengelola rumah tangga. Pemberdayaan perempuan yang sebenarnya tentu harus
disesuaikan dengan tujuan penciptaan manusia, yaitu mengabdi kepada Allah
Subhanahu Wa Ta’ala. Untuk dapat menjalankan perannya sebagai pendidik generasi
cemerlang, tentu butuh sebuah sistem yang mendukungnya. Khilafah terbukti mampu
menjadi mercusuar dunia selama kurang lebih 13 abad. Di dalamnya, ibu begitu
dimuliakan.
Hanya
Islam-lah yang dapat memuliakan perempuan sesuai fitrahnya. Perempuan tidak
akan dibebani tugas ganda sebagai ibu sekaligus pekerja seperti hari ini. Untuk
itu, perlu adanya upaya kita bersama agar peradaban agung tersebut kembali,
dengan mengkaji Islam secara kaffah dan mendakwahkannya ke tengah-tengah
masyarakat.
Sejarahwan
Inggris, Julia Pardoe menuliskan tentang status ibu pada masa Khilafah Utsmani,
pada 1836. Dia mengatakan, ibu selalu dihormati dan dihargai. Ibu adalah tempat
berkonsultasi dan mengungkapkan isi hati, dimuliakan hingga akhir hayatnya,
diingat dengan penuh kasih sayang, dan penyesalan setelah pemakamannya.
No comments:
Post a Comment