Oleh : Helmi Agnya
Dunia sedang di ambang krisis, perang Rusia-Ukraina yang berkepanjangan memperburuk keadaan ekonomi dunia dan menyebabkan potensi terjadinya resesi makin besar. Tidak hanya di Rusia-Ukraina, konflik sebenarnya terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satu penyebab konflik adalah sentimen antar kelompok agama. Kondisi inilah yang membuat para pemimpin agama dunia mengadakan pertemuan di Yogyakarta pada Jumat (4/11) dan mengadakan diskusi dengan tema Komunike R20: Upaya Pastikan Agama Berfungsi Sebagai Sumber Solusi Global.
Dalam pertemuan ini, mereka mengupayakan agar agama muncul sebagai solusi global demi kehidupan yang harmonis pada semua warga negara di seluruh dunia. Namun, seruan menjadikan agama sebagai solusi bertentangan dengan realita yang ada.
Nyatanya umat Islam yang menyerukan syariat Islam dan memperjuangkan untuk tegaknya kembali khilafah yang merupakan ajaran agamanya, kerap dituduh sebagai teroris dan dianggap radikal. Mereka selalu mempropagandakan kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap kelompok seperti itu.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) RI Komjen Pol Boy Rafli Amar di sela-sela acara parade budaya nusantara Jakarta pada Minggu (6/11/2022), mengatakan bahwa virus terorisme dan radikalisme bisa masuk ke mana saja, tanpa memandang status dan profesi orang. Virus terorisme dan radikalisme tidak mengenal status sosial. (Merdeka.com, 06/11/2022).
Seruan ini juga menunjukkan bahwa agama hanya dipahami sebagai aturan ibadah semata dan bukan sebagai ideologi. Karena, di sisi lain mereka menunjukkan serangan terhadap Islam sebagai ideologi. Padahal dunia tidak akan pernah keluar dari krisis, ketika posisi ideologi Islam tidak diterapkan dalam tatanan kehidupan baik individu dan bernegara.
Serangan terhadap Islam tentu bukan hal yang baru. Bahkan sejak Perang Salib, dendam kaum kafir terhadap Islam hingga kini masih membara. Berbagai narasi yang diopinikan barat ditujukan pada Islam dan kaum muslimin, seperti penistaan terhadap Islam, moderasi beragama, hingga menggoreng isu radikalisme. Apalagi setelah isu terorisme digulirkan sejak peristiwa peledakan Gedung WTC di AS beberapa tahun lalu. Serangan selalu mengarah kepada Islam dan kaum muslim. Tujuannya sama, ingin menyingkirkan Islam secara total sebagai ideologi dan sistem dari arena kehidupan.
Sejak awal barat memandang Islam adalah musuh utama yang mengancam kedudukan mereka dan ideologi mereka. Mereka menganggap bahwa Islam sebagai ideologi sangat berbahaya bagi masa depan ideologi kapitalisme global. Karena itu, berbagai upaya mereka lakukan untuk mengkambinghitamkan Islam. Agar Islam tidak diusung sebagai sebuah ideologi oleh umatnya, cukup Islam hanya dipahami sebagai ibadah ritual belaka.
Maka dari itu, jika menaruh harapan kepada sistem kapitalisme, maka sama halnya menaruh harapan kepada manusia, hanya akan menuai rasa kecewa. Jika menginginkan problem kehidupan terselesaikan dalam sistem bobrok ini hanya lah ilusi.
Oleh karena itu, hanya Islam ideologi yang sahih yang mampu menyelesaikan problem dunia. Ideologi Islam dibangun berlandaskan akal yang mewajibkan kaum muslim mengimani adanya Allah, kenabian Muhammad Saw. dan kemukjizatan Al-Qur'an Al-Karim dengan menggunakan akalnya. Selain kaum muslim diwajibkan untuk mengimani Allah, dan kenabian Muhammad Saw. serta kemukjizatan Al-Quran dengan menggunakan akalnya. Kaum muslim juga diwajibkan untuk beriman kepada yang gaib. Sesuatu yang gaib adalah yang tidak tampak wujudnya. Namun, semua itu harus diyakini oleh kaum muslim dengan keberadaan akalnya dan juga dikuatkan oleh dalil-dalil yang bersumber dari Al-Quran dan hadis mutawatir tentang keberadaan yang gaib itu.
Adapun dari segi kesesuaian dengan fitrah, maka ideologi Islam sesuai dengan fitrah manusia. Sebab, Ideologi Islam meyakini adanya agama dan kewajiban merealisasikan syariat Islam itu dalam kehidupan. Dengan demikian, umatnya akan menjalankan kehidupan yang sesuai dengan perintah dan larangan Allah.
Sementara, untuk merealisasikan ideologi Islam secara totalitas butuh sebuah negara yang mengembannya. Karena hanya dengan adanya negara, syariat Islam akan mampu diterapkan secara totalitas.
Negara inilah yang dikenal dengan khilafah. Khilafah adalah kepemimpinan umum, yang menerapkan syariat Islam secara totalitas. Mendapat jaminan dari Allah akan mampu merealisasikan tujuan bernegara, yakni mewujudkan masyarakat yang sejahtera.
Beberapa aspek yang menjadi landasan khilafah dalam menerapkan Islam. Yaitu,
• Konstitusi yang bersumber atas syariat Islam yakni dari Allah yang Maha Mengetahui dan Maha Adil. Syariat Islam ini mencakup seluruh aspek kehidupan manusia dalam tatanan bernegara yaitu, politik, ekonomi, sosial, budaya serta pertahanan dan keamanan.
• Kepemimpinan dalam sistem Islam harus kemudian memahami urusan politik dan bagaimana mengaturnya. Sebab, tanggung jawab pemimpin sangat besar bukan hanya di dunia namun juga di akhirat. Maka dengan begitu Islam menetapkan seorang pemimpin dilihat pribadi yang kuat, ketakwaan dan berpengetahuan serta mampu menjalankan tugas negara dengan baik. Dengan ketakwaanya tersebut, pemimpin akan dihiasi rasa takut untuk melakukan tindakan yang menyeleweng dan zalim terhadap rakyatnya.
• Adanya kesatuan komando oleh khilafah sebagai pelaksana kebijakan urusan dalam negeri, dan hubungan luar negeri, layanan publik, industri, dan militer yang menjadi tugas khalifah untuk mengelola. Pelaksanaan tersebut juga dibantu oleh pembantu khalifah (Mu'awin) dan sekretariat negara khilafah. (Syeikh. Taqiyuddin an-Nabhani, Ajhizah ad-Dawlah al-Khilafah).
Oleh karena itu, dengan menerapkan ideologi Islam dalam bingkai khilafah akan mampu menyelesaikan problem dunia saat ini.
Wallahualam Bishawwab.
Tag Terpopuler
Paradoks Seruan R20 dan Kontraterorisme Deradikalisasi
PMI
Sunday, December 04, 2022 | Sunday, December 04, 2022 WIB
Last Updated
2022-12-03T23:36:05Z
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment