Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Mewujudkan Ikhlas secara Hakiki

Monday, December 12, 2022 | Monday, December 12, 2022 WIB Last Updated 2022-12-12T14:06:07Z

Oleh  :  Ummu Raihan 

Dilansir dari Muslimah News- Ikhlas dalam ketaatan seorang hamba kepada Robbnya adalah meninggalkan sikap ria. Ikhlas termasuk amalan hati yang tidak bisa diketahui, kecuali oleh seorang hamba dan Tuhannya.

Urusan ikhlas ini merupakan sesuatu yang samar dan tercampur baur, sehingga ia harus meneliti secara serius alasan mendasar ketika ia melaksanakan ketaatan itu.

Apabila ia menemukan bahwa dirinya telah melaksanakan ketaatan tersebut semata-mata karena Allah, maka iapun telah menjadi orang yang ikhlas. Sedangkan apabila ia menemukan dirinya ternyata melaksanakan ketaatan karena tujuan duniawi, maka ia telah menjadi orang yang ria. Nafsiyah (pola sikap) seperti ini membutuhkan penanganan secara serius yang bisa jadi membutuhkan waktu yang lama.

Salah Satu Tanda-Tanda Ikhlas: Menyembunyikan Kebaikan Diri

Apabila seseorang telah sampai pada martabat, di mana ia lebih suka menyembunyikan segala kebaikannya, maka hal itu menandakan dirinya telah ikhlas.

Berkata Al - Quthurbi “Al-Hasan pernah ditanya tentang ikhlas dan ria, kemudian ia berkata, ‘Di antara tanda keikhlasan adalah jika engkau suka menyembunyikan kebaikanmu dan tidak suka menyembunyikan kesalahanmu.'”

Berkata Abu Yusuf dalam kitab Al-Kharaj, “Mas’ar telah memberitahukan kepadaku dari Saad bin Ibrahim, ia berkata, ‘Mereka (para sahabat) menghampiri seorang laki-laki pada perang Al-Qadisiyah. Laki-laki itu tangan dan kakinya terputus, ia sedang memeriksa pasukan seraya membacakan firman Allah,

مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا

“Mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu, Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.” (QS an-Nisa: 69)

Berkatalah seseorang kepada laki-laki itu, “Siapa engkau wahai hamba Allah?’ Ia berkata, ‘Aku adalah seseorang dari kaum Anshar. Laki-laki itu tidak mau menyebutkan namanya.'”


Dalil Al-Qur’an Wajibnya Ikhlas


Ikhlas hukumnya wajib. Dalilnya sangat banyak, baik dari Al-Qur'an maupun Sunah Rasulullah SAW sebagai pedoman bagi kaum muslimin. 

Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya.” (QS az-Zumar: 2)

أَلاَ لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (QS az-Zumar: 3)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

“Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama.'” (QS az-Zumar: 11)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَهُ دِينِي

“Katakanlah: ‘Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku.'” (QS az-Zumar: 14)

Kita dapat melihat dengan jelas bahwa pada ayat-ayat di atas merupakan seruan kepada Rasulullah saw., hanya saja sudah dimaklumi bahwa seruan kepada Rasulullah saw. juga merupakan seruan kepada umatnya.

Adapun dalil wajibnya ikhlas dari Sunah adalah,

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi saw. bersabda,

«نَضَّرَ اللهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلاَثٌ لاَ يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلاَصُ الْعَمَلِ ِللهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ»

“Allah akan menerangi orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia menyadarinya, menjaganya, dan menyampaikannya. Terkadang ada orang yang membawa pengetahuan kepada orang yang lebih tahu darinya. Ada tiga perkara yang menyebabkan hati seorang muslim tidak dirasuki sifat dengki, yaitu ikhlas beramal karena Allah, menasihati para pemimipin kaum muslim, dan senantiasa ada dalam jemaah al-muslimin. Karena dakwah akan menyelimuti dari belakang mereka. (HR at-Tirmidzi dan as-Syafi’i)

Dari Ubay bin Kaab ra., ia berkata dalam Al-Mukhtarah isnadnya hasan. Rasulullah saw. bersabda,

«بَشِّرْ هَذِهِ اْلأُمَّةَ بِالسَّنَاءِ وَالرِّفْعَةِ وَالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ فِي اْلأَرْضِ فَمَنْ عَمِلَ عَمَلَ اْلآخِرَةِ لِلدُّنْيَا لَمْ يَكُنْ لَهُ فِي اْلآخِرَةِ نَصِيبٌ»

“Berikanlah kabar gembira kepada umat ini dengan kemegahan, keluhuran, pertolongan, dan keteguhan di muka bumi. Siapa saja dari umat ini yang melaksanakan amal akhirat untuk dunianya, maka kelak di akhirat ia tidak akan mendapatkan bagian apa pun.” (HR Ahmad)

Dari Anas, ia berkata hadis ini sahih memenuhi syarat Bukhari Muslim, Rasulullah saw. bersabda,

«مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى اْلإِخْلَاصِ ِللهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللهُ عَنْهُ رَاضٍ»

“Barang siapa yang meninggalkan dunia ini (wafat) dengan membawa keikhlasan karena Allah Swt. saja, ia tidak menyekutukan Allah sedikit pun, ia melaksanakan salat dan menunaikan zakat, maka ia telah meninggalkan dunia ini dengan membawa rida Allah.” (HR Ibnu Majah)

Dari Abi Umamah Al-Bahili riwayat An-Nasai dan Abu Daud, Rasulullah saw. bersabda:

«إِنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ»

Sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal, kecuali amal yang dilaksanakan dengan ikhlas dan dilakukan karena mengharap rida Allah semata.” (HR An-Nasa'i dan Abu Daud)

Sebagai seorang hamba yang ingin mewujudkan keikhlasan dalam setiap amal, tentulah harus sesuai tuntunan di dalam syariat Islam. 

Meskipun tidaklah semudah mengucapkan ataupun membalikkan telapak tangan. Akan tetapi, agar setiap amal perbuatan hamba ketika dilakukan dengan ikhlas merupakan indikasi bahwa Allah akan menerima amal seorang hamba. 

Terlebih lagi, seorang hamba juga dituntut dalam beramal haruslah sesuai syariat yang diwajibkan maupun yang diharamkan. 
Dengan begitu, amal seorang hamba akan menjadi amal yang terbaik di sisi Robbnya.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update