(Aktivis Mahasiswa)
Kalaulah memang kita berpisah Itu bukan suratan Mungkin ini lebih baik agar kau puas membagi cinta Pulangkan saja Aku pada ibuku atau ayahku…Petikan lagu milik Betharia Sonata tersebut merupakan single Hits pada tahun 1987, nampaknya lirik tersebut telah menjelma menjadi kenyataan mengiringi perjalanan kehidupan rumah tangga bangsa Indonesia termasuk didalamnya kaum muslimin. Bagaimana tidak fakta kerapuhan keluarga semakin tahun semakin memprihatinkan sebut saja Angka perceraian di kota Bontang untuk tahun 2022 meningkat tajam. Peningkatan dilatarbelakangi berbagai faktor. Paling banyak karena ekonomi dan pertengkaran. Total 695 gugatan. Sebagai informasi, rata-rata usia kasus perceraian berkisar 25–35 tahun. Usia yang terbilang muda untuk mengakhiri pernikahan. Kasus perceraian terbanyak di kota Bontang didominasi oleh Kecamatan Bontang Utara.
Pengadilan Agama semakin ramai didatangi para Wanita yang ingin bebas dari belenggu penderitaan, alasannya pun bermacam macam, namun rata rata dari mereka menyandang status Mahmud Abbas (Mamah muda anak baru satu) indahnya pernikahan seperti angan angan yang harus ditelan pahit saat bulan madu harus berganti menjadi pahitnya empedu. Bukankah sejatinya pernikahan itu menentramkan? Menyenangkan apabila dijalani sehingga kesakinahan benar benar terwujud. Dari rasa cinta yang ada diciptakan belas kasihan kepada sesama namun nampaknya belas kasihan telah berubah menjadi arogan sehingga patutlah kita bertanya mengapa ketahanan keluarga dimasa ini hanyalah angan angan semata?.
Keluarga Harmonis,khayalan semata dalam sistem kapitalis
Kapitalisme jadi biang kerok dari semua ini, penerapan sistem kehidupan yang sangat jauh dari pada Islam membuat manusia bebas berlaku semaunya tanpa tau aturan dan batasan, tanpa tau mana kewajiban. Ketahanan keluarga Indonesia kian rentan akibat gempuran pemikiran yang membahayakan. Hal tersebut Tampak dari tuntutan keadilan bagi perempuan untuk disamakan dengan laki-laki. Padahal pemikiran tersebut diimpor dari Barat ke Indonesia, salah satu pintu masuknya adalah pemberdayaan perempuan dalam ekonomi.
Menyebabkan kaum ibu tampil bak tulang punggung padahal dibalik semua itu hak anak atas kasih sayang ibunya terampas. Peran istri sebagai sahabat suami juga tidak dapat dijalankan dengan utuh. Berujunglah pada konflik yang memicu terjadi perceraian serta tindak kekerasan bagi keduanya. Mirisnya Keharmonisan rumah tangga dipertaruhkan demi mencukupi kebutuhan ekonomi. Sekalipun hukum bekerja tetaplah mubah bagi Wanita
Padahal perempuan hanya diperbudak dalam menyukseskan Tujuan Pembanguan Berkelanjutan , Sustainable Development Goals (SDGs) yang hanya membuat banyak anak-anak terlantar. Rapuhnya ketahanan keluarga juga karena terinfeksi pemikiran liberalisme. Menjadikan standar hidup keluarga bukan halal dan haram, tetapi apa yang disukai dan tidak disukai. Perilaku bebas membuat rasa takut akan dosa menurun. Sebut saja istilah ‘kecelakaan’ pada Wanita yang hamil di luar nikah. Dan penyuka sesame jenis yang hanya dianggap sebagai perbedaan kecenderungan seksual, bukan abnormalitas.
Pemerintah kita hanya berfokus pada literasi digital, bukannya menutup situs situs yang berdampak negatif. Nyatanya semuanit juga yang menggempur ketahanan keluarga Indonesia diserang hancur lebur hingga tak berdaya. Lengkaplah penderitaan keluarga yang berlangsung sistemik. Sistem kapitalisme yang terus melanggengkan semua itu terjadi pada keluarga di Indonesia. Terbukti gagal,dan abai menjadi perisai institusi terkecil yakni keluarga.
Keluarga Samawa,Berbasis sistem Islam yang sempurna
Nikah sehidup sesurga, adalah idaman kita semua tak hanya berjumpa didunia melainkan Kembali menapaki jannahNya. Maka untuk mewujudkan pernikahantersebut dibutuhkan aturan yang bersendikan ketaatan ketaatan kepada Allah Swt saja. Dalam Islam keluarga merupakan tumpuan yang utama dan pertama dalam mempersiapkan generasi penerus peradaban.
Dan ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi Putra putrinya. Bayangkan saja bagaimana jika pendidik anak yang pertama dan utama ini meninggalkan peran vitalnya? Bagaimana ketahanan keluarga bisa terwujud? Perempuan yang turun dalam dunia kerja saat ini akibat tidak tercapainya kesejahteraan keluarga sebagai buah dari sistem ekonomi kapitalis. sistem kehidupan yang diatur dengan kapitalisme tak jarang membuat Wanita tergiur dalam perangkap pemberdayaan perempuan. Seolah manis namun menghinakan Wanita .Islam telah memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dengan menetapkan beban nafkah dan peran sebagi kepala keluarga ada pada pundak suami, bukan pada dirinya. Sehingga dia tidak usah bersusah payah bekerja ke luar rumah dengan menghadapi berbagai resiko sebagaimana yang dialami perempuan-perempuan bekerja dalam sistem kapitalis sekarang ini. negara akan memfasilitasi para suami untuk mendapatkan mata pencaharian tegas terhadap mereka yang lalai dan tidak bertanggung jawab. Juga mewajibkan para wali perempuan untuk menafkahi, jika suami wafat atau tidak adaDan jika pihak-pihak yang berkewajiban menafkahi memang tidak ada, maka negaralah yang akan menjamin pemenuhan kebutuhan para ibu.
Sejarah Islam adalah sesuatu yang harus kita yakininyang harus kita kagumi sebagaimana jejak pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz, kesejahteraan bukan isapan jempol belaka. Khalifah Umar menggunakan dana di baitulmal (kas negara) untuk memakmurkan dan menyejahterakan rakyatnya. Masyarakat yang sakit disediakan pengobatan gratis. Khalifah Umar II pun memperbaiki pelayanan di dinas pos, sehingga semua berlangsung lancar. walhasil rakyatnya benar-benar hidup sejahtera. Tidak ditemukan lagi orang yang mengalami kekurangan pangan dan kesusahan. Berkat pengelolaan dana baitulmal yang brilian dan benar, sampai-sampai mereka kesulitan lagi mencari orang miskin yang harus disantuni.Subhanallah Ini semua hanya terwujud dalam sistem Islam yang sempurna (Wallahu’alam Bishawab)

No comments:
Post a Comment