Notification

×

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Terpopuler

Ancaman Resesi 2023 Apakah G20 Menjadi Solusi?

Saturday, December 03, 2022 | Saturday, December 03, 2022 WIB Last Updated 2022-12-03T07:43:10Z

Oleh: Ummu Syuhada

Gelaran KTT G20 yang baru saja usai digadang-gadang akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Diperkirakan manfaat G20 yang berlangsung secara fisik diklaim akan meningkatkan PDB nasional hingga Rp7,4 triliun. Akankah hal tersebut terealisasi? Atau hanya menjadi perkiraan semata? Di sisi lain gelaran G20 telah menelan biaya yang cukup fantastis. Yakni, mencapai Rp674,8 miliar.

Menyikapi adanya klaim pertumbuhan ekonomi membaik di tengah pengeluaran G20 yang tinggi, Pengamat Ekonomi Nida Sa’adah, SE.,MEI.,Ak. mengatakan bahwa membaiknya situasi ekonomi tidak membawa pengaruh, selama hanya terjadi di kalangan tertentu.

Konferensi Tingkat Tinggi G20 yang dilaksanakan di Bali resmi ditutup pada tanggal 16 November lalu oleh Presiden Jokowi. Dilansir dari CNN Indonesia (17/11/22), terdapat 10 daftar kesepakatan ekonomi yang dihasilkan dari KTT G20. Kesepakatan tersebut meliputi, 1) Dana Pandemi, 2) Energy Transition Mechanism (ETM) Country Platform, 3) Resilience and Sustainability Trust (RST) oleh IMF, 4) Bali Konpendium, 5) Global Blended Finance, 6) Transaksi Digital Bank Sentral ASEAN, 7) Investasi AS ke Indonesia, 8) Investasi CNGR Advanced Material China, 9) Investasi Jepang dan Inggris di MRT Jakarta, dan 10) Investasi Turki di Produksi Bus Listrik. 

Dari sepuluh hasil kesepakatan tersebut, ada beberapa poin yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Pertama, poin Resilience and Sustainability Trust (RST) oleh IMF. RST ini merupakan dana yang dipinjamkan oleh negara-negara anggota IMF yang memiliki Special Drawing Right atau Hak Penarikan Khusus untuk negara-negara yang dinilai krisis dan membutuhkan. Mereka yang memberikan dana itu meyakini tidak akan menggunakan dana tersebut dalam waktu dekat sehingga bisa digunakan terlebih dahulu oleh negara lain. (Kemenkeu.go.id, 16/11/22)

Kesepakatan tersebut tentunya terlihat sangat mulia dan bisa menjadi salah satu jalan keluar dari permasalahan negara-negara miskin tersebut. Namun, jika diusut lebih jauh, apakah memang benar dana yang dihasilkan dari volunter negara-negara anggota IMF tersebut menjadi solusi bagi negara yang sedang krisis? Dalam sistem kapitalis seperti saat ini, asas yang digunakan adalah asas keuntungan. Maka, tidak mungkin negara-negara yang menyumbangkan dana tersebut murni hanya meminjamkan. Tidak ada yang gratis dalam sistem kapitalis. Tentunya, dana pinjaman tersebut memiliki bunga yang tidak sedikit, bahkan mungkin total angkanya bisa lebih besar dari dana awal. Pinjaman dana tersebut merupakan solusi sementara. Bahkan tidak bisa disebut solusi, karena menimbulkan permasalahan baru yang lebih pelik. Negara yang sedang krisis bukannya sembuh, justru semakin tercekik.

Ada beberapa catatan kritis terkait janji G20.PDB meningkat ini masih perkiraan, fakta di lapangan tidak selalu berjalan secara mulus. Produk domestik bruto atau dalam bahasa Inggris gross domestic product adalah nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. PDB merupakan salah satu metode untuk menghitung pendapatan nasional. Jika barang yang diproduksi meningkat, maka pendapatan juga meningkat. Padahal namanya memproduksi barang, ada kalanya laku dengan cepat dan ada kalanya lambat. Jual beli tidak terlepas dari untung dan rugi. Dalam kacamata kapitalisme seolah-olah ketika ada bisnis, harus untung, tidak boleh rugi. Ketika produksi barang meningkat otomatis keuntungan meningkat. Padahal secara riil, apa yang diproduksi tidak selalu laku terjual semua. Bahkan yang berkongsi pun, maunya cuma untung, ketika rugi, pihak lain tidak mau ikut menanggung. Justru minta ganti rugi berdasarkan kerugian yang terjadi. Begitulah gambaran kerja sama dalam lingkup kapitalisme, cenderung semena-mena berdasarkan kepentingan mereka.

presidensi G20 sulit untuk diwujudkan dalam naungan kapitalisme global. Dikutip dari laman bi.go.id, tema Presidensi G20 Indonesia 2022.
Bagaimana mereka bisa bangkit, jika mereka didikte untuk mengeksploitasi kekayaan mereka supaya dikelola oleh kapitalis asing? Bagaimana mereka bisa pilih, jika mereka dipaksa membangun infrastruktur dengan dana utangan yang biayanya fantastis? Bagaimana mereka bisa tumbuh, jika mereka pasar bebas yang dibuka berpotensi mematikan industri dalam negeri? Bagaimana mereka bisa berkembang jika utang yang selama digelontorkan mengandung bunga tinggi yang harus dibayar. Oleh karena itu, sejatinya tema gelaran ini utopis untuk diwujudkan di tengah cengkeraman kapitalisme global merajalela di negeri ini.

Harapan akan bebas dari ancaman resesi seolah-olah hanya isapan jempol. Karena, ancaman resesi itu nyata karena ekonomi kapitalisme berpotensi terjadi krisis, resesi, hingga depresi. Resesi dunia tidak terlepas dari sistem ekonomi kapitalisme. Cirinya adalah majunya sektor non riil baik di perbankan maupun di pasar modal. Jumlah dana dari sektor rumah tangga dan perusahaan disimpan dalam berbagai bentuk surat berharga, diantaranya saham, obligasi dan bentuk sekuritas lainnya. Dampaknya perputaran uang di sektor non riil akan jauh lebih besar jika dibandingkan dengan perputaran sektor riil.

Menurut pakar ekonomi Islam H. Dwi Condro Triono, Ph,D. dalam majalah Al Waie rubrik hiwar "Kapitalisme Global Bakal Bangkrut". Ada sekitar 90 persen uang yang berputar di sektor non riil, berarti uang yang berputar di sektor riil hanya sekitar 10 persen. Besarnya pemasukan yang berada di sektor non riil ini memunculkan fenomena economy bubble (gelembung ekonomi). Perekonomian akan tumbuh melambung tinggi, namun sangat rentan.

Jadi bisa dipahami, ketika sektor ekonomi non riil terguncang, maka surat-surat berharga tersebut akan langsung musnah dan pasar modal akan jatuh. Sementara itu satu pasar modal satu negara dengan negara lain memiliki hubungan. Sehingga jika terjadi kejatuhan pasar modal di satu negara seperti Amerika Serikat misalnya tentu akan langsung menjadi beban secara global terhadap seluruh perekonomian di dunia. Karenanya dunia akan senantiasa dalam kegelapan, jika kapitalisme masih berkuasa. Karena cacat bawaan kapitalisme tidak dapat diobati secara tuntas, kecuali sistem ini harus diganti secara keseluruhan dengan sistem yang terbukti membawa stabilitas ekonomi dunia.

Sejatinya jika kita menginginkan solusi tuntas bagi problem saat ini maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah mencabut akar persoalannya yaitu Kapitalisme. Sistem Kapitalisme ini telah membuat manusia menjadi makhluk individuallis yang serakah dan hanya mementingkan materi semata. Untuk mendapatkan hal tersebut maka berbagai upaya akan dilakukan tanpa memandang apakah itu bisa menimbulkan kerusakan bagi dunia atau tidak. Selain itu Kapitalisme dengan sistem Sekulerismenya telah menjadikan manusia menjadi makhluk yang tidak beradab. Menyingkirkan aturan Tuhan.pada kehidupannya dan menggantinya dengan liberalisme. Ini membuat manusia menjadi individu yang berfikir bebas semaunya tanpa memandang orang lain.

Ini berbeda dengan sistem Islam. Allah SWT telah menurunkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam. Ini sebagaimana dalam Al Qur'an surat Al Anbiya' ayat 107 yang artinya,

"Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam".

Jelas di dalamnya bahwa Allah SWT menurunkan Islam sebagai rahmat. Maka menyalahkan Islam sebagai salah satu problem dunia saat ini jelas bertentangan dengan ayat ini. Maka sikap kita sebagai muslim tidak terjebak dengan narasi tersebut yang membuat kita justru harus mengikuti apa yang diinginkan Barat atas kaum muslimin.

Harta kekayaan umum milik rakyat seperti sumber daya alam akan dikelola negara dan hasilnya diberikan kepada rakyat. Begitu juga dengan harta kekayaan milik negara, seperti kharaj, usyur, jizyah, ghanimah dan sebagainya akan dikelola khilafah. Sistem ini adalah sistem khilafah yang menerapkan hukum-hukum syariat termasuk dalam sistem perekonomiannya. Untuk menyelesaikan krisis ekonomi khilafah akan menata kembali sektor ekonomi riil.

Islam juga tidak memungkiri bisa terjadi krisis akibat bencana atau peperangan karena faktor thawari (emergency), bukan karena faktor siklus tahunan, maka salah satu pengeluaran pos kepemilikan negara dan umum dialokasikan untuk krisis tersebut. Jika tidak ada dana dari baitul mal, maka khilafah akan mendorong kaum Muslimin untuk bersedakah dan bisa juga mengambil dharibah (pajak) secara temporal. Demikian solusi yang ditawarkan oleh khilafah untuk mengatasi gejolak ekonomi saat ini.

Swasembada Pangan untuk Kejayaan Islam. Kapitalisme Sekuler Mendegradasi Moral Pemuda
Tantangan Pemuda, dari Deradikalisasi hingga Pembajakan Potensi
Konferensi Tingkat Tinggi G20 ini hanya pertemuan bualan yang dibuat oleh kapitalis guna menjerat negara-negara berkembang untuk diambil keuntungannya. Alih-alih mencari solusi problematika dunia. Berbeda halnya dengan Islam, yang mensolusikan suatu permasalahan dengan konkret tanpa kebohongan. Islam dengan sistem ekonomi nonribanya akan mampu meningkatkan produktivitas ekonomi manusia. Penerapan politik dagang dan politik kemandirian industri dan pertanian akan menjadikan negara mampu mengamankan produk dalam negeri sehingga tidak bergantung pada negara lain. Islam juga akan menggunakan sistem moneter dinar dan dirham sehingga aman dari inflasi dan menghasilkan keuntungan yang riil.

Wallahua’lam.

No comments:

Post a Comment

×
Berita Terbaru Update