Pengasuh Majelis Taklim
Bulan Oktober lalu, dunia dikejutkan oleh dua kejadian besar yang merenggut ratusan korban jiwa. Kasus tragedi Kanjuruhan dan pesta Halloween di Itaewon. Mirisnya, ratusan korban jiwa ini meregang nyawa untuk kegiatan yang sifatnya bersenang-senang dan tidak ada manfaatnya. Pemerintah pun merespon dengan cepat terhadap apa yang terjadi di Itaewon, "Indonesia Bersama Rakyat Korsel." Padahal, ketika tragedi Kanjuruhan, pernyataan tersebut tidak terucap dari penguasa. Wajar, ketika masyarakat menpertanyakan perlakuan berbeda tersebut, yang mengesankan pemerintah tidak peduli kepada rakyatnya sendiri.
Seperti dikutip dari (bbc.com, 30/10/2022). Sebanyak 154 orang dikabarkan tewas dan 82 orang terluka akibat kerumunan masa pada pesta Halloween di Distrik Itaewon, Kota Seoul, Korea Selatan. Ada lebih dari 100.000 orang mendatangi tempat itu dalam waktu bersamaan sehingga membuat masa berdesakan, tergencet, dan terinjak-injak. Kepolisian Korea Selatan masih melakukan penyelidikan untuk mencari penyebab pengunjung acara pesta Halloween berkumpul di satu ruas jalan sempit pada Sabtu malam itu.
Mendamba peminpin yang peduli terhadap rakyat adalah mimpi dalam sistem demokrasi. Meskipun pemerintah telah memberi santunan dan menggratiskan biaya pengobatan untuk korban, namun tidak sebanding dengan hilangnya ratusan lebih nyawa dengan sia-sia karena kelalaian penguasa dan rengrengannya. Rakyat pun menanti sampai hari ini pernyataan "Penguasa Bersama Korban Tragedi Kanjuruhan," seperti pernyataan kepada tragedi Itaewon. Peminpin tidak serius untuk mengurus dan melindungi rakyat dari segala sesuatu yang membahayakan termasuk terenggutnya jiwa tanpa hak.
Sistem kapitalisme demokrasi yang diterapkan saat ini tidak bisa memberikan solusi kepemimpinan bagi umat. Justru umat menjadi korban dari ambisi kepentingan para penguasanya. Pemimpin lebih berpihak kepada oligarki yang telah mengantarkannya ke tampuk kekuasaan. Tinggallah rakyat dengan segala penderitaan yang menimpanya. Umat pun tidak bisa menolak ketika aturan yang diberlakukan adalah hukum-hukum buatan otak manusia yang lemah dan terbatas. Sungguh, demokrasi telah menimbulkan berbagai konflik dan kerusakan di berbagai bidang.
Pemimpin dambaan umat adalah pemimpin yang sangat memperhatikan agama dan keselamatan orang-orang yang dipimpinnya. Baik keselamatan fisik (jiwa) ataupun keselamatan dari masuknya budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya Indonesia bahkan bertentangan dengan syariat Islam. Berbeda dengan pemimpin di negeri ini. Pemerintah memberikan ijin untuk acara dendang bergoyang walaupun menghentikan acara tersebut ketika terjadi kekacauan. Mirisnya, di acara tersebut disertai kemaksiatan (minuman keras). Fakta ini menambah potret buram penguasa yang abai terhadap pembentukan karakter generasi yang seharusnya mereka didik menjadi pemuda yang saleh dan salehah.
Kepedulian pemimpin juga bukan sebatas di bibir atau retorika semata, tapi benar-benar kepedulian dari dalam hati yang diwujudkan dalam semua kebijakannya sebagai pemimpin. Pemimpin dalam Islam juga tidak memikirkan keselamatan untuk hidup di dunia saja, tetapi berpikir jauh untuk keselamatan di akhirat juga. Makanya, seorang pemimpin wajib berpedoman kepada Al-Quran dan As-Sunnah dalam melayani rakyatnya.
Seorang pemimpin juga harus memberikan kasih sayang kepada umat yang dipimpinnya. Pemimpin dambaan umat wajib memiliki prinsip "haram menyakiti perasaan umat." Semua kebijakannya adalah demi kepentingan rakyat, bukan untuk kepentingan pribadi. Cintanya kepada umat sama besar cintanya kepada diri dan keluarganya.
Salah satu sikap pemimpin yang lebih mencintai umatnya dibandingkan yang lain, terjadi di masa kepemimpinan khalifah Umar bin Khaththab raddhiyallahu 'anhu. Khalifah Umar dengan senang hati memanggul gandum untuk rakyatnya sebagai wujud kepedulian dan rasa tanggung jawabnya. Oleh karena itu, hanya mimpi kalau hari ini kita mendamba pemimpin yang peduli kepada rakyat. Hanya dalam penerapan Islam kafah dalam bingkai khilafah pemimpin peduli rakyat bisa terwujud.
Wallahu a'lam bishshawab

No comments:
Post a Comment