Oleh: Asmawati
(Aktivis Dakwah)
Baru baru ini telah terjadi tragedi yang mengiris hati akibat kerumunan massa yang di luar kendali. Perayaan yang seharusnya penuh keceriaan berujung terenggutnya ratusan nyawa. Kejadian pilu ini tidak hanya terjadi di negeri ginseng saja, namun juga terjadi di negeri lain, terutama di negeri tercinta ini.
Perayaan Halloween di Itaewon, Korsel yang biasanya berupa perayaan meriah, berujung duka. Berakhirnya pandemi COVID 19 membuat antusias mengikuti event perayaan dan pesta meningkat pesat. Ratusan ribu remaja usia 20 tahunan memadati jalan Itaewon untuk merayakan Halloween. Setidaknya ada 154 orang meninggal akibat berdesak-desakan di satu ruas jalan sempit di ibukota, Seoul pada sabtu malam (29/10). Dan setidaknya ada 82 orang terluka dalam insiden di kawasan hiburan malam Itaewon yang menggelar perayaan Halloween pertama sejak Covid.
Penyebab tewas nya 151 orang di tragedi Itaewon yaitu jumlah kerumunan dalam jumlah yang besar yang memadati kawasan itu. Dalam laporan BBC, tak sedikit warga yang hadir ke Itaewon, Korea Selatan untuk merayakan Halloween diprediksi mencapai 100.000 orang. Banyak saksi mata yang menggambarkan banyak orang yang berupaya melarikan diri dari kerumunan yang menyesakkan tersebut. namun karena jalan yang sempit maka saling berdesak desakan. Yang di depan terjatuh sedangkan yang dibelakang mendorong sehingga bertumpuk satu sama lain. Benar benar mengerikan. Hingga banyak korban yang berjatuhan sehingga sulit untuk bernafas, bahkan para pihak kepolisian dan medis mengalami kesulitan untuk menolong korban di tengah kerumunan itu.
Ungkapan Duka Cita yang Tidak Berimbang
Festival Halloween di Itaewon begitu mengerikan. Terlihat antrean panjang korban dalam kantong jenazah yang ditutupi selimut di trotoar jalan. Sehingga menarik rasa keprihatinan dari berbagai negara dan tak luput juga termasuk negara kita Indonesia. Presiden Joko Widodo menyampaikan bela sungkawa atas tragedi maut di Distrik Itaewon, Seoul, Korea selatan atau Korsel. Jokowi mengatakan Indonesia bersama rakyat Korea Selatan (Korsel). Pernyataan ini disampaikan melalui akun twitter nya seperti dilihat dari (detik.com). Minggu 30/10/2022.
Ungkapan duka cita seorang penguasa sebenarnya memang tidak salah. Namun ironisnya, sikap penguasa justru lebih prihatin dan lebih peduli kepada rakyat negara lain dibandingkan rakyat sendiri. Bagaimana tidak, Sebelum tragedi Halloween di Itaewon, beberapa waktu lalu public juga dihadapkan dengan tragedi Kanjuruhan yang juga memakan banyak korban meninggal dalam jumlah yang tak sedikit alias besar. Anehnya penguasa justru saling berlepas tangan dari tanggung jawabnya. Aparat keamanan justru malah mencari dalih untuk menutupi kesalahannya. Bahkan tidak ada pernyataan pemerintah bersama korban kanjuruhan.
Mirisnya lagi penguasa membiarkan perayaan serupa di Indonesia. Padahal perayaan tersebut adalah budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya di masyarakat kita. Bukankah masyarakat Indonesia dihimbau untuk mengagungkan dan mencintai budaya dalam negeri? Lantas apa sisi positif dari perayaan Halloween untuk bangsa ini?
Halloween: Budaya Asing Tidak Berfaedah
Perayaan Halloween bukan budaya masyarakat pribumi, bukan pula dari bumi Pertiwi, juga tidak sesuai dengan aqidah mayoritas penduduk negeri. Bahkan malah tidak memberikan manfaat terhadap pembangunan karakter pemuda masa depan. Sebab perayaan semacam itu hanya mengedepankan kesenangan dan hura-hura semata. Tidak jarang juga perayaan tersebut diikuti dengan konsumsi miras, narkoba, freesex dan sebagainya.
Beginilah potret penguasa yang abai akan rasa empati, simpati, keadilan serta luput dari proses pembinaan karakter para generasi. Padahal generasi bangsa yang nantinya akan membangun peradaban negeri. Hal ini memang tidak lepas dari sistem kepemimpinan saat ini yang berada di bawah sekulerisme - kapitalisme.
Kecerobohan negara juga berkontribusi dalam tragedi yang memakan ratusan korban jiwa, termasuk tragedi Kanjuruhan di negeri ini. Jelas harus ada pihak yang bertanggung jawab dan menjadi tersangka. Pertanyaannya, akankah negara benar-benar mengusut tuntas peristiwa ini hingga ke pucuk pimpinan? Publik pun sangsi. Pihak yang paling mudah dipersalahkan adalah rakyat kecil.
Dalam pelaksanaan setiap event rakyat, peran negara sangat penting untuk memberikan rasa aman dan nyaman bagi penikmatnya. Fungsi aparat keamanan ialah mengayomi dan memberi perlindungan kepada rakyat, bukan malah memberi rasa takut dan bertindak kasar lagi keras.
Dari Abu Huraira ra bahwa Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya al imam (khalifah) itu perisai , dimana (orang orang) akan berperang dibelakangnya dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)nya ". (HR. Muttafaqun ' alaihi).

No comments:
Post a Comment