Oleh: Amrillah Silviana, S. E
(Entrepreneur Muslim)
Kasus kekerasan berujung nyawa melayang kian marak. Pelakunya pun bukan lagi orang jauh. Melainkan keluarga sendiri, teman keseharian, bahkan jamaah satu komunitas. Seolah keamanan itu barang langka. Bahkan nyawa pun sampai tak ada harganya. Hingga dengan mudahnya seseorang menghabisi nyawa orang lain yang bahkan ia mengenalnya.
Sebut saja seorang suami yang tega membakar istrinya sendiri di hadapan anak-anaknya di Depok. Anak usia 12 tahun yang ditusuk hingga meninggal sepulang mengaji di Cimahi. Bayi 4 bulan yang dibanting hingga kepalanya cedera parah dan meninggal oleh pamannya sendiri di Maros. Ada juga seorang perempuan yang dicekik oleh temannya sendiri yang kebetulann seorang pendeta di Jakarta dengan motif dendam. Dan masih banyak lagi jika dirunut ke belakang.
Sungguh miris sekali. Masyarakat dengan mudahnya melakukan kekerasan karena tersulut amarah. Kekerasan bak kebiasaan yang mudah dan murah untuk dilakukan. Seolah hal ini sekarang menjadi tren. Padahal penyebabnya hanya masalah sepele saja. Walhasil timbul rasa kekhawatiran tersendiri. Kata aman seolah menjadi barang mahal di negeri ini. Apakah Negara telah gagal menjamin keamanan rakyatnya?
Atmosfer kekerasan sejatinya bukanlah fitrah manusia. Karena aslinya manusia menyukai kebaikan. Itu artinya ada suatu kondisi yang mengubah fitrah tersebut menjadi kebalikannya. Yakni sistem sosial yang menaungi lah yang menentukan ciri khas masyarakat yang hidup di dalamnya.
Dalam sistem sosial sekuleris kapitalistik saat ini, masyarakat tumbuh menjadi manusia-manusia individualis. Hal ini karena paham kebebasan individu dalam turunan sistem sosial ini telah mematikan sedikit demi sedikit rasa kepedulian terhadap orang lain. Yang penting tujuannya tercapai tanpa harus diganggu atau harus memperdulikan orang lain dalam mencapai tujuan tersebut. Bahkan tak perduli dosa dan kehidupan akhirat.
Meski suasana keimanan masih ada. Namun hal itu hanya terbatas di ruang-ruang privat. Atau hanya tersisa di dalam individu saja. Sehingga hal ini tidak berdampak besar di masyarakat. Sejatinya masyarakat bukan hanya kumpulan individu saja. Melainkan juga terbentuk oleh pemikiran, perasaan dan aturan sistem sosial yang ditegakkan Negara.
Sungguh sangat menyedihkan sekali jika maraknya kekerasan dan pembunuhan justru terjadi di negeri mayoritas muslim. Bagaimana tidak islam mengajarkan bahwa sesama muslim adalah saudara. Islam pun mengajarkan bahwa tertumpahnya darah seorang muslim ataupun kafir dzimmi yang tidak bersalah adalah dosa besar. Inilah mengapa keimanan level individu tak bisa menjamin baiknya masyarakat jika tidak dibarengi peran Negara menjaga keimanan level masyarakat.
Negara sudah seharusnya menjadi perisai pelindung rakyatnya. Sekaligus menjadi pendidik rakyatnya. Begitulah islam mengarahkan. Negara wajib menjamin keamanan rakyatnya dengan seperangkat struktur yang menjalankannya dengan penuh tanggung jawab dan memahami tugasnya sebagai amanah dari Allah SWT yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Negara pun wajib menjaga suasana keimanan dan ketakwaan terus menyelimuti kehidupan individu dan masyarakat. Dengan cara menyelenggarakan pendidikan berbasis islam dan penegakan aturan islam dalam kehidupan publik.
Dengan ini kebiasaan perduli dengan orang lain akan terbentuk sekaligus terjaga. Kesadaran hubungan diri dengan Sang Pencipta sebagai buah dari keimanan akan terpupuk dan tumbuh menguat. Masyarakat akan menjadikan amar ma’ruf nahiy munkar menjadi sebuah kebiasaan untuk saling menjaga. Sebagaimana sabda Rasulullah saw., “Agama adalah nasihat. Para sahabat bertanya, ‘Untuk siapa ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Bagi Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, serta pemimpin-pemimpin umat Islam dan juga bagi umat Islam seluruhnya.'” (HR Muslim). Sehingga nasihat bukan dipahami sebagai pemicu kekerasan.
Penguasa beserta aparat penegak hukum pun hadir dengan pengayoman penuh untuk mewujudkan ketertiban dan keamanan masyarakat. Bertindak secara adil dan cepat. Senantiasa hadir di saat apapun dibutuhkan. Rasulullah saw bersabda, “Barang siapa yang diangkat oleh Allah menjadi pemimpin bagi kaum Muslim, lalu ia menutupi dirinya tanpa memenuhi kebutuhan mereka, (menutup) perhatian terhadap mereka, dan kemiskinan mereka. Allah akan menutupi (diri-Nya), tanpa memenuhi kebutuhannya, perhatian kepadanya, dan kemiskinannya.” (HR Abu Dawud).
Insya Allah dengan mengembalikan peran Negara sebagaimana tuntunan islam maka akan bisa mengembalikan fitrah manusia yang diliputi kebaikan. Serta perannya dalam memberikan jaminan keamanan seluruh rakyatnya akan terwujud. Wallahu'alam bi shawab

No comments:
Post a Comment