Oleh: Siti Hajar
Aktivis Dakwah
Di antara perkara penting yang dihadapi manusia di dunia ini adalah bagaimana mendapatkan kehidupan yang layak, kebutuhan terpenuhi, bisa hidup aman, kesehatan, ekonomi dan pendidikan terjamin. Itu semua seharusnya bisa dirasakan oleh masyarakat apabila penguasa merasa bahwa ini merupakan kewajiban dan amanah yang harus dilaksanakan. Namun nyatanya tidak demikian, penguasa abai akan tanggung jawabnya mengurusi urusan rakyatnya. Rakyat tidak bisa berharap kepada penguasa, ibarat peribahasa "bagaikan pungguk merindukan bulan".
Tak hanya itu, kebutuhan dan keadilan seolah menjadi barang langka. Hanya bisa dirasakan masyarakat tertentu saja, Faktanya jauh dari kata kesejahteraan. Seperti yang terjadi di daerah Baduy, Kabupaten Lebak, Banten, enam warganya meninggal yang sebelumnya dianggap misteruis akhirnya terungkap karena penyakit tuberkulosis. (Serang, Kompas,com, 15/9/2022).
Begitu juga masalah ekonomi dialami oleh kebanyakan masyarakat di antaranya di Garut, seorang laki-laki bernama Undang (42) bernasib pilu, rumahnya dirobohkan oleh rentenir, Sabtu 10 September 2022 lalu karena warga Kampung Haur Seah, Cipicung, Banyuresmi ini tak bisa melunasi utang sang istri senilai Rp1,3 juta (www.detik.com).
Itulah salah satu kondisi rakyat yang hidup di sistem kapitalis, sistem yang cacat lagi buruk. Sangat menyedihkan sekali bukan! Negeri yang dikatakan sumber daya alam yang melimpah ruah, namun kondisi masyarakatnya miskin, masih jauh dari kata sejahtera. Kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan terabaikan. Masyarakat tak bisa berharap kebutuhannya terpenuhi jika masih berada dalam sistem kapitalis yang sudah terbukti gagal menciptakan kesejahteraan masyarakat. Bahkan sistem ini telah menyeret manusia kepeda penderitaan demi penderitaan yang tiada ujungnya.
Tentunya, penguasa yang adil lagi bijaksana mustahil lahir dari sistem yang cacat lagi buruk ini. Sistem kapitalisme tidak mampu mengatasi semua problematika. Yang ada malah semakin maraknya fenomena kerusakan sosial di masyarakat, semakin hari semakin tampak nyata di depan mata.
Oleh karenanya, apakah rakyat masih berharap dan tidak lelah dengan sistem kapitalisme ini? Lantas sistem apakah yang layak untuk menyejahterkan dan memenuhi semua kebutuhan rakyatnya? Tidak ada pilihan lain bagi umat ini kembali kepada sistem Islam. Faktanya, sejarah telah membuktikan selama 1.400 tahun Islam telah berjaya memimpin dunia membuat rakyatnya makmur dan sejahtera. Karena Islam memandang kesejahteraan adalah hak rakyat. Jaminan kesejahteraan bukan karena kebetulan, atau bersifat khayalan atau omongan belaka.
Oleh karenanya, dalam standar pandangan Islam masyarakat dikatakan sejahtera bila memenuhi dua kriteria: Pertama, terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Baik itu pangan, sandang, papan, pendidikan, maupun kesehatan. Kedua, terjaga dan terlindunginya agama, harta, jiwa, akal, dan kehormatan manusia.
Dalam Islam, penguasa/negara pun berperan sebagai pengatur agar kekayaan terdistribusi secara merata, hingga kesejahteraan rakyat dapat terwujud secara merata pula. Kepala negara dalam Islam (khalifah) harus mengatur sumber daya alam sebagai kepemilikan umum negara sesuai syariat Islam agar pengelolaannya bisa untuk kesejahteraan rakyat. Tidak seperti yang terjadi di negeri yang masih menerapkan sistem kapitalis.[]