Pegiat Literasi
Bencana banjir hampir bisa dipastikan terjadi setiap tahunnya. Beberapa titik yang dulunya tidak pernah tersentuh banjir, kini ikut merasakan deritanya. Wilayah terdampak banjir semakin meluas. Tak hanya kerugian materi, korban jiwa pun berjatuhan.
Seperti banjir yang melanda di sebagian wilayah Aceh Utara. Sedikitnya 12 kecamatan terdampak banjir. Hasil kaji cepat yang dapat dihimpun, terdapat 6.775 unit rumah terdampak. Kurang lebih 500 hektar lahan persawahan terendam. Selain itu 4 kantor pemerintahan terendam banjir termasuk 1 gedung fasilitas kesehatan dan 1 gedung sekolah. Selain curah hujan tinggi yang masih sering terjadi, banjir terjadi karena kondisi tanggul daerah aliran sungai (DAS) besar juga kehilangan kemampuan menampung debit air yang meningkat. (www.katadata.co.id, 16/10/2022)
Sedangkan baru-baru ini banjir di Jakarta telah menelan korban jiwa. Sebanyak tiga orang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19, Jakarta Selatan meninggal setelah tembok sekolah rubuh terkena banjir. Pada hari Kamis (6/10) pukul 14.50 WIB, terjadi luapan air saluran penghubung Pinang Kalijati yang berada di belakang sekolah. (www.katadata.co.id, 7/10/2022)
Secara umum banjir terjadi setelah curah hujan tinggi. Akhir-akhir ini semakin sering terjadi akibat cuaca ekstrem dan didukung oleh rusaknya lingkungan. Berkurangnya lahan hijau untuk penyerapan dan pembangunan yang serampangan tanpa analisa mengenai dampak lingkungan mengakibatkan banjir dan longsor di berbagai wilayah di Indonesia.
Seharusnya banjir tahunan bisa diantisipasi oleh pemerintah. Prioritas mitigasi bencana bisa dilakukan dengan analisa tata ruang yang jelas dan juga menjadikan faktor lingkungan sebagai pertimbangan utama. Pembangunan infrastruktur harus selaras dengan alam. Tidak boleh sampai mengancam keseimbangan lingkungan bahkan sampai merusaknya.
Selain kebijakan, yang tak kalah penting adalah faktor pemimpin. Seorang pemimpin atau pejabat publik yang amanah adalah mereka yang memiliki komitmen terhadap lingkungan. Mereka tidak akan mementingkan bagaimana caranya mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya, tetapi akan berpikir panjang demi kelestarian hidup ke depannya. Pemimpin seperti ini akan selalu mengutamakan kepentingan rakyatnya bukan malah berpihak pada korporasi.
Pemimpin yang amanah ada dalam sistem Islam dimana syariat Islam dijadikan satu-satunya sumber dari segala sumber hukum. Setiap amanah akan menuntut tanggung jawab penerimanya. Maka pemimpin yang amanah akan takut mendapat murka Allah jika setiap kebijakan yang diambilnya menyelisihi syariat.
Pemimpin yang amanah tidak akan mengijinkan eksploitasi sumber daya alam. Hutan sebagai SDA yang merupakan kepemilikan umum hanya akan dikelola oleh negara dan hasilnya akan dikembalikan sepenuhnya untuk kebutuhan rakyat. Memperhatikan tata kota sebelum melaksanakan pembangunan. Memperbaiki sistem drainase. Menggunakan energi terbarukan yang ramah lingkungan sehingga mampu mengurangi pemanasan global.
Maka jika sampai terjadi banjir, pemimpin atau pejabat akan segera melakukan mitigasi bencana serta berbagai tindakan penting untuk mencegah terjadinya banjir berulang. Wallahualam bissawab.
